Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Ajakan kerja sama


__ADS_3

Tok...tok... Suara ketukan pintu mengagetkan Jali dan Lili.


"Siapa bang yang datang siang-siang begini?" tanya Lill mengumpulkan uang mereka kemudian memasukkannya ke dalam lemari.


"Gak tahu dek, sebentar Abang lihat dulu," kata Jali keluar dari kamar berjalan ke arah pintu.


"Kak Sarah, ayok masuk dulu," kata Jali kaget melihat kakaknya datang mengunjungi ke kontrakan yang baru.


"Eh iya Jal, kok kamu gak bilang sama kakak kalau tinggal disini?" Kata Sarah masuk kemudian duduk di atas sofa.


"Ya, aku pikir nanti saja kak? Oh ya, ada hal apa kakak kesini?" Tanya Jali duduk berhadapan dengan kakaknya, kini Lili pun ikut bergabung dengan Kakak iparnya.


"Begini kakak mau ajak kalian buka bersama di restoran yang baru saja kakak buka satu Minggu yang lalu, sebagai syukuran jadi kalian datang nanti sore ya," kata Sarah tersenyum.


"Cafe yang mana ya, Kak?" Tanya Lili.


"Cafe Sajana, dek," kata Sarah.


"Oh Cafe yang baru di buka itu ya kak, pantesan orang kampung sini sering bukber disana. Katanya makanannya enak-enak," kata Lili tersenyum.


"Alhamdulillah, doakan saja cafenya lancar-lancar saja dek. Sekalian kakak kesini juga mau ajak kerja sama kalian," kata Sarah dengan mimik wajah serius.


"Kerja sama, menurutnya gimana ya kak?" Tanya Lili tidak paham maksud kakak iparnya.


"Begini kakak ajak kerja kalian untuk menanam saham di cafe kakak dan setiap bulan kita bagi hasil," kata Sarah setelah menerangkan pada adik-adiknya.


Usai menerangkan, Lili dan Jali saling melirik satu sama lain.


"Kalau begitu kami setuju kak tapi kakak jangan bilang sama bang Jaka kalau kami ikut menanam saham di cafe kakak," kata Jali, dia tidak ingin abangnya tahu jika Mereke memiliki uang.


"Iya, kakak janji tidak akan mengatakan apapun sama Jaka lagian nanti dia akan juga akan kakak undang," kata Sarah lagi kemudian bangkit pamit karena ingin ke rumah Jaka lagi.

__ADS_1


Jali dan Lili mengantar kakaknya ke teras rumah kemudian kembali masuk ke dalam bersama suaminya.


"Bang, anterin aku ke toko baju yok! Sekalian aku mau beli cincin sama gelang, aku mau beli baju bagus untuk datang nanti sore biar istri mu ini gak malu-maluin," kata Lili cengesan.


"Ayo, kemana pun akan Abang antar meski ke langit ke tujuh." gombal Jali pada istrinya.


"Ish, Abang gombal," kata Lili masuk ke kamar mengambil dompet berisi uang dari Zaki adiknya.


Kini mereka berada di sebuah toko baju yang ada di kota tempat ia tinggal, meski ada baju yang di berikan oleh Adik ipar dan ibunya tapi ia ingin beli baju couple biar seragam nanti waktu datang berbuka bersama keluarganya kakak iparnya.


"Bang, warna ini bagus gak?" Tanya Lili memperlihatkan baju berwarna Denim pada suaminya.


"Bagus dek, apapun akan terlihat bagus jika kamu yang pakai," kata Jali menggoda istrinya, memang benar apa yang dikatakan suaminya.


Kulit istrinya berwarna kuning Langsat membuat apapun yang di pakai akan terlihat cantik.


"Ya sudah, mbak aku ambil baju ini ya," kata Lili memberikan baju mereka kemudian berjalan ke kasir untuk membayarnya.


"Berapa semuanya, mbak?" Tanya Lili.


"Ayo bang, kita cari toko emas yang dekat sini aja ya," kata Lili menggapit tangan suaminya kemudian keluar dari toko baju tersebut menaiki motor mereka.


Mereka kembali menaiki motor mencari toko emas, Lili ingin membeli emas meski hanya kecil. Sudah lama ia tidak memakai emas kecuali cincin pernikahan mereka yang masih dia simpan.


Lili turun dari motor kemudian berjalan ke toko emas di susul suaminya di belakang.


"Mau cari apa Mbak?" Tanya pemilik toko emas tersebut.


"Saya mau cari cincin sama gelang, mbak," kata Lili.


"Mau model yang Gimana mbak, boleh di lihat-lihat dulu nanti bisa katakan yang mana jika Mbak berminat," kata pemilik toko tersebut hanya mendapatkan anggukan oleh Lili.

__ADS_1


Lili pun melihat cincin yang cocok dengan tangannya, simple tapi terlihat manis. Dia juga menanyakan pendapat pada suaminya untuk memilih cincin yang cocok.


"Bang, menurut Abang cantik yang mana ya?" Tanya Lili bingung, pasalnya yang dia lihat itu semua bagus.


"Kalau menurut Abang yang ini saja dek, emas putih kelihatan simple juga di tanganmu. Meski kecil tapi terlihat cantik, apalagi kalung sama gelangnya," kata Bang Jali memperlihatkan emas putih yang sangat simple tapi cukup cantik.


"Abah yakin kita beli sepaket langsung, takutnya kemahalan nanti," bisik Lili.


"Coba kita tanyakan dulu dek, Mbak kalau ini berapa ya?" Tanya Bang Jali menunjuk emas putih tadi.


"Semuanya ini sembilan juta lima ratus ribu rupiah, kalau mau ambil cincin aja juga boleh." Kata Mbak tadi.


"Uangnya cukup gak dek," tanya Jali.


"Cukup bang, adek ambil ini aja ya," kata Lili tersenyum.


"Kita ambil yang ini ya mbak," kata Lili kemudian mengeluarkan uang segepok dari dompetnya, uang sepuluh juta yang di berikan Zaki memang benar-benar di habis oleh Lili.


"Coba di hitung dulu mbak, tajutnya ada yang kurang," kata Abang Jali, banyak sekali orang yang membeli emas di situ mungkin karena bagus.


Namun dari belakang, Lili mendengar suara seorang perempuan. Sepertinya ia sangat kenal dengan suara itu, karena penasaran Lili pun menoleh ke belakang dan ternyata Mbak Maya, istri Abang iparnya.


"Bang, di belakang ada mbak Maya," bisik Lili pelan.


"Apa, Mbak Maya! Jangan sampai dia tahu kamu beli emas dek," kata Bang Jali lagi.


"Uangnya pas ya mbak dan ini untuk mbak," kata Mbak kasir tersebut tersenyum.


"Terimakasih, Mbak! Ayo bang," kata Lili menggeserkan tubuhnya di samping membelakangi Maya.


"May, kita ke sebelah sana aja deh! Kayaknya toko baru di buka,"kata salah seorang perempuan.

__ADS_1


"Ya sudah, padahal aku sudah berlangganan disini loh," kata Maya, Lili masih mendengarkan suara kakak iparnya.


Lili dan Jali berjalan ke arah motor mereka, kemudian langsung pulang. Bukan tidak ingin bertemu dengan kakak iparnya, hanya saja ia takut jika bertemu dengannya akan kembali datang dengan alibi berhutang.


__ADS_2