Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Bab 10


__ADS_3

"Apa ini bang?" Tanya Lili mengambil sesuatu di pinggir ranjang, bang Jali pun mengambil dan melihat ternyata sebuah jam tangan.


"Sepertinya ini jam tangan maling itu dek, tapi kok aku pernah lihat ya," kata Bang Jali mengingat-ingat dimana ia pernah melihat jam tangan.


Matanya pun membulat saat mengingat siapa orang yang pernah memakai jam tangan itu, ia pun mengepalkan tangan jika yang di curigai adalah benar.


"Dek, mana ponsel mu?" Tanya Bang Jali lagi.


"Ini bang, memangnya kenapa bang?" Tanya Lili bingung, tak biasanya ia meminta ponsel jika tidak ada keperluan selain nonton YouTube.


"Kamu tunggu disini, Abang mau pergi sebentar dan tolong beresin semua ini ya," pinta bang Jali, Lili hanya mengangguk melihat raut wajah bang Jali yang sudah memerah.


Bang Jali pun bangkit dan pergi keluar mengendarai motor maticnya dengan kecepatan tinggi, amarah di dalam dirinya sudah tidak bisa di tahan lagi. Tak butuh waktu lama ia sampai di depan rumah mewah, ia pun berjalan pelan-pelan melihat pintu rumah yang datangi masih terbuka.


"Ternyata Si Jali banyak uang ya, Bang," suara Maya terdengar nyaring, terlihat ia sedang memegang uang yang sangat banyak. Tak lupa jali mengambil ponsel untuk merekam, ternyata benar yang maling bukan lah orang lain tapi saudara sendiri.


"Iya dek, tapi kenapa kau mengambilnya, kita itu ke sana mau mengambil sertifikat rumah bukan malah mencuri," kata Jaka menggaruk kepalanya yang tak gatal, Bang Jali yang kini berdiri di depan pintu merasa geram dan ingin sekali memukul Abangnya tapi ia tidak boleh gegabah.


"Ya karena sertifikatnya gak dapat makanya aku ambil uang mereka, lumayan loh bang bisa beli emas. 20 juta loh ini," kata Maya tersenyum mengipasi tubuhnya dengan uang yang di curi.


"Bagaimana jika Jali mengetahuinya, kita akan bermasalah Dek," kata bang Jaka lagi, sepertinya ia ketakutan melihat itu semua.


"Sudah bang, kamu tidak usah khawatir begitu! Adikmu itu bodoh mana mungkin dia mencurigai kita yang mengambil uangnya, lagian salah dia sendiri," kata Maya tetap merasa dirinya benar.


"Jika terjadi sesuatu, aku tidak mau tanggung jawab karena semua ide kamu," kata Bang Jaka hendak bangkit, usai merekam Jali pun menyimpan ponsel tadi di saku celananya.


Brak....

__ADS_1


Bang Jaka dan Maya membulatkan mata saat melihat siapa yang mendobrak pintu rumahnya.


"Jali, apa-apaan kamu ini? Datang-datang ke rumah orang main dobrak saja, kamu gak tahu pintu itu mahal," kata Meli terkejut tapi ia mencoba bersikap tenang.


"Saya datang kesini hanya ingin mengambil apa yang jadi milik saya," kata Jali melihat uang yang masih tercecer di atas meja, ia pun langsung mengambilnya membuat Maya murka.


"Heh, apa-apaan kamu ini mengambil uang saya! Kalian mana mampu punya uang sebanyak ini, kamu itu miskin," kata Maya berusaha mengambil uang yang sudah berada di tangan Jali sedangkan Bang Jaka hanya diam melihat kilat amarah di mata adiknya.


"Saya memang miskin tapi saya tidak merampok di rumah orang, apalagi di rumah saudara sendiri," kata Jali membuat Bang Jaka dan Istrinya pias, mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"Kamu menuduh kami mencuri uang kamu, memang sejak kapan kamu mempunyai uang. Hidup kalian saja pas-pasan," kini Bang Jaka ikut berbicara meski jantung berdegup sangat kencang.


"Sudah, kalian tidak usah berpura-pura bodoh! Kalau mau maling itu yang cerdas jangan bego'," Jali mengeluarkan jam tangan yang ia temukan tadi dan sebelah anting yang tak sengaja ia injak saat ingin pergi tadi, melemparkan di atas meja di depannya.


