K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
7. Dimana?


__ADS_3

#Dua bulan sebelumnya


Ujung-ujung jari seorang gadis sembilan belas tahun mulai bergerak. Bola matanya berkedut, berusaha mencari celah cahaya dari kegelapan yang terbatas dibalik kedua kelopaknya.


Dia mencium aroma ganggang laut. Dan deburan ombak.


Ia mendengar suara-suara asing yang bukan bahasa dari asalnya. Apakah ini surga? ataukah ia sedang berada dalam istana bawah laut seperti dalam legenda Nyi Roro Kidul? Ataukah dalam naungan dewa Neptunus, karena ia berada di perairan asing? Suara hatinya mencoba menerka-nerka keadaan, sebelum benar-benar membuka mata.


Kirana tak sanggup menahan rasa penasaran untuk segera mengetahui situasi yang nyata. Ia membuka perlahan segaris tipis. Cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela dari sudut ruang di dalam gubuk kecil. Langit-langit tanpa plafon, dan dinding kusam yang cat birunya mulai pudar oleh waktu.


Ada seorang anak berkulit hitam gelap. Lebih tepatnya coklat tua dan sedikit kemerahan akibat sering terbakar di bawah terik matahari. Matanya bulat-lebar berbinar ceria, sedang menatap wajahnya. Ia berteriak girang ketika Kirana tersadar dari pingsan selama dua hari.


“Mum, look! Dia sadar,” anak laki-laki itu berteriak keluar kamar penuh semangat dengan kaki tertatih-tatih menggunakan tongkat.


Kirana masih tak mengerti dengan bahasa asing tersebut. Ia sama tak mengerti dengan ruangan sederhana yang ditempatinya. Dua orang wanita dan anak laki-laki tersebut datang menghampirinya.


Salah satunya seorang wanita berusia 40-an, tubuhnya gemuk subur dan pendek, memakai kain yang dililitkan untuk menutupi kepala. Wanita satu lagi masih berusia lima belas tahun, tapi wajah dan tubuhnya seperti orang dewasa untuk ukuran gadis remaja Indonesia.


Sama persis dengan ibunya hanya saja dia kurus serta ada tahi lalat manis dihidung mancungnya. Warna kulit mereka sama, coklat tua sedikit kemerahan. Hampir sama dengan warna kulit orang Indonesia yang khas, sawo matang. Meski tentu saja lebih gelap. Memakai baju tipis tanpa lengan dan rok panjang yang melebar.


“Are you okay? My dear, akhirnya kamu membuka mata juga,” seru wanita gemuk tersebut sambil membuat tanda salib di dahi dan kedua lengannya, lalu segera memberi segelas air pada Kirana.


Tubuh Kirana gemetar, ia ketakutan. Ia bingung bukan main. Tatapan matanya tak fokus. Ia duduk lalu mendekap kedua lututnya. Kepalanya terasa pening.


Wanita gemuk itu berusaha menenangkan dengan memegang pundak Kirana. Namun, Kirana menangkis tangannya secara kasar. Ia sangat ketakutakan saat wanita itu dan dua orang lainnya berusaha mendekati.


“Machita. Please, go to doctor Smith. Ini mengerikan,” perintah wanita gemuk pada gadis yang disebut Machita.


***


Machita berlari kecil menuju rumah dokter Smith yang tak jauh dari rumahnya. Menuju pondok kecil yang berjarak lima puluh meter dari rumahnya. Rumah-rumah kayu sederhana dengan tembok bata berjajar rapi di pesisir pantai.


Musim semi kali ini, tak banyak pengunjung yang datang. Biasanya puncak kepadatan pantai ketika musim panas. Bule-bule berjemur asyik memenuhi pantai dengan bikini atau ombak yang semakin laku oleh peselancar.


Dokter Smith sedang melakukan penelitian di Prince of Wales Hospital di Randwick sekaligus bekerja paruh waktu disana, pria tiga puluh tahun berkebangsaan Amerika itu membeli sebuah pondok kecil dekat pantai Maroubra, New South Wales dan juga membantu praktek di Maroubra Medical Centre.


