K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
23. Kembali Berdenting


__ADS_3

Tiga bulan sudah Kirana menjadi pegawai di Restoran Prancis. Ia akrab dengan semua pelayan dan koki disana. Sedikit demi sedikit orang-orang restoran mengerti bahasa isyaratnya. Sehingga untuk sesuatu yang mudah, ia tak perlu menuliskan dalam notes.


Bu manager menyukai pekerjaannya. Ia sering mengajak Kirana keluar untuk berbelanja bahan-bahan makanan. Seolah Kirana menjadi asistennya sekarang. Membawakan barang-barang ketika menemani bu manager berbelanja.


Kirana tipe penurut dan mudah disuruh, hal ini membuat bu manager lebih banyak meminta bantuannya dalam banyak hal bahkan diluar urusan pekerjaan ketimbang pada asisten managernya.


Restaurant Familial semakin ramai karena posisinya yang strategis berdekatan dengan gedung Kedutaan Besar Prancis dan harga yang terjangkau untuk kelas mewah. Desain interiornya juga sangat unik, restoran Prancis itu menjadi buah bibir dikalangan masyarakat Jakarta.


Mengikuti kebiasaan orang Prancis, maka Restoran itu hanya menyajikan makanan untuk sarapan di waktu pagi dengan menu café au lait (kopi dengan susu panas), brioche atau roti panggang yang dioles selai. Variasi lain bisa berupa steak (bifteck) dan kentang goreng (pommes frites), saat jam makan siang terhidang dengan hors d’oeuvre (makanan pembuka), quiche (pai telur), Croque Monsieur (roti lapis terbuka isi ham dan keju leleh) atau crêpe (panekuk isi),céleri rémoulade atau seledri segar dengan mayones. Saat makan malam disediakan crudités (sayur-mayur segar yang diasinkan) atau charcuterie (daging yang diawetkan), pièce de résistance (makanan utama), salad, keju dan desert.


Selain menyajikan makanan yang sesuai jadwal makan orang-orang Prancis, Restoran tersebut menyediakan menu spesial yaitu L’escargot untuk apetizer, L’oyster, Carpacio de st. Jacques, dan yang disukai anak-anak adalah Mouse au Chocolat dan beraneka macam crepe. Semua bahan diimpor langsung dari Prancis.


Kebanyakan pengunjung sendiri adalah warga Prancis yang berada di sekitar kedutaan, akan tetapi masyarakat lokal sekitar juga mulai menyukai karena disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.


Bu manager semakin sibuk, begitupula Kirana. Pagi sebelum retoran buka sebuah mobil pick up besar berhenti tepat di depan Familial Restaurant. Yang diangkut adalah sebuah piano besar berwarna hitam. Piano tersebut diletakkan di bagian tengah yang merupakan pusat restoran, dimana semua pengunjung dapat melihatnya.


“Ya bagus taruh situ. Kirana tolong ambilkan vas bunga yang baru saya beli kemarin,”perintah bu manager.


Kirana segera mengambilnya. Bu manager meletakkan vas bunga dengan bunga tulip yang terbuat dari kristal.


“Yah.. perfect sekali.” Bu manager tersenyum puas. Ia berkacak pinggang kagum melihat piano besar yang baru dibeli. Piano tersebut akan menambah suasana klasik di restoran tempatnya bekerja. Ia tidak ingin mengecewakan para pelanggan dan juga pemilik restoran.


“Apa ini Cuma pajangan bu?” tanya Marno pelayan shift pagi. Bu manager menarik napas panjang.


“Untuk sementara biar buat pajangan dulu. Kalau ada pengunjung yang ingin bermain, mereka bisa memakainya. Selagi menunggu saya mencari pianis baru,” jawab bu manager. “Sudah, selesaikan pekerjaan kalian,” lanjut bu manager kemudian ia pergi menuju ruangannya.


Kirana masih terpaku melihat piano hitam itu. Piano tersebut mirip sekali dengan milik papanya yang ada di rumah, hanya saja yang ini masih terlihat baru dan mengkilat. Kirana mengelus tuts-tuts tanpa membunyikannya. Ada perasaan rindu luar biasa dalam dirinya akan benda tersebut.


Benda itu begitu menggodanya, mengembalikan masa-masa mereka pernah bersatu. Ia dan tuts-tuts piano itu. Pernah begitu mesra dan hangat. Tuts-Tuts itu membangkitkan hasrat musisinya.


Sudah sangat lama sekali ia tak menyentuh alat musik yang mengantarkannya menjadi calon musisi.


“Kirana.. bu manager panggil kamu,” tegur seorang pelayan. Lamunannya buyar, dan ia menghapus ujung-ujung mata sebelum menemui bu manager.


***


“Hhh..sudah hampir seminggu saya belum menemukan pianis yang mau bekerja disini. Alasannya sih klasik, gajinya terlalu kecil. Saya sendiri belum berani membayar mahal karena baru mencoba,”curhat bu manager pada Kirana saat Kirana membantu menyortir berkas-berkas laporan keuangan restoran kasir.


“Dua minggu lagi pemilik restoran mau datang,” lanjutnya.


