
"Jadi kamu begini bang, makan enak di restoran mewah tanpa ngajak aku dan siapa itu, perempuan yang duduk di sebelah kamu,"
Baru saja pulang, Jaka sudah di suguhi pertanyaan yang membuat ia menatap tajam ke arah istrinya. Mengingat Hanna sudah terlelap karena jam sudah menuju pukul 09 malam, Jaka memilih membawa Hanna menuju kamar putrinya agar ia tidak terbangun lagi mendengar suara Mamanya.
Maya yang di landa rasa cemburu, dadanya kembang kempis menahan gejolak amarah yang sudah mengebul di kepala.
"Jawab aku bang, siapa wanita itu hah?" Teriak Maya mengikut langkah Jaka yang sudah masuk ke kamar mereka, bukannya menjawab Jaka memilih membuka bajunya.
"Bang, kalau aku tanya itu di jawab," bentak Maya membuat Jaka benar-benar marah.
"Kenapa? Apa kamu cemburu melihat aku bersama wanita lain," ucap Jaka.
"Jangan bilang kalau kamu selingkuh bang," Maya kembali melayangkan tuduhan yang kembali membuat Jaka tersulut emosi.
"Kamu menuduhku selingkuh, padahal kamu sendirilah yang sudah selingkuh! Bagaimana makan malam sama selingkuhan kamu itu, sukses," kata Jaka tersenyum menatap istrinya meski tak di pungkiri hatinya merasakan sakit saat mendengar Maya sudah mengkhianatinya.
"Abang jangan menuduhku yang tidak-tidak ya," kata Maya mulai ketakutan.
"Oh ya, benarkah? Siapa lelaki tadi yang berbuka sama kamu di rumah ibu ya kok aku lupa," kata Jaka pura-pura mengingat nama lelaki tersebut.
"Ah, aku ingat! Adit... Itukan nama lelaki selingkuhan kamu itu dan selama ini aku kau jadikan sapi perah untuk mu dan keluarga kamu itu," kata Jaka berjalan ke arah tempat tidur sedangkan Maya cukup kaget mendengar suaminya menyebut nama Adit.
Jaka merebahkan tubuhnya dan tidur karena besok ia harus berangkat kerja ke kantor kemudian pulangnya harus bekerja di cafe untuk menambahkan pemasukan keuangan setiap bulannya.
Sementara Maya memilih ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Mentari keluar di balik celah bukit, Jaka sudah bangun dan memanaskan makanan semalam yang di ambil dari rumah mertuanya agar Hanna bisa makan. Sebelum ke kantor Jaka duluan mengantarkan Hanna ke sekolah setelah itu baru berangkat ke kantor.
Pertengkaran semalam membuat Jaka malas untuk berbicara dengan istrinya, ia memilih untuk mendiamkan istrinya itu dari pada akan terjadi lagi pertengkaran seperti semalam.
"Ayah, Mama belum bangun ya?" Tanya Hanna melihat kamar orang tuanya masih tertutup.
"Belum sayang, mungkin Mama masih ngantuk," kata Jaka menduduki putrinya di atas kursi kemudian mengambil nasi untuk putrinya.
__ADS_1
"Yah, padahal Hanna pengen di anterin sama Mama dan Ayah kayak teman Hanna yang lainnya," keluh Hanna melihat Maya tidak pernah menghantarkan putrinya ke sekolah.
"Selama ini kan memang Ayah yang selalu nganterin kamu sayang, lagian banyak juga anaknya di anterin sama Ayah mereka," kata Jaka berkata lembut pada putrinya.
"Iya sih pa, tapi aku pengen di anterin sama Mama juga," kata Hanna dengan bibir mengerucut.
"Ya sudah, lain kali aja di anterin sama Mama dan hari ini kita naik mobil biar putri ayah gak capek duduk di belakang," kata Jaka mencubit pipi anaknya.
"Nanti kalau Mama marah gimana! Kan itu mobil Mama," kata Hanna.
"Siapa bilang itu mobil Mama, mobil itu milik Hanna nanti kalau sudah besar," kata Jaka usai menyuapi putrinya, ia mengambil tas putrinya dan mengambil kunci mobil yang terletak di atas tv.
