
Haikal telah menunggu Kirana berhenti bermain piano. Kirana berjalan mendekat ke arah Haikal yang sedang duduk di salah satu meja pengunjung.
Apa kabar?” tanya Haikal saat menemui Kirana di restoran.
“Baik. Kamu?” Kirana tersenyum bahagia melihat kekasih hatinya yang kembali dari Bali untuk waktu yang lama.
“Ya... seperti yang kamu lihat sekarang. Udah makan?” Haikal memegang tangan Kirana dan menciumnya.
Kirana menggeleng.
“Wajah kamu semakin kurusan dan pucat. Apa karena kangen?” Haikal menggoda. Kirana tertawa kecil.
“Maukah anda makan malam denganku, nona?” Haikal sedikit membungkukkan badan. Kirana tersipu.
Ia menggenggam jemari Haikal beranjak keluar restoran.
Semenjak insiden di pantai Kuta dengan Sarah, Haikal jaga jarak dengan sepupunya karena ia mulai sadar akan kekhawatiran serta kecemburuan Kirana beberapa waktu lalu sangat beralasan.
Semenjak itu pula, ia tak mau hubungannya dengan Kirana terganggu oleh siapapun. Kini, justru ia semakin tak bisa mengalihkan pandangan daru wanita tunawicara berlesung pipi di sebelahnya.
Mereka makan malam di restoran Indonesia yang sederhana namun spesial, karena Haikal telah menyewa restoran tersebut hanya untuk mereka berdua. Lilin-lilin dalam bambu dan bunyi air mancur serta iringan lagu klasik menambah suasana tradisional tersebut menjadi romantis.
“Kirana... maukah kamu bercerita tentang masa lalumu?” tanya Haikal di tengah-tengah makan malam. Haikal bukan tipe orang yang suka mengusik masa lalu maupun privsi orang lain, namun ucapan Sarah waktu itu sangat mengganggu pikirannya.
Iapun penasaran dengan seluruh kisah hidup Kirana. Karena baginya itu jadi sangat spesial. Sangat konyol jika ia menghabiskan hari tanpa tahu banyak tentang gadis yang selalu membuat hatinya berdebar itu.
Kirana meletakkan sendok garpunya. Kedua tangannya saling menggenggam akibat gemetar. Kenapa Haikal harus mengungkit hal ini lagi?
“Ada apa?” Haikal khawatir. Kirana menggeleng.
Sesuatu tidak menyenangkan menyekat tenggorokannya. Dengan tangan yang masih gemetar ia meraih minumannya. Haikal mengerutkan kening. Kirana meletakkan kembali gelas minuman dan Haikal memegang tangannya.
“Maaf, kalau aku membuatmu tidak nyaman. Aku tidak akan memaksa kamu tentang hal ini lagi, sampai kamu yang siap untuk bercerita sendiri.”
Kirana menghela napas. Ia memang tidak ingin membuka lembaran menyakitkan itu, ia seolah ingin menghilangkan saja sosok Kirana yang dahulu kala dan cukup menjadi Kirana gadis bisu, miskin, seorang pianis restoran Prancis dan gadis yang mencintai Haikal.
Tapi, tak dapat dipungkiri ia ingin berbagi dengan pria yang dicintainya kini.
Haikal mungkin akan menghiraukan masa lalunya, tapi Kirana terlalu malu dan menyakitkan mengingat serta mengulang kisah terdahulu.
Tidak.
Ia harus bercerita juga, apa gunanya seorang kekasih jika ia tak bisa saling berbagi, jika ia harus menanggung masa lalunya seorang diri, jika setiap malam ia harus bermimpi buruk karena rahasia yang terpendam bertahun-tahun begitu mempengaruhi hidupnya.
Ia akan menceritakan semuanya, masa kecilnya, keluarganya, bakatnya dan kecelakaan itu yang pada akhirnya membuat ia terdampar di sebuah benua asing.
“Tidak apa-apa,” Kirana berbicara melalui jemarinya. Haikal mengeja.
"Ada banyak yang ingin aku ceritakan. Maukah kamu mendengarnya?” lanjut Kirana. Haikal mengangguk semangat.
Kirana tersenyum senang melihat Haikal yang tertarik akan kehidupannya.
Yah, memang benar, ia tak boleh terus berlari dari masa lalu itu.
Bagaimanapun juga, masa lalu adalah bagian dari kehidupannya. Kirana bingung memulai dari mana. Ia tak mungkin bercerita melalui bahasa isyarat karena begitu panjangnya dan ia khawatir Haikal tak sepenuhnya mengerti. Kirana mengambil notes kecilnya dan mulai menulis sesuatu.
