K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
41. Ebony dan Ivory


__ADS_3

Sudah dua hari Kirana tidak masuk kerja di restoran dan juga mengajar les piano. Ia hanya mengurung diri dalam kamar hotel.


Dua hari itu pula, Haikal tak keluar dari ruang kerjanya sambil terus meratapi kenangan lama antara dirinya dan Kezia.


Bu Anna, dengan segala koneksi, kekuasaan dan uang yang dimiliki segera menutup mulut para pemilik media agar anak buah mereka tidak lagi memuat berita atau mengincar tentang Kirana. Lagipula, keluarga Kirana tidak pernah mengambil sepeserpun uang asuransi yang diberikan.


Meski terdapat beberapa akun gosip di media sosial yang usil dan iseng mencari-cari serta membahas gosip tentang korban kecelakaan pesawat Kencana Air tersebut, tidak separah pada malam liputan dan esok harinya.


Pagi itu, Kirana memutuskan untuk pergi ke rumah bu Anna. Sebelumnya dia pergi ke apartemen Haikal terlebih dahulu untuk mengemasi pakaian.


Ibu dan adiknya sedang menemui pihak asuransi dan maskapai pesawat Kencana Air. Mereka menjelaskan tentang keselamatan dan keberadaan Kirana Badar.


Pihak asuransi akhirnya mencabut hak klaim dua milyar sebagai asuransi jiwa, namun menggantinya dengan uang lima ratus juta rupiah sebagai asuransi kesehatan. Karena bagaimanapun juga, Kirana menderita kerugian materiil dan non materiil adanya kecelakaan tersebut.


Pihak asuransi membutuhkan tanda tangan Kirana, sedangkan pihak maskapai ingin bertemu dengannya secara khusus.


Sayangnya, Kirana tidak memiliki identitas apapun. Sedangkan sertifikat kematiannya telah dikeluarkan lima tahun yang lalu. Mama dan adiknya belum selesai mengurus kependudukan baru baginya.


Bu Anna dan Kirana saling membisu untuk beberapa waktu.


“Bagaimana kabar adik dan mama kamu?” tanya bu Anna berbasa-basi memecah kebisuan. Kirana tersenyum manggut-manggut memberi jawaban.


Suasana kembali hening. Ruang tamu besar dengan desain eropa klasik dan interior vintage, semakin membuat suasana makin sepi. Niko sedang sekolah, sedangkan Neny berbelanja. Haikal masih di ruang kerjanya dalam keremangan cahaya.


Tiba-tiba Kirana mengambil sesuatu dalam tasnya yaitu sebuah kunci apartemen dan selembar kertas. Bu Anna membaca.


“Saya minta maaf atas semua insiden yang terjadi. Saya ingin mengembalikan kunci apartemen Haikal. Saya akan pergi ke Bandung bersama mama dan adik. Saya mengundurkan diri dari restoran. Sekali lagi saya minta maaf atas segalanya, dan terima kasih atas kebaikan ibu selama ini kepada saya.” Tangan bu Anna bergetar. Ia menatap Kirana.


“Kenapa secepat ini kamu mengundurkan diri? Kapan kamu akan pergi ke Bandung?” ia begitu berat hati melepas wanita yang mulai diterima keberadaannya sebagai kekasih Haikal.


“Besok pagi.” Tulis Kirana.


“Saya sudah mendengar semuanya baik dari Haikal maupun manager Siska. Saya rasa.. kamu jangan melarikan diri dari masalah ini, maksud saya kamu tidak perlu sampai meninggalkan Jakarta dan pekerjaan. Lagipula semua ini bukan salah kamu,” kata bu Anna, ia juga sempat syok sama seperti Haikal.


Sedih kehilangan Kezia dan sakit saat mengetahui kenyataan bahwa Kirana menjadi penyebab tidak langsung kematian calon menantunya.


Kirana tersenyum berterima kasih atas bentuk perhatian bu Anna. Ia bangkit dan memohon diri untuk pergi.


“Tung..gu dulu. Apa kamu.. tidak ingin bertemu Haikal? Saya pikir mungkin ada yang harus diselesaikan diantara kalian berdua,” ujar bu Anna berusaha mencegah Kirana pergi begitu saja.


Bu Anna mengantar Kirana menuju ruang kerja Haikal. Bu Anna mengetuk pintu tiga kali, tak ada sahutan. Ia masuk dan memberi tahu kalau Kirana datang menjenguknya. Setelah bu Anna melenggang pergi, dengan ragu Kirana masuk ke ruang kerja yang gelap.


