K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
20. Dua Dermaga


__ADS_3

Machita, madam Joyce, Paulo dan dokter Smith mengantar kepergian Mr. Bruce dan Kirana di Pearl Harbor Sydney. Kapal-kapal mulai merapat ke dermaga. Berbagai macam kapal pesiar dan kapal nelayan berjejer rapi di sepanjang pelabuhan. Musim liburan, turis asing dan lokal memenuhi Circular Quay dan jembatan Sydney.


“Aku akan sangat merindukanmu. Jangan lupa untuk menelpon kami dan jika kau punya waktu, pergilah ke Maroubra,” kata Machita mengusap ujung-ujung matanya setelah memeluk Kirana cukup lama.


Ia harus kehilangan saudara perempuan dan teman sekamarnya. Kirana mengangguk. Kirana mengajak Machita berjalan sedikit menjauh dari keluarganya.


“Aku minta maaf tentang beberapa waktu yang lalu. Terima kasih telah membagi kamar denganku dan meminjamkan pakaianmu.” Kirana menyipitkan mata tersenyum.


“Tidak masalah. Aku senang punya saudara sepertimu. Aku akan selalu merindukanmu.”


“Don’t forget us, sist.” Seringai lebar Paulo menyalami dan memeluk singkat Kirana.


“Aku benar-benar merasa kehilanganmu, sekarang. Aku harap kamu baik-baik saja disana,” ujar dokter Smith usai mendapat pelukan terakhir dari Kirana.


Kini giliran madam Joyce yang tak hentinya membuang ingus. Ia menyayangi Kirana lebih dari keluarga Maroon yang lain. Baginya Kirana adalah putri sulungnya dan ia sangat bahagia bisa mengangkat anak. Akan tetapi, kini gadis yang dirawatnya selama empat tahun harus rela dilepaskan kembali pada keluarga aslinya.


Saat akan memeluk madam Joyce, Kirana tak bisa membendung airmata. Wanita gemuk itu tidak bisa dilupakan dengan mudah. Sikapnya yang hangat dan ramah bisa membuat Kirana betah tinggal di rumah keluarga Maroon yang sangat sederhana di negara asing tersebut. Mereka berpelukan diiringi isak tangis cukup lama.


“Oh, kapalmu akan pergi. Cepatlah naik ke kapal, Nak. Ingat untuk sarapan dan jangan lupa obatmu. Aku berharap kau selalu sehat dan menemukan kebahagiaan.” Nasihat seorang ibu pada anaknya yang akan pergi jauh untuk waktu lama.


Kirana hanya mengangguk. Madam Joyce mengusap airmata yang membasahi pipi Kirana. “Jadilah kuat sayang, jangan menangis. Kau adalah wanita yang hebat. Aku minta maaf jika punya salah. Maafkan aku tidak bisa merawatmu dengan baik. Senang bisa mengenalmu.”


Kirana segera naik ke kapal pengangkut ikan tersebut. Keluarga Maroon dan dokter Smith melambaikan tangan melepas kepergian Mr. Bruce dan Kirana.


Awak kapal segera melepaskan tali pengikat kapal. Tiba-tiba seorang pria berlari menuju kapal tersebut dan melompat naik.


“Hey.. what’s damn!”teriak sang awak kapal.

__ADS_1


“Maaf, bolehkah aku menumpang kapal kalian? Aku ketinggalan kapal pesiar yang akan mengantarkanku,” kata sang pria.


“Tidak bisa! Ini bukan kapal pengangkut orang.”


“Oh, come on. Aku harus pergi ke Indonesia. Kudengar kapal ini merapat sebentar di Batam?”


“Ada apa?” tanya Mr. Bruce melihat keributan kecil dan kapalnya tidak segera berangkat.


“Pria ini ingin menumpang kapal kita,” kata sang awak kapal. Mr. Bruce kini memasang tampang sangar.


“Sir, Kapal pesiarku telah berangkat satu jam yang lalu dan aku harus segera kembali ke Indonesia. Aku tahu kapal ini akan berhenti sejenak di Batam. Please, I can’t wait for a longer."


Mr. Bruce mendengus kesal. “Okay, but you must pay. $ 400,” kata Mr. Bruce.


“How expensive it is!”gerutu sang pria.


Bunyi peluit terdengar keras.


