
Dua bulan bekerja sama dengan Sarah mulai menghasilkan pundi-pundi rupiah, Omset yang di dapatkan setiap bulannya mencapai 50 juta. Apalagi ketoprak pedas menjadi menu andalan di Cafe Sajana.
"Alhamdulillah ya bang, dua bulan bekerja sama dengan Kak Sarah kita sudah mendapatkan hasilnya," kata Lili berdiri di depan cafe, ia ingin ke Cafe bersama suaminya.
"Iya Dek, Oh ya kamu jadi beli lahan kosong di jalan Mayang sari itu dek?" Tanya Jali pada istrinya.
"Jadi bang, rencananya nanti kita akan bangun rumah dan di sampingnya kita bangun tokoh baju bang," kata Lili.
Dia memang sudah memikirkan itu sejak lama, membangun rumah beserta toko di samping rumah agar dia bisa bekerja di rumah.
"Ide bagus dek, semoga saja uang kita sudah cukup dek buat beli tanah itu," kata Bang Jali tersenyum.
Lili hanya tersenyum mengangguk, selama ini mereka terus menabung tanpa memeriksa berapa sudah uang yang mereka tabung di bank. Belum lagi pembagian hasil perikanan dengan Zaki kini mencapai 20 juta setiap bulannya dan Lahan sawit pembagian warisan orang tuannya ikut membawa pundi-pundi rupiah setiap bulannya.
"Abang hari ini mau kemana?" Tanya Lili.
"Abang mau ke sawah dek, kok perasaan Abang gak enak ya. Setelah panen Abang gak pernah melihat sawah sudah di bajak apa belum," kata Jali.
Memang perasaannya beberapa hari ini gak ke sawah, ada beberapa orang yang bersebelahan dengan sawahnya mengatakan jika Jaka sering ke sawahnya membuat ia penasaran.
"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat duluan bang," kata Lili menyalami tangan suaminya.
"Memangnya gak papa dek Abang gak anterin kamu," tanya Jali.
"Gak apa-apa bang, aku bisa naik ojek di pangkalan sono. Lagian kalau Abang nganter aku capek muter lagi," kata Lili mengambil tas dan memakainya.
Dia kelihatan cantik meski sederhana, selama ikut bekerja di Cafe Sajana. Ia banyak mengalami perubahan dan bertemu dengan pegawai yang sangat ramah.
Usai kepergian Lili, Jali pun keluar tak lupa mengunci pintu dan pergi ke sawah miliknya, sampai disana ia melihat sang Abang sedang menunjukkan sawahnya pada seseorang.
Jali pun berjalan pelan-pelan agar langkah kakinya tepat berada di belakang.
"Apa kamu yakin ingin menggadaikan sawah ini pada saya, uang yang kamu minta itu tidak sedikit," kata lelaki berumur 40 tahun pada Jaka serius menatap hamparan sawah milik Jali dua hektar itu.
"Saya yakin pak, lagian sawah ini setara dengan uang yang mau saya pinjam itu pak," Kata Jaka lagi tak sadar jika Jali sudah berada di belakangnya, Jali terus saja mendengarkan obrolan mereka.
"Memangnya kamu pinjam berapa Jaka?" Tanya Lelaki tersebut.
"Tidak banyak pak hanya lima puluh juta dan biasanya setiap panen saya bisa mengambil keuntungan sekali panen mencapi 30 juta pak, bagaimana? Apa bapak tidak tertarik dengan yang saya katakan," kata Jaka tersenyum meski ia takut jika Kali tahu kalau dia menggadaikan tanah milik adiknya.
__ADS_1
"Oke saya setuju, kalau kamu tidak sanggup bayar maka sawah ini untuk saya," kata Lelaki tersebut.
"Tidak ada yang ingin menggadaikan sawah itu," Suara Jali membuat Jaka dan lelaki tersebut menoleh kebelakang, mata Jaka membulat sempurna saat melihat adiknya.
"Ja....Li,"
"Anda siapa?" Tanya Lelaki tersebut.
"Saya pemilik sawah ini dan saya tidak menggadaikannya pada siapapun," kata Jali menatap nyalang ke arah Abangnya.
"Maksudnya apa ini Jaka?" Tanya Lelaki tadi.
"Di..a adik saya pak, kebetulan sawah ini memang miliknya," kata Jaka terbata-bata.
