
Plak....
Kali ini tamparan mendarat di pipi bang Jaka, ia terkejut mendapat tamparan dari Kak Sarah. Selama ini mereka berdua tidak pernah di tampar meski sudah menikah tapi kali ini Sarah benar-benar geram dengan adiknya.
"Kamu sebagai saudara punya otak gak sih Jaka, demi uang rela kamu korban saudara mu sendiri dan menuruti keinginan istri mu yang tak beretika ini," kata Sarah menatap nyalang ke arah bang Jaka yang masih memegang pipinya, mungkin kaget dan tak menyangka mendapatkan tamparan dari kakak kandung sendiri.
"Kak Sarah jangan hanya membela Jali saja dong, Bang Jaka juga adikmu," kata Maya tidak kapok meski sudah di tampar oleh Sarah.
"Iya, dia adikku tapi adik tak tau di untung! Meskinya dia sadar diri, Jali banyak mengalah dari dia. Pembagian warisan lebih banyak dia dari pada Jali karena apa? Karena dia bilang harta itu untuk anak-anak kalian tapi kini kalian menjual warisan bapak untuk mendirikan rumah semewah ini. Punya otak tidak kalian, seharusnya kalian mikir!,"
Luapan emosi kak Sarah benar-benar membuat Jaka terbungkam, ia tidak berani menjawab karena apa yang di katakan Sarah memang benar adanya. Padahal bapak sudah membagikan warisan sama Rata tapi Jaka meminta lebih itupun karena hasutan istrinya yang ingin terlihat kaya.
"Kenapa kamu diam, tidak berani menjawab kan! Kalian banyak uang setelah menjual warisan, kalian bisa membeli mobil itu tanpa menjual rumah bapak. Jika pun kamu tetap memaksa, hasilnya di bagi sama rata tidak kurang atau lebih," kata Kak Sarah menatap nyalang ke arah Jaka sedangkan Maya mendengkur kesal.
"Ayo Jali, kita pergi dari rumah ini," kata Kak Sarah.
"Ayo kak," kata Bang Jali kemudian mereka keluar dari rumah mewah milik bang Jaka.
****
"Lili, kamu kesini sendirian! Suami mana?" Tanya Bu Imah orang tuanya Lili.
"Bang Jali sedang pergi Bu, ada keperluan," kata Lili tersenyum.
"Ya sudah, ayok masuk dulu! Sore nanti kamu berbuka disini saja, kebetulan adik kamu masih nginap disini dan kita buka puasa bersama ya," kata Bu Imah tersenyum mengajak putrinya ke dalam dan bermain dengan dua si kembar.
"Bu, aku mau berbicara," kata Lili gugup.
"Bicara apa? Bicara saja Nak," kata Bu Imah.
"Tapi tidak disini Bu, aku hanya ingin berbicara dengan ibu berdua saja," kata Lili melihat si kembar sedang merangkak.
"Ya sudah, kita bicara di kamar mu saja," kata Bu Imah mendapatkan anggukan dari anak perempuan satu-satunya.
"Jadi kamu berbicara apa, Nak? Sepertinya penting sekali," kata Bu Imah.
"Mmm... Begini Bu? Ibu punya uang tidak soalnya rumah bapak mertua ku mau di jual sama bang Jaka," Adu Lili pada ibunya.
__ADS_1
Mata Bu Imah membulat sekaligus terkejut mendengar ucapan putrinya.
"Di jual, bukannya rumah itu sudah menjadi Milik Jaka," kata Bu Imah.
"Entahlah, Bu! Bang Jaka memaksa untuk menjual rumah itu dan kini aku bingung akan tinggal dimana, apalagi kami belum punya uang untuk membeli rumah itu," kata Lili terlihat sedih.
"Kalian bisa tinggal dengan ibu jika kalian mau, Nak! Rumah ini terbuka untuk kalian, lagian kamu mendapatkan warisan dari ayahmu dan kamu bisa gunakan itu kalau kamu butuh," kata Bu Imah.
Bu Imah dan Bapak Nasrul memang memberikan warisan pada anak-anak mereka lahan sawit sebesar dua hektar tapi Lili belum menerimanya karena orang tuanya masih hidup. Dia ingin orang tuanya tetap mengelolanya tanpa memberikan sepeserpun untuknya.
"Tidak Bu, bang Jali tidak ingin merepotkan ibu dan Ayah, apalagi menerima warisan dari Ayah yang masih sehat begini." Kata Lili berdiri di jendela kamarnya.
"Kalau gak begini saja, rumah bude mu kosong tidak ada yang menempati dan jika rumah itu benar di jual, kalian tinggal saja disana," Saran Bu Imah.