"Bukankah itu jam tangan mu bang dan anting itu Mbak, lihatlah saking senangnya mengambil punya orang sampai gak sadar anting sendiri jatuh," kata Jali membuat Maya membulatkan mata dan meraba telinganya memang tidak ada anting lagi.


"Kamu tidak bisa menuduh kami seperti itu Jali, anting dan jam tangan itu banyak di pasar. Mungkin saja milik orang lain, kembalikan uang itu," Hardik Maya tanpa rasa malu.


"Kamu jangan kurang hajar ya, kamu menuduh kami tanpa bukti. Saya bisa melaporkan kamu ke polisi atas kasus pencemaran nama baik," Ancam Maya dengan nafas memburu, sedangkan Jaka lagi-lagi hanya diam. Dia merasa ketakutan, tak berani menjawab apalagi melawan adiknya.


"Kalian siap-siap yang akan masuk ke penjara bukan saya, dan kamu bang, urusan kita belum selesai, aku tidak menyangka jika Abang tega melakukan semua itu pada saudara sendiri," kata Jali menatap Jaka dengan tajam.


Jali pergi meninggalkan rumah mereka setelah mengambil kembali uang yang di curi, untung saja ia cepat datang kalau tidak uang itu akan habis. Semua ini dilakukan karena tak ingin melihat tangisan istinya, uang dua puluh juta itu sangat banyak bagi Bang Jali dan Lili.


"Bagaimana ini, semua ini gara-gara ide kamu itu. Kalau besok datang polisi, kamu saja yang masuk penjara," kata Jaka menatap istrinya dengan nyalang.


"Gak..gak bisa gitu dong! Mana mungkin dia bisa melakukan itu," kata Maya meski ia juga merasa takut karena sudah ketahuan.

__ADS_1


"May, dia punya buktinya kalau kita yang mencuri di rumahnya. Aku terlalu bodoh mengikuti semua keinginan kamu," kata Jaka menggelengkan kepalanya, menyesap sebatang rokok untuk mendinginkan kepalanya.


"Jadi Abang menyalahkan aku begitu, semua itu karena dia tidak mau menjual rumah itu," kata Maya berteriak.


Jaka memilih untuk masuk ke kamar mereka, meski terasa dingin tapi hawanya sangat panas.


Lili mondar-mandir di dalam rumah, sudah jam 12 malam tapi suaminya juga belum pulang. Di hubungi tidak di angkat membuat dia sangat khawatir.


Namun tiba-tiba terdengar suara deru motor, bergegas Lili membuka pintu rumah.


"Abang dari mana? Kok jam segini baru pulang," tanya Lili dengan raut wajah panik, ia baru saja melihat suaminya datang.


"Abang masukin motor dulu ya dek, setelah itu baru Abang cerita," kata Bang Jali mendorong motornya untuk masuk ke dalam.


Lili hanya mengangguk, kemudian menutup pintu dan berjalan ke dapur untuk mengambil minuman di dapur untuk suaminya.


"Di minum dulu, bang," ujar Lili memberikan segelas air putih untuk suaminya.


"Terimakasih Dek," bang Jali meneguknya hingga tandas, ia benar-benar haus meredamnya emosi saat berada di rumah bang Jaka.


"Ini uang kita, besok kita bank dan di simpan saja disana lebih aman," kata Bang Jali mengeluarkan uang dalam kantong kresek berwarna hitam membuat Lili terkejut.


"Abang dapat uang ini dari mana, Abang gak ngerampokkan," kata Lili melihat uang dengan tangan gemetar.


"Tidak dek, itu benar uang kita. Tadi abang datang ke rumah bang Jaka, niat hanya ingin menanyakan tentang jam tangan itu tapi sampai disana mas di buat kaget oleh mereka, ternyata bang Jaka yang masuk ke rumah dan Abang juga sempat merekam pembicaraan mereka sebagai bukti," kata Bang Jali tidak habis pikir dengan kelakuan abangnya, ia pun mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan video yang dia rekam tadi.


"Astaghfirullah bang, kok mbak Maya jahat sekali sama kita," kata Lili menggeleng kepala saat melihat Video barusan.

__ADS_1


"Entahlah dek, ya sudah sebaiknya kita tidur saja dan video ini akan mas kirim sama Kak Sarah biar dia juga tahu," kata Bang Jali.


"Iya bang, lagian adek juga udah ngantuk dari tadi nunggu abang pulang," kata Lili menaiki ranjang milik mereka setelah menyimpan uang dintempat yang aman.


__ADS_2