
Pulang dari Cafe wajah Maya bersungut kesal, ia tidak menyangka jika kakak iparnya akan menyuruh dia mencuci piring karena tidak bisa membayar makanan yang di makan sama teman-temannya.
"Wajah kamu ditekuk begitu kenapa?" Tanya Jaka melihat istrinya, hari ini ia tidak ke kantor karena weekend dan lebih memilih beristirahat di rumah.
"Aku kesel sama kakak mu, bang?" Kata Maya duduk sofa.
"Memangnya kenapa kamu kesel sama kak Sarah?" Tanya Jaka penasaran.
"Tadi aku disuruh cuci piring ke Cafenya bang, padahal aku lagi kumpul-kumpul sama teman aku." Kata Maya sedikit berbohong agar suaminya tidak tahu jika mencuci piring karena tak bisa membayar makanan.
Jaka terkejut mendengar penuturan istrinya, ia tidak menyangka jika kakaknya menyuruh istrinya mencuci piring tanpa sebab kecuali ada sesuatu.
Tiba-tiba saja, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya Jaka. Ia langsung membuka pesan membulatkan mata saat membaca pesan.
"Kamu pantas di perlakukan seperti itu," kata Jaka mengepalkan tangannya.
"Kok Abang menatap aku seperti itu, seharusnya Abang belain aku," kata Maya.
"Kamu memang salah, sok bela-belain membayar semua makanan teman kamu sampai lima ratus ribu lagi," kata Jaka menatap tajam ke arah suaminya, ternyata sikapnya yang memanjakan istrinya menjadi bomerang baginya.
"A...bang tahu dari mana?" Tanya Maya takut.
"Kak Sarah mengirim pesan padaku dan bilang jika kamu tidak sanggup membayarnya makanan tadi, aku heran sama kamu dek," kata Jaka menggelengkan kepala.
"Semua ini karena Abang tidak memberikan aku uang, Abang tahu tadi aku malu karena mereka baru membeli perhiasan tapi aku gak ada," ucap Maya dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Kamu terlalu mengikuti teman-teman mu itu May, perhiasan kamu itu banyak sebaiknya kamu jual yang itu dan beli yang baru yang penting jangan minta sama aku karena aku tidak punya uang," kata Jaka pergi meninggalkan Maya yang berada di ruang tamu.
"Arrggh... Semua ini gara-gara Lili dan Kak Sarah, seandainya dia mau meminjamkan perhiasannya pasti aku tidak akan di permalukan seperti ini," kata Maya melempar tasnya ke sembarangan arah.
****
Zahwa pulang ke kontrakannya saat sore hari, terlihat Jaka ada di depan mereka. Lili mencolek suaminya menengadah wajahnya isyarat menunjukkan jika ada Jaka di depan rumahnya.
"Ngapain bang Jaka kesini dek?" Tanya Jali pada istrinya.
"Gak tahu bang, sepertinya ada hawa-hawa gak enak ini," kata Lili turun dari motor setelah bang Jali memakirkan mobilnya.
"Bang Jaka, ada apa? Ayo kita masuk dulu," Ajak Jali melihat raut wajah Abang sepertinya baru saja bertengkar dengan kakak iparnya.
"Jali, Abang boleh pinjam uang! Tidak banyak hanya sepuluh juta, tadi Mbak mu marah-marah karena Kak Sarah menyuruhnya mencuci piring di Cafe," kata Bang Jaka dengan raut bingung.
"Kok bisa bang?" Tanya Jali tidak percaya.
"Ya karena mbak mu tidak bisa membayar makanan yang dia pesan bersama-sama temannya," kata Jaka lagi.
"Hufft, begini bang bukan aku tidak mau meminjamkan uang tapi uangnya sudah aku tanamkan saham di tempat teman ku, jadi saat ini kami tidak punya uang," kata Jali, ia tidak ingin menyakiti abangnya.
"Tolonglah Abang dek, Maya terus mendesak untuk membeli perhiasan seperti punya istrimu tapi Abang sekarang lagi tidak punya uang." Jaka memohon pada Jali agar di pinjamkan uang.
Jali menatap istrinya kemudian kembali mengarahkan pada Jaka.
__ADS_1
"Maaf bang, kami benar-benar tidak bisa membantu," kata Jali lagi, bukan tidak ingin meminjamkan tapi uang yang selalu di pinjamkan oleh Jaka tidak pernah di kembalikan.
"Apa kalian tidak punya uang simpanan, kalau kalian gak punya uang kok bisa Lili membeli emas?" tanya Jaka tetap kekeh berusaha mendapatkan uang dari Jali.
"Dia membeli perhiasan itu dengan uangnya sendiri bang bukan dari aku," kata Jali lagi.
"Kalau begitu Abang minta pinjam uang istrimu, Uang istrimu sama juga dengan uang kamu kan. Jadi berikan saja uang Lili, nanti Abang ganti kalau sudah ada uang," kata Jaka tanpa rasa malu.
"Maaf bang, aku juga tidak punya uang lagi! semuanya sudah aku beli emas," Timpal Lili geram dengan sifat Abang ipar.
"Bilang aja kalian gak mau kasih pinjam, kasian senang kalau melihat Abang sama kakak ipar kalian berantem," kata Jaka menahan amarah.
"Bang, kenapa sih Abang selalu menuruti keinginan Mbak Maya! Abang kan bisa memilah antara yang harus dituruti atau tidak," kata Jali lagi.
"Jali, jangan sok menggurui! aku lebih tua dari mu, kalau kalian gak mau beri ya sudah biar aku pinjam sama orang lain saja," kata Jaka berdiri kemudian keluar pergi meninggalkan rumah kontrakan adiknya.
"Astaghfirullah, bang Jaka kok gitu ya bang! Dulu Abang tidak begitu, jangan-jangan bang Jaka di pelet lagi bang," kata Lili menggelengkan kepala.
"Pelet gimana maksud kamu dek?" tanya Jali penasaran.
"Ya, di guna-guna bang biar Bang Jaka nurut sama Mbak Maya. Abang gak lihat apapun yang di minta Mbak Maya selalu dituruti oleh bang Jaka meski harus melawan keluarganya sendiri," kata Lili lagi membuat bang Jali melotot pasalnya ia tidak pernah percaya dengan hal begituan.
"Ada-ada saja kamu dek, mana mungkin Mbak Maya melakukan hal itu untuk suaminya," kata Jali tersenyum melenggang masuk ke dalam kamarnya.
Lili yang di tinggal sendiri di luar merasa kesal kemudian ikut menyusul suaminya ke dalam dan menutup pintu.
__ADS_1