Kirana ingin menawarkan dirinya, tapi ia tak punya keberanian. Bu manager pasti tidak akan mempercayai karena bahkan ia tidak punya asal usul yang jelas. Sampai saat ini, ia kesulitan mendapatkan identitas. Urusan administrasi dan birokrasi yang ruwet tidak bisa sepenuhya dalam kontrol, karena ia sendiri sibuk bekerja tiap hari tanpa libur. Apalagi ia tidak punya koneksi orang kecamatan atau dinas kependudukan.


***


Tepat pukul sepuluh malam restoran tutup. Kirana membuang sampah dan mematikan lampu-lampu. Semua pegawai telah pulang kurang dari jam sebelas malam. Kirana menuju pusat restoran dengan perlahan dalam kegelapan. Ia duduk di depan piano.

__ADS_1


Sepi.


Sepengetahuannya semua orang telah pergi dan ia seorang diri menjaga restoran mewah itu.


Tuts-Tuts yang tiap hari selalu ia bersihkan padahal belum pernah dipakai, kini merajuk padanya. Sekali lagi menggodanya.


Piano itu sama kesepiannya dengan dirinya. Piano itu ingin mendapatkan pasangannya, pianis.


Apa gunanya ia menjadi alat musik berkelas nan mahal namun hanya sebagai pajangan? Ia ingin dimainkan.. Ia ingin bersuara, sama seperti Kirana ingin kembali bersuara lalu menyanyi.


Piano itu cukup lama membisu. Ia ingin menyanyi, menghibur dan mendamaikan telinga setiap pendengar. Piano itu ingin Kirana membantunya, begitupula Kirana ingin dibantu piano tersebut. Kirana tidak bisa bernyanyi seperti dulu, biarkan piano yang mewakilinya lewat nada-nada yang keluar dari dawainya.


Sebaliknya, dawai piano tidak akan bisa bersuara tanpa peran jemari Kirana pada tuts-tuts-nya. Meski sedikit ragu, Kirana menekan tuts ebony atau yang berwarna putih dengan jari telunjuk kanan. Kemudian tuts ivory-hitam dengan telunjuk kiri.


Setelah merasa mendapatkan nada dan memenuhi panggilan jiwa, jemarinya menari bebas nan lincah memainkan Fur Elise. Kirana serasa kembali ke masa kecilnya, ketika ia bermain piano dengan papa. Bernostalgia sebagai seorang pianis muda yang mencoba beralih profesi ke penyanyi seriosa yang merupakan bakat keduanya. Kirana seolah tersihir.


Jemarinya begitu akrab dengan semua tuts-tuts yang tak bisa dilihat. Kedua matanya tertutup meski lampu ruangan juga telah gelap. Ia bahkan mengulang lagu tersebut dua kali berturut-turut.


Selesai pada nada terakhir, tiba-riba lampu ruangan menyala dan terdengar suara tepuk tangan dari salah satu sudut ruangan. Kirana menoleh terkejut, takut, dan cemas. Bu manager tersenyum haru menatapnya.


“Kenapa kamu tidak pernah cerita bahwa kamu punya bakat bermain piano?” tanya bu manager heran. Wanita empat puluh lima tahun itu berjalan mendekati pusat restoran dimana piano itu berada. Suara sepatu heelsnya berklotakan. Menunjukkan betapa heningnya rungan itu saat ini. Kirana menunduk malu. “Saya tahu kamu bukan orang biasa-biasa saja. Tapi saya tidak tahu apa yang hebat dari diri kamu,” bu manager sudah memegang bahu Kirana.


“Mendengar dan melihat kamu bermain piano itu, saya melihat diri kamu sebenarnya. Maukah kamu cerita sedikit kepada saya?” pinta bu manager dengan nada tidak seperti biasanya.


Mereka duduk di salah satu meja tamu.


Bu manager membawa dua gelas coklat panas untuknya dan Kirana. Sikap bu manager lebih bersahabat. Selama ini ia hanya menganggap Kirana sebagai gadis tidak berguna, namun detik ketika i mendengar dan melihat secara samar-samar gadis itu bermain piano, ia berubah lunak.


“Saya adalah seorang penyanyi seriosa yang juga Pianis. Akan tetapi kecelakaan empat setengah tahun lalu membuat saya bisu dan kehilangan segala-galanya impian dalam hidup saya.” Tulis Kirana.


Bu manager mengangkat kedua alisnya ketika membaca empat baris dalam dua kalimat Kirana yang tertulis di sobekan notes.


Ia tidak menceritakan detail siapa sebenarnya dirinya, bagaimana kecelakaan itu terjadi lalu keluarga dan lain-lain. Dan Bu manager cukup bijak untuk tidak menanyakan hal tersebut.


“Besok jam empat sore saya akan ajak kamu ke suatu tempat. Selesaikan semua pekerjaan kamu sebelum itu,”kata bu manager.


Kirana mendongak heran. Bu manager tersenyum, “Kamu akan lihat besok.” Ia kembali menyeruput coklat panas hingga tersisa separo sebelum memutuskan mengakhiri pembicaraan dan bergegas pulang.