Kapal pengangkut barang Mr. Bruce mulai meninggalkan dermaga. Ia berdiri dipinggiran kapal. Kapal semakin berlayar menjauh. Kirana menatap rakus pemandangan terakhir Sydney. Ia menelan ludah.


Tak pernah terbayangkan bisa hidup cukup lama disana dengan orang-orang asing. Samudra terbentang luas. Deburan ombak menghantam kecil sisi-sisi kapal.


“Aku telah menyiapkan ruangan untukmu. Bekas gudang, tapi setidaknya kau bisa istirahat di sana. Maaf, kami tidak punya tempat istirahat atau tempat yang bersih. Perjalanan kita akan sangat panjang. Jadi jagalah kesehatanmu,” kata Mr. Bruce menepuk bahu Kirana. Kirana mengangguk paham.


“Aku baik-baik saja. Terima kasih banyak.”


“Ah.. satu lagi, ketika banyak awak kapal yang mulai mabuk, sebaiknya jangan keluar dari ruanganmu. Kalau ombak sedang besar minum saja obat dari Joyce dan tidak perlu keluar dari ruanganmu. Aku yang akan mengirim makanan untukmu. Intinya jangan keluar ruangan jika tidak terdesak atau karena ingin ke toilet. Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi secerewet Joyce sekarang,” gumam Mr. Bruce kemudian meninggalkan Kirana.

__ADS_1


Gadis itu hanya tersenyum mendengar segala bentuk perhatian ayah angkatnya. Ia tahu, Mr. Bruce sangat berhati-hati akan keselamatan dirinya. Jika terjadi sesuatu, Mr. Bruce akan mendapat amarah besar dari istrinya.


Kirana kembali menatap sisa pelabuhan Sydney yang sedikit demi sedikit mengecil lalu menghilang sama sekali.


“Indonesia, welcome home.” Bisik Kirana dalam hati.


***


Indonesia, 2017. Negara zamrud khatulistiwa dan negara kepulauan.


Kapal pengangkut ikan yang berukuran lebih besar dari kapal feri jurusan Sumatera-Jawa mulai merepet ke pelabuhan Batam setelah berhari-hari menghabiskan waktu di atas laut.


“Thanks a lot sir. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan keluarga Maroon. Kalian adalah malaikat,” kata Kirana saat berpamitan pada Mr. Bruce. Ia mendapat pelukan hangat dari sang ayah angkat untuk terakhir kali.


“Nice to meet you. Jagalah dirimu baik-baik, Nak. Kalau kau sudah mampu, berkunjunglah ke Maroubra,” nasihat Mr. Bruce. Kirana mengangguk.


Mereka berpisah tepat saat matahari mulai naik tinggi. Kirana harus segera pergi ke loket kapal feri lain menuju pulau Jawa. Ia harus menunggu keberangkatan satu jam lagi.


Untuk pertama kalinya saat membeli tiket, Kirana nyaris lupa bahasa ibunya. Karena petugas loket tidak mengerti bahasa isyarat, iapun menuliskan tujuannya.


Lalu-lalang orang-orang, banyak pedagang asongan, sampah yang tercecer, para calo tiket adalah pemandangan yang tak ia jumpai di sudut Sydney manapun. Bahasa-bahasa melayu banyak terdengar.


Bibir Kirana bergetar. Kedua matanya berkaca-kaca. Pada akhirnya ia menjejakkan kaki pada pulau terpanjang di Indonesia. Sebentar lagi ia akan bertemu keluarganya. Sebentar lagi ia bisa mencium aroma tubuh orang tuanya dan mencicipi masakan sang mama tercinta.


Perjalanan menuju pelabuhan Tanjung Priok memakan waktu lebih dari dua hari. Dan hal itu membuat Kirana benar-benar kelelahan. Dia telah melalui dua dermaga dan akhirnya yah, Jakarta. Kota terpadat dan termacet yang menduduki rangking ketiga di dunia.


Panas yang menyengat, berbagai polemik kehidupan lapisan masyarakat terlihat jelas dipanggung kehidupan. Tempat pengadu nasib itu malah membuat Kirana semakin bahagia. Aneh memang, kota yang begitu sumpek masih saja digemari pendatang bahkan di tahun 2017. Banyak perubahan dengan semakin nampaknya gedung-gedung pencakar langit, transportasi umum mulai terbenahi. Banyak hal yang berubah begitu cepat menurut Kirana. Bahkan terlewat hampir lima tahun!

__ADS_1


***


__ADS_2