Cahaya matahari tak masuk secara sempurna karena gorden yang hanya dibuka seperempat. Haikal sedang duduk di kursi dan menunduk menatap bingkai foto itu. Bahkan saat Kirana masuk melangkah menghampirinya, ia tetap tak mendongak.

__ADS_1


Kirana menelan ludah.


Ia harus kuat dan tegar.


Kali ini tak boleh ada airmata.


Bisu membuatnya tak bisa berbuat dan berbicara banyak. Padahal ada hal-hal yang ingin sekali dijelaskan. Sebuah permintaan maaf dan terima kasih.


Keheningan menyergap dalam ruang kerja. Tak berlama-lama Kirana menyodorkan sebuah amplop putih. lalu, ia berjalan keluar meninggalkan Haikal yang masih enggan menatapnya. Saat Kirana menutup pintu, barulah Haikal mendongak melihat sisa-sisa kehadirannya.


***


“Mau sampai kapan kamu terpuruk lagi seperti ini?” bu Anna menyuguhkan teh dan kue di meja. Ia melirik amplop berisi surat yang belum terbaca.


“Kenapa tidak dibaca? Sebegitu bencikah kamu dengan Kirana? Mama tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu Haikal. Tidak seorangpun yang ingin mengalami kecelakaan. Kamu boleh sedih kehilangan Kezia, tapi lihatlah Kirana! Dia harus kehilangan guru dan teman-temannya, bagaimana dia bisa menjalani hidup selama lima tahun tanpa dihantui rasa bersalah karena dia sendiri masih hidup? Tapi dia tetap berusaha hidup dengan baik. Itu haknya. Kirana bahkan harus kehilangan suaranya akibat trauma luar biasa itu. Dia seorang penyanyi. Impiannya hancur dalam sekejap. Disusul dengan kematian papa dan eyangnya. Selama lima tahun Kirana hidup sebatang kara membawa trauma tragis dan perihnya kehidupan. Begitu juga kamu yang selama empat tahun terpuruk akibat kehilangan Kezia,” Suara Bu Anna bergetar nyaris berteriak. Ia menghela napas. Ia menghapus sudut-sudut matanya.


“Lihatlah! Ini takdir kalian. Kehadiran Kirana membuat putra mama kembali semangat hidup. Sedangkan kehadiran kamu sangat berarti bagi dia. Kesendiriannya menjadi tak berarti. Kenapa harus memungkiri kalau kalian saling mencintai?” bu Anna berusaha mengendalikan intonasi suara. Haikal masih terdiam.


“Mama tidak meminta kamu melupakan masa lalu, akan tetapi kamu punya masa sekarang dan masa depan yang harus dijalani. Kezia tidak akan pernah memaafkan kalian berdua yang terlalu egois saling menyalahkan diri sendiri. Kematiannya akan menjadi sia-sia, dan pada akhirnya dialah yang merasa bersalah atas kematiannya sendiri. Besok pagi Kirana akan pergi ke Bandung. Dia sudah berhenti bekerja. Dan dia menitipkan ini.” Bu Anna menaruh kunci apartemen Haikal.


Bu Anna sudah diambang pintu ruang kerja Haikal. Sebelum benar-benar keluar, ia menoleh dan berkata, “Jemputlah kebahagian dengan caramu sendiri, Nak. Asal sesuai nurani dan kebenaran.”


***


Kirana sudah membereskan semua barang-barangnya dibantu Citra dan mamanya. Mobil baru Citra lengkap dengan supir pribadi telah bersiap.


Bu manager yang tengah membantu berkemas, bisa langsung akrab dengan sisa keluarga Kirana. Terlebih ia begitu mengidolakan acara Coseam dan menginterogasi Citra hampir seharian. Bu Siska, ibarat ibu pengganti bagi Kirana setelah madam Joyce.


Meskipun awal-awal pertemanan mereka tidak begitu baik dan sebatas hubungan kerja, namun semakin lama, bu Siska banyak mencurahkan isi hatinya ketika Kirana menjadi asistennya.


Haikal sedang menyortir berkas-berkas kantor. Dan saat akan mengambil berkas lain dalam tasnya, ia menemukan surat Kirana. Dengan ragu Haikal membuka amplop tersebut.


**Jakarta, 24 Oktober 2017


Kebisuan ini membuatku tak bisa berbuat banyak. Sebelumnya, aku berterima kasih atas semua yang kamu berikan.


Waktu, perhatian, kasih sayang dan cinta.


Mungkin saat ini kamu sedang membenciku. Tapi, aku masih punya hutang untuk bercerita tentang siapa diriku agar tidak ada rahasia yang tersembunyi lagi dalam kebisuanku.