"Ibu benar, nanti aku bicara dulu sama bang Jali. Kalau begitu aku pulang dulu sekalian mau bilang sama bang Jali kalau ibu suruh berbuka disini," kata Lili tersenyum.
Tadi ia ke ruang orang tuanya menaiki ojek dan kini ia tidak tahu pulang pakai apa, apalagi tidak ada yang bisa mengantarkannya. Jarak tempuh ke rumahnya kalau jalan kaki cukup jauh.
"Eh Kak Lili mau kemana?" Tanya Meli saat tak sengaja hampir bertabrakan dengan kakak iparnya yang sedang keluar dari kamar.
"Aku anterin ya, sekalian nanti kita belanja buat masak sore nanti," kata Meli tersenyum, ia ingin dekat dengan kakak iparnya.
"Nanti siapa yang jagain si kembar," kata Lili.
"Kan ada ibu yang jagain, lagian Daffa dan Daffi sedang tidur jadi gak ngerepotin ibu," kata Meli lagi.
"Ya sudah kalau begitu tapi beneran gak ngerepotin kamu," kata Lili tidak enak hati.
"Iya, beneran! Kakak ini kek sama siapa aja," kata Meli menarik tangan Lili menuju ke depan sedangkan Bu Imah tersenyum melihat keduanya.
Meli mengeluarkan motor dari dalam rumah, Lili memang tidak bisa membawa motor pernah di ajarin tapi karena jatuh sampai sekarang ia tidak berani membawa motor lagi.
"Ayo, naik kak," kata Meli lagi, Lili pun naik di belakang punggung adik iparnya.
Sepanjang perjalanan Lili hanya diam di belakang, sedangkan Meli fokus membawa motor dengan cuaca yang mulai terik. Tak butuh waktu lama mereka sampai di depan rumah yang ditinggali Lili dan suaminya, terlihatlah motor matic bang Jali sudah berada di teras rumah.
Lili langsung turun dan berjalan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Abang sudah pulang?" Tanya Lili saat melihat suaminya sedang selonjoran di atas karpet.
"Baru saja, eh Meli! Masuk dek," kata Bang Jali tersenyum.
"Iya bang, di luar aja kayaknya lebih adem," kata Meli duduk di luar, selama menikah baru dua kali ia datang ke rumah kakak iparnya.
Lili duduk di dekat suaminya, menatap lelaki buang begitu ia cintai.
"Bagaimana bang, apa sudah ada kejelasan?" Tanya Lili.
"Kak Sarah tidak setuju dengan Mas Jaka tapi jika mas Jaka tetap memaksa maka hasilnya harus di bagi sama rata," kata Bang Jali menghembuskan nafas dengan pelan, aku hanya diam.
"Kamu sabar ya bang, jika rumah ini di jual kita bisa tinggal di kontrakan sementara waktu sampai kita bisa membangun rumah sendiri," kata Lili dengan air mata yang mulai mengembun.
"Maafkan Abang ya dek, Sampai saat ini Abang belum bisa membahagiakan kamu. Dua tahun menikah, rumah saja belum bisa Abang bangun apalagi yang lain dek. Maaf jika bersama Abang kamu sering menderita," kata Bang Jali sedih menatap wajah cantik istrinya yang kini nampak kusam tampak perawatan.
Bang Jali masih ingat kecantikan istrinya sebelum menikah sehingga membuat ia jatuh hati tapi setelah menikah dengannya kini nampak wajah kusam tanpa bedak menghiasi wajah istrinya.
"Abang tidak boleh berkata seperti itu, di balik derita pasti ada kebahagiaan yang sedang menanti kita bang. Aku bahagia bersama Abang meski hidup kita pas-pasan," kata Lili mencoba menguatkan suaminya.
"Oh ya bang, ibu meminta kita berbuka disana hari ini. Boleh gak, sekalian adek mau bantu-bantu masak di rumah ibu," kata Lili.
"Boleh dek, tapi Abang nanti sore aja kesana ya! Soalnya sebentar lagi Abang mau ke sawah melihat pada kita," kata Bang Jali.
"Iya bang, kalau begitu Lili duluan ke rumah ibu ya sama Meli," kata Lili lagi.
"Iya dek, hati-hati ya," kata bang Jali lagi.
Lili bangun dari tempat duduknya kemudian berjalan ke arah Meli yang sedang duduk di depan rumah.
"Ayo, Mel," ajak Vina.
"Ah, sudah izinnya kak," kata Meli.
"Sudah, nanti sore bang Jali kesana karena siang ini mau ke sawah dulu." Kata Lili.
"Assalamualaikum...,"
__ADS_1