Jarak antara sekolah Hanna tidak begitu jauh, hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai kesana. Hanna duduk di samping Ayahnya, hari ini ia merasa senang karena bisa di antarkan sama mobil oleh Ayahnya.
Jaka memakirkan mobil di depan gerbang sekolah kemudian memutar ke arah Hanna dan membuka pintu mobil putrinya.
"Hati-hati sekolah ya sayang, nanti pulang sekolah Ayah jemput," Pesan Jaka pada putrinya.
"Iya Ayah tapi jangan terlambat nanti Hanna takut kalau di tinggal sendirian," kata Hanna.
Jaka kembali ke mobil, namun langkah kakinya terhenti saat melihat seseorang yang sedang turun dari taksi bersama anaknya.
"Dila.." Sapa Jaka, Dila pun menoleh ke asal suara dan tersenyum ke arah Jaka.
"Eh Bang Jaka, kok ada disini?" Tanya Dila menghampiri Jaka.
"Iya, baru nganterin Hanna sekolah? Anak kamu sekolah disini juga," tanya Jaka senang.
"Iya, kemarin aku urus surat pindahnya kesini, kalau begitu aku ketemu sama guru sekolahnya dulu," kata Dila memegang tangan Putrinya.
"Iya, duluan aja," kata Jaka.
Dila hanya mengangguk Kemudian menggandeng tangan anaknya untuk menemui kepala sekolah dan bertemu dengan wali kelasnya.
__ADS_1
"Mama, Om tadi yang semalam ya?" Tanya Chaca.
"Iya sayang, putri Om Jaka juga sekolah disini loh?" Kata Dila.
"Oh ya, asik! Jadi Chaca punya teman di sekolah," kata Chaca dengan girang karena ia mempunyai teman baru.
Dila mengulas senyum melihat putrinya begitu girang, hidup menjanda membuat dia bahagia dari pada berumah tangga tapi tersiksa. Kdrt membuat ia memilih untuk bercerai dua tahun yang lalu dan memilih membesarkan anaknya seorang diri.
Ramadhan hampir menapaki lebaran, hanya menghitung hari saja. Lili yang mabuk berat selama masa hamil hanya bisa berbaring di atas ranjang kontrakan, rasanya ia tak kuasa untuk berdiri. Dari tadi ia muntah-muntah terus karena takut terjadi apa-apa Jali memanggil dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Jali pada Dokter tersebut.
"Tidak apa-apa, Bu Lili memang mengalami morning sicknes yang berat di semester satu nanti juga akan berkurang muntah dan mualnya pak. Saya tuliskan vitamin dan resep obat untuk meringankan muntah pada Bu Lili ya pak, nanti tolong di tebus di apotik," kata perempuan berseragam putih memberikan kertas pada Jali.
"Terimakasih Dok," kata Jali.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu," Dokter tadi pamit dan di antarkan oleh mertuanya sampai depan rumah, sedangkan Lili hanya tidur memejamkan matanya.
Jali yang khawatir melihat istrinya muntah terus memilih menghubungi ibu mertuanya untuk datang kerumah dan mengatakan keadaan Lili yang muntah-muntah terus.
"Ibu, aku titip Lili sebentar soalnya Jali mau Nebus obat di apotek," kata Jali.
"Iya, kamu pergi saja biar Lili ibu yang jagain!" Kata ibu Imah tersenyum.
Jali hanya mengangguk kemudian pergi keluar menaiki motor miliknya, mengendarai dengan kecepatan sedang agar cepat sampai di apotik.
Sementara Bu Imah kembali ke kamar Jali untuk melihat keadaan putrinya.
"Bu...!" Panggil Lili masih menutup mata.
"Ada apa nak?" Tanya Bu Imah.
"Aku lapar, pengen makan bubur Bu," kata Lili, dia memang lapar tapi ia tidak mau makan takut akan muntah lagi.
__ADS_1
"Ibu buatkan dulu buburnya ya soalnya jam segini mana ada yang jual bubur," kata Bu Imah, Lili hanya mengangguk kemudian kembali tidur.
Untuk membuka mata saja begitu berat, ia tidak menyangka jika masa-masa kehamilan akan di rasakan seperti ini. Dulu, ia tidak melihat Mia seperti ini waktu mengandung si kembar tapi dia malah merasakan morning sicknes yang sangat parah.