Aku mempunyai impian besar menjadi penyanyi seriosa dan musisi klasik seperti halnya Kezia, guruku. Dia adalah wanita panutan bagiku, dan aku sangat mengaguminya.


Kami lebih dari sekedar guru dan murid, tapi telah menjadi sahabat bahkan saudara.

__ADS_1


Meskipun aku adalah murid kesayangannya, aku tidak akan pernah seperti Kezia. Aku tidak akan bisa menjadi Kezia, karena Kezia terlalu sempurna dalam segala hal.


Sebaliknya, aku hanyalah Kirana. Gadis bodoh, naif, ambisius dan penuh ego dengan mimpi-mimpi yang tiada henti.


Kecelakaan pesawat itu membuat hidup dan impianku hancur, sehingga aku harus berpura-pura hilang ingatan dan sebuah keluarga di pesisir pantai Maroubra yang menemukanku, merawatku seperti keluarga.


Aku begitu takut, malu dan tak sanggup kembali ke Jakarta menemui keluargaku. Apa yang terjadi dengan seorang penyanyi seriosa yang tiba-tiba bisu? Tak ada muka dalam diri Kirana. Selama empat tahun di Australia aku hidup dengan topeng. Aku membuang jauh-jauh masa lalu dan identitas asliku.


Tiap malam selalu terhantui oleh bayang-bayang kecelakaan yang merupakan mimpi buruk nyata. Beberapa kali aku mencoba untuk bunuh diri akibat rasa takut, bersalah dan hampanya hidup yang kujalani.


Tapi kemudian kamu datang, Haikal.


Saat malam tahun baru di Sydney. Saat sekian lama aku berdiam dan merasa begitu kesepian, kau membuatku sadar bahwa aku harus mengakhiri hidup palsuku. Nama Kirana yang sempat menghilang selama empat tahun, aku tulis dengan pasti ke resepsionis perusahaan tempatmu, dimana aku menitipkan jas.


Entah skenario apa yang sedang direncanakan Tuhan, kita dipertemukan kembali. Dan kamu memberikanku sebuah harapan untuk tersenyum, untuk membuat diriku berharga. Kini, aku memang bukan siapa-siapa. Aku hanyalah pengecut yang lari akan masa silam.


Lima tahun sudah telah berlalu. Satu hal yang ingin aku katakan untukmu Haikal, cinta tidak pernah salah, ia seperti ebony dan ivory dalam piano. Ketika sebuah penderitaan lahir akan cinta, ia beriringan dengan kebahagiaan.


Aku berterima kasih karenamu, aku bisa merasakan nikmatnya bernapas, indahnya pagi dan tak menyesali dengan semua keadaanku saat ini. Kamu memberikan kenangan yang tak pernah aku impikan.


Aku meminta maaf bahwa ternyata akulah penyebab batalnya pernikahan kalian dan atas kematian Kezia. Aku minta maaf membuatmu menderita kehilangan tunangan yang sangat berharga. Aku minta maaf tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya hingga membuat kita menjalin asmara yang mungkin terlarang. Aku minta maaf membuatmu kecewa.


Dan... aku minta maaf telah hadir dalam kehidupanmu, kehidupan Kezia serta kehidupan kalian.


Kini, aku hanya akan hidup dari dua hal, cinta yang pernah kau beri dan tuts-tuts pi


ano yang akan menemani hari-hariku. Semoga kamu menemukan kembali hangatnya kebahagiaan.


Salam Kasih**,


 


Kirana Badar


Haikal menelan ludah.


Surat panjang Kirana seolah mewakili seluruh kebisuannya. Haikal telah membuat keputusan salah. Mamanya benar, Kirana juga punya hak untuk melanjutkan hidup. Dia dan Kirana juga berhak memiliki masa depan bersama. Ia tak menyangka bahwa rupanya derita batin dan fisik yang dialami Kirana begitu mengerikan.


Haikal merasa malu pada dirinya sendiri yang terus menyalahi takdir yang menimpa dirinya. Sedangkan ada seorang wanita muda berusia 24 tahun yang menjalani hidup begitu menderita sepanjang empat tahun lamanya.


Haikal melihat arloji. 08.30.


Ia segera keluar kantor dan mengambil mobilnya. Haikal bermain klakson dengan kesal akibat macet. Tentu saja, karena masih tergolong pagi dan suasana kantoran baru dimulai. tak heran jika Jakarta masih saja macet di beberapa lokasi. Haikal tak sabaran, ia harus segera menuju hotel tempat Kirana dan keluarganya menginap. Ia berharap tidak telat semenitpun menemui Kirana.

__ADS_1


***


__ADS_2