
"Apa? Dia sudah berbuat sejauh itu? Gila, sebaiknya kamu ceraikan saja istrimu Jaka agar kamu terbebas dari dosa yang dia perbuat," ujar Sarah marah pada adik Iparnya.
"Maka dari itu, aku ingin mengutip Hanna disini untuk sementara waktu kak dan setelah masalah ini selesai aku akan menjemput Hanna," kata Jaka lagi.
"Ya sudah, kamu pergi saja sana! Selesaikan urusan mu sama perempuan tidak tahu diri itu, sudah di kasih kehidupan yang layak masih selingkuh," kata Kak Sarah tersulut emosi mendengar cerita adiknya.
Jaka pun pamit pulang ke rumahnya, sesampai di rumah ternyata pintu rumahnya terbuka artinya Maya sudah pulang. Jaka langsung masuk dengan amarah yang sedari dia tahan, Maya yang sedang duduk di sofa sangat terkejut melihat kedatangan suaminya.
"Bang, kamu darimana?" Tanya Maya lembut.
"Kenapa? Apa kau sudah puas bermain dengan selingkuhan mu itu lalu datang kepadaku untuk meminta maaf," Cerca Jaka menatap tajam ke arah istrinya.
"Maafkan aku bang, aku khilaf," ujar Maya dengan Isak tangis agar Jaka merasa iba padanya.
"Apa? Khilaf, semudah itu! Tidak ada kata khilaf dalam sebuah penghianatan Maya, kenapa kau lakukan ini padaku Hah?" Teriak Jaka tepat di depan Maya, amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun tidak dapat di tahan lagi.
"Semua itu karena kesalahan mu bang," teriak Maya tak kalah.
__ADS_1
"Salahku, apa salahku May? Katakan apa salahku, semuanya sudah aku berikan untuk mu tapi kenapa kau tega berkhianat," Jaka mencengkeram pundak Maya dengan keras membuat Maya meringis kesakitan.
"Lepaskan aku, Mas! Ya semua ini salah mu, seandainya kamu gagah di atas ranjang tidak mungkin aku mencarinya pada orang lain," spontan perkataan Maya menghujam jantungnya lebih sakit lagi.
"Kamu tega berkhianat hanya karena itu! Baiklah, karena aku tidak bisa memberikan hak mu maka kemasi barang-barang mu sekarang, akan aku kembalikan kamu pada orang tuamu," kata Jaka tak lagi bisa mempertahankan Maya, harga dirinya seperti di cabik-cabik hanya karena urusan ranjang yang tidak terpuaskan.
Padahal selama ini ia sudah berusaha memenuhi nafkah lahir dan batin tapi semua itu tidak cukup bagi Maya.
"Maksud kamu apa, bang?" Tanya Maya kaget.
"Kamu masih menanyakan kenapa atas apa yang sudah kamu perbuat, kamu bego atau bodoh, mulai detik ini aku kembalikan kamu pada ibumu dan tidak ada lagi nafkah mu atas diriku, kita cerai," Jaka menatap ke arah Maya dengan tangan bergetar, ucapan cerai begitu saja keluar dari bibirnya.
"Ce...Rai, tidak bang! Aku tidak mau cerai sama kamu bang," kata Maya menolak.
"Kemasi barang barang mu atau ku buang," Bentak jaka lagi dengan nafas yang masih memburu, kali ini air matanya benar-benar jatuh. Dia tidak menyangka jika akan di ceraikan tapi apa yang di katakan oleh ibunya jika ia pulang ke rumah orang tuanya lagi.
Maya semakin histeris menangis membuat Jaka murka, ia mengambil koper kemudian membuka lemari memasukkan baju Maya sembarangan. Usai memasukkan baju semuanya, Jaka menarik tangan Maya ke mobil tapi Maya mencoba bertahan tidak ingin pergi.
__ADS_1
"Aku gak mau bang, lepasin Maya," pinta Maya dengan air mata yang sudah jatuh perlahan.
"Tidak May, aku akan mengantarkan kamu pada ibumu dan kau bisa melakukan apapun disana sesuka hati kamu," kata Jaka membuka pintu kemudian mendorong Maya masuk, dengan langkah tergesa-gesa ia berjalan ke arah kemudi.
****
"Ada apa ini Jaka, kenapa kau mendorong istrimu seperti ini?" tanya ibu Maya pada menantunya.
"Tanyakan saja pada anak ibu, saya juga heran sama ibu yang membiarkan anaknya berbuat hal tidak senonoh di rumah ini," kata Jaka melempar koper Maya begitu saja.
"Maksud kamu apa Jaka?" tanya Ibu Maya tidak mengerti pasalnya tadi siang memang ia tidak ada di rumah bersama Lira.
"Anak ibu ketangkap basah di atas ranjang kamar miliknya dan aku datang kesini untuk mengembalikannya pada ibu, hari ini dia bukan Istriku lagi," kata Jaka lagi membuat Bu Wati shock.
"Apa, cerai!"
Bugh.....
__ADS_1
Loh...Loh kok Bu Wati yang pingsan mendengar anak yang cerai.