“Gadis cantik, jangan bermain di pantai untuk tiga hari ini, ya?” dokter Smith memberikan jari kelingkingnya.


Pasien berusia enam tahun itu tersenyum dan mengikatkan jari kelingkingnya ke kelingking dokter tampan tersebut sambil mengangguk.


“okey, doctor.”

__ADS_1


Dokter Smith mengelus rambut pirang pasien kecil itu, “Jika kamu melanggar janji, aku tidak akan pernah mengajarimu berselancar,” ia sedikit mengancam, agar demam ubur-ubur pasien cilik itu tak kambuh lagi.


“Yes doctor. I promise,” dan dalam sekejap sang pasien kecil dengan lancang mencium pipi dokter Smith.


“Rebecca. How dare you! ” sang ibu nampak marah dan malu.


Tapi Rebecca terlanjur melompat dari tempat tidur dan berdiri di dekat pintu sambil tersenyum puas meski kedua pipinya memerah.


“ I’m sorry,”


“No problem,” Dokter Smith tersenyum seraya mengantar mereka sampai keluar pintu.


Dokter Smith sebenarnya tidak membuka praktik di pondoknya. Karena ia tidak memiliki ijin untuk membuka praktik dirumah. Namun, karena penduduk sekitar pantai Maroubra jauh dari klinik ataupun rumah sakit, mereka sering meminta bantuan pada dokter Smith.


“Doctor Smith!!” teriak Machita. Dokter berkacamata itu menoleh. Machita ngos-ngosan menghampirinya. Dokter Smith keheranan melihat Machita banjir keringat.


***


Kirana mulai menyadari mereka bukan dari negaranya. Bahasa dan fisik mereka jelas berbeda. Lalu, apakah mereka seorang turis yang ada di Indonesia atau apakah ia yang berada di negara mereka? Kirana menggigil ketakutan. Ia berusaha bangkit untuk segera pergi.


Ketika berdiri, ia terjatuh.


Kaki kanannya dibalut perban begitupula dengan kepalanya. Ia tak peduli dengan rasa sakit yang luar biasa pada luka-luka di sekujur tubuhnya. Lebam, tergores, beberapa bagian kulitnya terbuka.


Otak Kirana tak bisa menerjemahkan bahasa dari wanita asing dihadapannya. Ia tampak depresi.


Dokter Smith membuka pintu tepat ketika ia akan keluar, sehingga menabraknya dan iapun terjatuh di depan pria tersebut.


“Are you okay?” dokter Smith berjongkok melihatnya. Kirana menatap lama wajah dokter Smith seolah meminta pertolongan dan ia ingin segera kembali. Dokter Smith nampak tertegun melihat wajahnya.


“Nona, kamu baik-baik saja?” dokter Smith mengulang pertanyaannya. Kirana menggeleng.


Dokter Smith memegang bahu Kirana yang gemetar, ia memapah Kirana untuk berjalan.


“Aku akan memeriksamu.”


Entah mengapa Kirana begitu mematuhi dokter Smith. Dia merasa nyaman, aman dan percaya dengan pria asing yang sekian detik baru ditemuinya. Setelah memeriksa kondisi Kirana, dokter Smith membisikkan sesuatu pada madam Joyce yang mengatakan bahwa Kirana sedang dalam kondisi depresi dan mengalami trauma. Mereka harus sabar merawatnya. Madam Joyce nampak prihatin, tapi ia mengangguk setuju.


“Percayalah padaku dan orang-orang di rumah ini. Kami tidak tahu tentang identitasmu, sampai kau sehat kembali. Keluarga Maroon akan merawatmu. Jadi, mereka adalah keluargamu sekarang.” Dokter Smith menepuk bahu Kirana.


Ia memberikan sebungkus obat pada madam Joyce dan mengintruksikan tentang aturan minum. Setelah dokter Smith pergi, Machita dan Paulo berdiri dihadapan Kirana dengan senyum lebar.