***


“Tolong carikan pakaian yang cocok untuk dia sebagai seorang pianis,” katanya pada pegawai butik langganannya.


Kirana kebingungan dengan perkataan bu manager. Pegawai tersebut mengangguk. Kirana mencoba beberapa model baju. Pada akhirnya ia memakai dress selutut berwarna putih dan berlengan pendek.


Potongan V-neck membuat lehernya tegak anggun dengan renda-renda kecil disekitarnya. Dress minimalis itu dilapisi furing berwana nude sehingga menimbulkan kesan elegan. Cantik sekali, ia layaknya seorang putri. Bu manager mengambilkan beberapa potong pakaian sekalian dengan heels.

__ADS_1


Ia mengajak Kirana ke salon. Rambut Kirana sudah lebih panjang. Dan bu manager ingin rambutnya di blow. Setelah menunggu satu setengah jam, Kirana sudah berdandan rapi lengkap dengan pakaian yang dibelikan bu manager.


“Kenapa saya tidak menyadari bahwa kamu adalah orang yang sangat menawan,” seru bu manager takjub.


Pipi Kirana bersemu merah dengan lesung yang semakin membuatnya nampak manis.


“Apa tidak terlalu berlebihan bu?” tanya Kirana.


Bu manager paham maksud bahasa isyaratnya. Ia menggeleng dan segera mengajak Kirana kembali ke restoran.


Beberapa pengunjung dan pelayan nampak terpesona dengan kehadiran bu manager yang datang membawa Kirana, si upik abu restoran.


Kirana nampak malu-malu berjalan diikuti lirikan banyak mata. Sedangkan bu manager terlihat bangga. Ia berjalan menuju pusat ruangan dimana piano hitam mengkilat itu sedang menunggu.


Pengunjung yang memperhatikan masuknya Kirana mengubah posisi duduk untuk bisa melihat. Bu manager bertepuk tangan pelan meminta perhatian para tamu dan seluruh orang di ruangan tersebut.


“Terima kasih untuk perhatian anda. Mari kuperkenalkan pianis baru kita. Dia adalah Kirana,” kata bu manager dalam dua bahasa diikuti sambutan tepuk tangan para tamu restoran.


Kirana kebingungan, ia tak menyangka bu manager akan mengangkatnya sebagai pianis restoran didepan umum. “Berikan yang terbaik bagi kami. Saya percaya dengan kamu,” bisik bu manager ketika mengecup pipi kanannya sebelum pergi.


Kirana kembali kikuk.


Ia kemudian duduk dengan anggun dan berusaha menguasai dirinya agar rileks. Ia membuka-buka partitur. Memilih lagu yang cocok untuk suasana malam. Ia melihat sekeliling. Lebih banyak pasangan kekasih atau suami-istri dari tamu lokal dan bule Prancis ketimbang saat pagi dan siang yang berisi pebisnis dan keluarga.


.


Ia menarik napas panjang, dan jemarinya mulai menari diatas tuts-tuts memainkan lagu romantis.


Beberapa pengunjung hingga lupa akan makan malam mereka akibat terhipnotis oleh lagu yang dimainkan. Setelah bermain hingga enam menit lamanya, suara tepukan meriah terdengar. Kirana berdiri dan menganggukkan badan berterima kasih. Bu manager mengawasi dari salah satu sudut, tersenyum puas. Kirana menoleh ke arah bu manager.


Tangan bu manager mempersilahkan Kirana untuk melanjutkan permainannya, sedangkan ia kembali bekerja.


***


“Terima kasih ya. Penampilan kamu malam ini luar biasa. Meskipun saya tak begitu mengerti tentang musik, saya dan khususnya para tamu merasa terhibur,” puji bu manager setelah restoran tutup.


Kirana tersipu malu. Sebenarnya tadi ia melakukan beberapa kesalahan nada akibat gugup, tapi sepertinya orang-orang tidak tahu akan hal itu.


“Mulai sekarang kamu tak perlu bekerja terlalu keras sebagai pegawai serabutan. Cukup lakukan tugasmu seperti biasa, akan tetapi hanya sampai jam makan siang. Saat makan siang kamu harus istirahat, merawat diri serta mempersiapkan lagu-lagu menarik saat menu diner. Kamu mulai bermain dari jam tujuh hingga tutupnya restoran. Karena menurut saya semakin larut malam, maka pengunjung akan semakin malas pulang dan betah berlama-lama di sini mendengar lagu sambil terkantuk-kantuk,”ujar bu manager diikuti gelak tawa.


Sebuah strategi untuk menarik perhatian dan minat pengunjung untuk merasa nyaman dan betah di restorannya.


“Gaji kamu, tentu saja akan dua kali lipat. Karena kamu bekerja untuk dua hal yang berbeda,”lanjut bu manager.


Mereka bersalam untuk saling sepakat. Kirana tentu saja senang, ia bisa kembali menyalurkan bakatnya dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Setidaknya meskipun ia tak bisa menjadi musisi terkenal dan bermain diatas panggung menghibur banyak orang, ia bisa menghibur pengunjung di sebuah restoran Prancis yang mewah.

__ADS_1


__ADS_2