"Apa? Kamu ingin menggadaikan sawah orang lain pada saya lalu kenapa kamu mengakui kalau ini milikmu," hardik lelaki tersebut.
"Saya minta maaf atas kesalahan Abang saya pak, tapi saya benar-benar tidak menggadaikan sawah ini," kata Jali lagi.
"Saya juga minta maaf, hampir saja saya di tipu sama Abang mu ini. Kalau begitu saya permisi dulu," kata lelaki memang tidak diketahui.
"Pak Anton tunggu pak, kita belum selesai bicara," kata Jaka memanggil pak Anton.
"Siapa yang menghambat bang, jika milik Abang yang Abang gadaikan saya tidak keberatan tapi ini milik saya," kata Jali dengan wajah memerah.
"Halah, sawahmu sawahku juga. Kita itu sekandung tapi kamu tega melakukan itu sama Abang mu sendiri," kata Jaka mulai mengecilkan suaranya.
"Sejak kapan sawah milikku menjadi milikmu, Almarhum bapak sudah membaginya sangat rata bahkan lebih besar untuk Abang lalu kemana sawah milik Abang?" Tanya Jali membuat Jaka terdiam seribu bahasa.
"Sebaiknya Abang pergi kalau tidak, aku tidak segan-segan melaporkan Abang ke polisi meski Abang itu saudara ku," kata Jali menatap kesal pada Abangnya.
"Dasar adik durhaka," Hardik Jaka dengan kata-kata kasar pada adiknya.
Jaka pergi dengan wajah kesal, ia gagal menggadaikan sawah adiknya. Jika sawah itu bisa tergadaikan maka ia bisa membiayai pernikahan adik iparnya atas permintaan istrinya itu tapi dia gagal dan pasti akan menjadi pertengkaran di antara mereka berdua.
Jali menggelengkan kepala melihat Abangnya sudah benar-benar kelewatan, selama ini Jali berpikir jika Abangnya tidak akan menganggu mereka lagi tapi nyatanya masih tetap sama dan tidak berubah.
Setelah melihat sawah miliknya, Jali kembali pulang dan ia akan menceritakan semua ini pada adiknya, ia teringat dengan omongan istrinya jika Abangnya itu di guna-guna agar tunduk kepada istri.
Semua harta Jaka sudah di jual untuk memenuhi hasrat istrinya yang tidak masuk akal, padahal mereka memiliki anak satu yang kini baru kelas dua SD.
__ADS_1
***
Matahari sangat terik, Jali memilih menuju Cafe kakaknya sebelum pulang untuk menjemput istrinya.
"Loh Abang kapan kesini?" Tanya Lili, istrinya bekerja menjadi manager kakak iparnya.
"Baru saja dek, Abang mau ketemu sama Kak Sarah dulu," kata Jali mendapatkan anggukan oleh istrinya.
"Iya bang, sepertinya kak Sarah ada di ruangannya! Ayo kita kesana," Ajak Lili.
Jali hanya mengangguk kemudian berjalan menuju ruang kakaknya yang biasa istirahat.
"Tok...tok..tok.....
"Masuk...," Terdengar suara seseorang dari luar.
Lili membuka pintu kemudian di susul Suaminya.
"Lili, Jali, ayo masuk," kata Sarah tersenyum.
"Iya kak, aku kesini mau ngomong sesuatu," kata Jali.
"Mau ngomong apa bang?" Tanya Lili penasaran.
Drrtt... Ponsel Sarah berbunyi dan langsung mengangkatnya.
"Hallo, Apa? Lima puluh juta, mana ada uang aku segitu! Tidak, aku tidak punya uang sebanyak itu,"
Tut... Panggilan kembali di matikan kemudian berjalan ke sofa yang ada di dalam ruangannya.
"Siapa yang telpon kak?" Tanya Jali penasaran.
"Jaka dek, katanya ia ingin pinjam uang lima puluh juta," kata Sarah menghela nafas.
"Apa? Bang Jaka benar-benar gak kapok ya, ia hampir saja menggadaikan sawah milikku kak dan untung saja aku bisa menggagalkan rencananya," kata Jali.
"Apa? Menggadaikan sawah kamu, kakak heran memangnya uang itu untuk apa sih?" Kata Sarah.
"Gimana kalau kita datangi rumah Mbak Maya kak, sepertinya ada yang gak beres disana," Usul Lili.
__ADS_1
"Boleh, Ayok,"