__ADS_1


“What’s your name? Kamu berasal dari mana?” tanya gadis lima belas tahun itu. Kirana menekuk kedua kakinya dan kembali bersendekap menggeleng-gelengkan kepala, ketakutan.


“Dia butuh istirahat. Jangan ajak dia banyak bicara,” madam Joyce menyela dari dapur. Machita dan Paulo nampak kecewa.


“No problem. Hai, i’m Paulo. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan.” Paulo mengulurkan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang tongkat. Kirana terdiam.


Ia malah merapatkan tubuhnya. Paulo tersenyum mengerti.


“Apa dia tidak bisa bahasa Inggris?” tanya Machita pada Paulo.


“Mungkin,” jawab Paulo sambil mengangkat bahu.


***


Kirana menangis terisak. Ia tak mengerti kenapa berada di tempat asing dengan orang-orang dan bahasa asing. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemana orang-orang Indonesia, keluarga dan teman-temannya? ia seolah menjadi alien di rumah kecil tersebut, karena paling berbeda.


Pukul sembilan malam, rumah nampak sepi. Madam Joyce dan Machita berada di bar menjadi pramusaji. Paulo tengah tertidur pulas akibat kelelahan.


Kirana berjalan tertatih-tatih mencari pintu keluar. Ia menahan rasa sakit luar biasa di kaki kanannya. Sepertinya patah tulang. Tapi, Kirana tak peduli. Dia harus keluar dan pergi dari rumah itu. Rok yang dikenakannya terlalu panjang hingga sering membuatnya nyaris terjatuh akibat tersandung.


Ketika keluar dari rumah, keadaan sangat gelap, hanya ada lampu-lampu redup penerang jalan yang digantungkan dari satu pohon ke pohon lain. Rumah madam Joyce berjarak seratus lima puluh meter dari bibir pantai.


Kaki Kirana melangkah menuju pantai tanpa dikomando oleh otak. Pungung kaki yang telanjang terjilat oleh ombak kecil, ia tersadar dihadapannya adalah laut yang membentang luas.


Angin laut berdesir kencang.


Hingga rambut panjang Kirana yang tergerai tak terawat berkibar-kibar. Ia bersendekap menahan angin yang menampar tubuhnya.


Sejenak, bayang-bayang ketika ia terombang-ambing di tengah laut dan hanya bergantung hidup pada pelampung terlihat begitu cepat. Tubuh Kirana gemetar ketakutan. Kakinya tak mampu lagi untuk melangkah. Ia jatuh, lalu pingsan.


Dokter Smith akan pergi menuju bar. Ia ada janji bertemu kawan lama dari Kanada disana. Langkah dokter Smith terhenti, saat melihat orang tergeletak di bibir pantai. Ia mengerutkan kening penasaran. Mungkin saja orang mabuk.


Dokter Smith mengabaikan orang tersebut dan hendak melanjutkan langkah kakinya. Akan tetapi, ia berhenti. Orang tersebut akan dalam bahaya jika dibiarkan semalaman di bibir pantai yang tinggal sejengkal menyentuh air. Ia bisa terseret ombak. Begitu pikirnya.


Gelisah dan rasa kemanusiaan menuntut dirinya untuk sekedar melihat kondisi orang tersebut. Setidaknya membawa ke bawah pohon dan jauh dari jangkauan air pasang.


Dokter Smith berbalik arah dan mendekati orang tersebut.


Matanya terbelalak ketika tiga meter dari posisi Kirana tergeletak. Ternyata pasien dari rumah madam Joyce. Ia mempercepat langkahnya menghampiri tubuh gadis mungil itu.


“Hei.. bangunlah. Kamu bisa mendengarkanku? Kamu baik-baik saja?” dokter Smith menepuk pelan pipi Kirana, berusaha membangunkan. Ia memeriksa denyut nadi Kirana. Karena kondisi yang melemah, dokter Smith segera menggendong Kirana menuju pondok kecilnya.

__ADS_1


***


__ADS_2