__ADS_1
“Namaku Kirana Badar. Jakarta, 12 Juli 1994. Ayahku seorang mantan musisi era 70-an dan ibuku wanita karir. Aku mempunyai adik perempuan Citra." Kirana menyerahkan kertas kecil yang baru ditulisnya.
Haikal membaca dan tersenyum. Kirana melanjutkan menulis lagi.
Kring...kring... tiba-tiba handphone Haikal berdering.
“Maaf, sebentar ya,” kata Haikal pada Kirana. Kirana berhenti menulis. “Iya ma? Apa? Niko di rumah sakit?iya..iya..aku kesana sekarang.” Haikal menutup handphone.
“Ada apa?”
“Niko terkena typus. Dia sekarang ada di rumah sakit. Maaf Kirana, aku harus ke sana. Mama dan kak Neny membutuhkanku sekarang. Aku akan mengantarmu pulang dulu.”
“Aku ikut.”
“Baiklah.”
***
Rumah sakit berjarak sepuluh kilometer dari tempat mereka makan malam. Disana Neny sedang menangis dalam pelukan bu Anna. Ada juga Sarah dan Adit. Haikal dan Kirana terengah-engah.
“Bagaimana?” tanya Haikal khawatir.
“Untungnya ada Adit dan Sarah yang dengan cepat bawa ke rumah sakit,” jawab bu Anna.
“Terima kasih ya,” Haikal pada Adit.
Adit tersenyum mengangguk. Sebenarnya kejadiannya tak disengaja, ketika ia hendak mengembalikan syal Sarah yang tertinggal di mobilnya ke rumah bu Anna dan saat itu Niko tiba-tiba pingsan. Sarah juga baru saja tiba di rumah sakit. Seolah perpisahan yang terjadi di bandara tak berlaku.
Ketika Haikal meminta penjelasan pada sang mama mengenai kronologi sakitnya Niko, dokter keluar dari ruang IGD.
“Bagaimana, Dok?” tanya Neny.
“Niko... ini mama sayang,”
“Pa..pa,” lirih Niko.
“Apa?”
“Pa..pa. Niko kangen papa. Kapan papa pulang? Ayo kita buat pesta,” ujar Niko. Semua saling menatap satu sama lain.
“Iya... papa tadi sudah mama telpon, dan besok segera pulang. Makanya Niko harus cepat sembuh supaya bisa main sama papa.”
“Oh ya?” nada Niko berubah riang. “Kalau gitu kita harus adakan pesta menyambut papa, Ma. Niko mau latihan piano lagi supaya bisa nunjukin ke papa. Kak Kirana mau kan ngajarin Niko lagu baru buat pesta?”
Semua pandangan tertuju pada Kirana. Kirana tergugup, tapi iapun mengangguk setuju.
“Makanya Niko harus sembuh dulu, baru bisa latihan.”
“Besok pasti juga udah sembuh kok, Om.” sahut Niko penuh semangat seolah lupa akan sakitnya. Semua tertawa lega.
***
Satu minggu akhirnya Niko keluar dari rumah sakit dan kembali sehat. Meskipun dia terlihat semakin kurus dan lemah. Papa Niko telah kembali ke Jakarta beberapa hari lalu. Dan Niko segera ingin mengadakan pesta. Selama tiga hari Kirana kembali menjadi guru les privat piano Niko.
“Pasti kamu capek?” tanya Haikal membantu Kirana menata puding di piring untuk dessert makan malam di rumahnya. Kirana tersenyum menggeleng, ia senang bisa semakin akrab dengan keluarga bu Anna. Haikal memberikan sebuah kunci.
__ADS_1
“Apa ini?” Kirana heran.
“Kunci,” jawab Haikal ringan.
“Aku tahu ini kunci. Tapi kunci apa dan untuk apa?” Kirana mendesak.
“Itu kunci apartemenku. Mulai sekarang kamu bisa pakai. Aku gak bisa lihat kamu tinggal di gudang restoran seperti itu,” jawab Haikal. Kirana menggeleng dan mengembalikan kunci apartemen ke tangan Haikal.
“Aku baik-baik saja dan nyaman tinggal disana. Kamu gak perlu khawatir. Lagi pula apa kata orang jika aku menempati apartemen kamu?”
“Tapi aku yang gak baik-baik saja, Sayang,” Haikal memegang kedua bahu Kirana. “Tidak Kirana, dengar dulu. Aku gak bisa membiarkan kamu hidup dan tinggal di tempat yang lebih cocok untuk pembantu. Disana kamu tidak aman dan nyaman. Apa salahnya jika orang yang kujaga bisa tidur di tempat yang lebih baik? Lagipula apartemen itu kosong karena aku tinggal di rumah mama. Dan sekali lagi, jangan perdulikan perkataan orang-orang. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kita. Jangan menolak, aku mohon. Kalau tidak aku akan menciummu sekarang,” Haikal tersenyum nakal membuat Kirana menepuk bahunya.
Kirana menatap lekat pria yang dicintainya itu. Ia tak mau merepotkan orang lain, bahkan meski itu Haikal sendiri.
“Bagaimana?” Haikal memaksa.
Kirana menarik napas panjang. Ia akhirnya mengangguk setuju. Haikal tersenyum lega. Ia memeluk Kirana dengan hangat.
“Terima kasih ya. Aku lebih tenang sekarang,” bisik Haikal.
Di balik pintu, Sarah menguping dengan hati dongkol. Tangannya mengepal kesal.
“Kalau aku tidak bisa memiliki kamu Haikal, bahkan gadis bisu itupun juga tidak akan bisa. Tak kan ku biarkan hanya aku yang sakit hati,” kata Sarah dalam hati.
***
Esok paginya, Haikal telah bersiap membantu Kirana mengemasi barang-barang dan memindahkannya ke apartemen. Bu manager melepas sedih, karena itu artinya ia tak setiap saat melihat Kirana. Kirana telah berganti profesi sebagai pemain piano restoran tetap selain guru privat Niko. Dan hal itu membuat bu manager kehilangan asistennya.
“Ibu jangan sedih, saya tiap malam juga masih bekerja disini.” Tulis Kirana.
“Iya sih, tapi jadi tidak ada yang menemani saya kemana-mana. Nasib kamu beruntung, ada seorang pria tampan, kaya dan baik hati yang menjaga kamu sekarang. Jangan bilang bahwa kamu sebatang kara lagi. Semoga hubungan kalian bisa berlanjut ke pernikahan,” nasihat bu manager. Kirana tersipu malu mendengar kata pernikahan. Ia bahkan tak pernah memimpikannya.
“Semuanya sudah selesai,” kata Haikal menghampiri mereka berdua.
“Jaga dia baik-baik ya,” pesan bu manager kepada Haikal, seolah ucapan seorang ibu kepada kekasih putrinya. Haikal menggenggam tangan Kirana dengan erat.
“Tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain menjaganya,” ujar Haikal.
Bu manager ikut berbahagia, karena dia tahu persis bagaimana sosok Kirana dan bagaimana ia bisa membuat Haikal move on dari keterpurukan masa lalu oleh wanita yang telah lebih dulu dicintainya.
***
“Bagaimana?” tanya Sarah, mengintai dari dalam mobilnya. Ia melihat Haikal dan Kirana masuk ke dalam apartemen membawa beberapa tas.
“Ini berkas-berkasnya. Agak susah karena identitasnya kurang jelas dan harus mencari-cari dokumen lama masa lalunya,” jawab seorang pria bertopi di sebelahnya.
“Good job. Silahkan pergi,” perintah Sarah. Pria bertopi itu mengangguk dan segera keluar dari mobil Sarah.
“Well, kita akan lihat seperti apa kamu itu Kirana?” Sarah berbicara sendiri. Ia membuka amplop berwarna coklat dan terdapat beberapa foto yang juga dokumen-dokumen identitas Kirana.
Sarah melihat foto-foto yang diterimanya setelah membaca semua dokumen Kirana dengan tangan gemetar. Ia membelalakkan mata tak percaya. Kirana berfoto dengan wanita yang juga sangat dibencinya, Kezia.
Bagaimana mungkin dua wanita yang sama-sama dibencinya, mereka saling mengenal dan sama-sama merebut Haikal? Sarah mulai berpikir, mungkinkah Haikal tahu tentang ini? Apa sebenarnya yang dicintai Haikal adalah sosok masa lalu Kezia dalam diri Kirana, karena mereka sangat dekat baik sebagai guru dan murid maupun sahabat?
Tapi ini terlalu aneh. Keluarga tante tak ada yang berkomentar sedikitpun mengenai hal ini. Apa mereka semua tidak tahu? Apakah Kirana yang memang sengaja menyembunyikan semua rahasia itu? Tunggu sebentar, bukankah Kirana ikut dalam rombongan orkestra Indonesia ke Sydney? Pesawat itu mengalami kecelakaan dan dipastikan tak ada korban selamat.
__ADS_1
Kenapa dia bisa selamat? Kalaupun selamat, harusnya menjadi berita utama karena dia adalah satu-satunya yang selamat. Lalu, sebelum dia bekerja di restoran tante, empat tahun berlalu ia berada dimana? Bertubi-tubi pertanyaan muncul dalam benak Sarah. Model cerdas ini mulai menerka-nerka dan saling mengaitkan segala hal antara Kirana, Kezia dan Haikal.
***