
"Kamu beneran minta uang itu di kembalikan, Jal?" Tanya Jaka saat mereka sedang duduk di cafe kakaknya, waktu Istirahat mereka berdua memilih untuk bercengkerama.
"Ya enggaklah bang, mana mungkin aku minta kembali. Aku hanya ingin menggertak saja Bang agar tidak ada lagi korban akibat ulah Mbak Maya," ujar Jali tersenyum.
Jaka hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Bang Jaka yakin mau bercerai dari Mbak Maya, setidak-tidaknya pikirkan tentang Hanna bang," kata Jali memberi nasehat agar tidak ada penyesalan suatu saat.
"Tidak ada yang harus Abang pikirkan lagi Jal, jika masih selingkuh dengan biasa mungkin Abang bisa memaafkan tapi Abang melihat dia di atas ranjang bersama lelaki lain," kata Jaka sakit hati dengan perbuatan istrinya.
"Apapun keputusan Abang aku dukung tapi jangan sampai Hanna menjadi korban atas keegoisan kalian berdua bang," ujar Jali lagi.
Lagi-lagi Jaka hanya mengangguk mendengarkan nasehat dari adiknya.
"Lagi bahas apa sih kok serius amat?" Tanya Sarah Tiba-tiba nimbrung di antara mereka berdua.
"Gak apa-apa kak, apa ada yang harus aku kerjakan?" Tanya Jaka.
"Tidak ada, kalian istirahat saja. Oh ya, gimana omset perkebunan sawit kita bulan ini apa ada perkembangan?" Tanya Sarah duduk di samping Jaka, Mereka menoleh ke arah Jaka karena ia yang di kasih peran untuk memantau perkembangan perkebunan sawit.
"Alhamdulilah, kata Paman sih ada perubahan. Tadi paman juga mengirim bagian kita ke rekening kita masing-masing," ujar jali.
"Masak sih, kok kamu gak bilang sama aku dan kak Sarah, coba aku lihat M-banking dulu," ujar Jaka mengambil ponsel di atas meja kemudian membuka M-banking. Wajahnya tersenyum tat kala melihat nominal uang yang di kirim barusan.
"Bulan ini pendapatan dari kebut sawit naik 5% ya Kak," Senyum sumringah melihat uang masuk ke rekeningnya 35 juta membuat ia bersyujur setidaknya ia bisa melunasi kreditannya.
__ADS_1
"Iya Jaka, semoga bulan ke depan juga harus seperti ini!" Kata Kak Sarah kembali.
"Tapi paman juga sempat bilang kalau beliau tidak sanggup lagi mengelola perkebunan sawit kita," kata Jali membuat Jaka dan Sarah menatap serius pada adik bungsunya.
Jaka meletakkan ponsel begitu juga dengan Sarah.
"Maksud kamu gimana, Jal?" Tanya Sarah.
"Ya paman ingin berhenti mengelola perkebunan sawit kita, katanya beliau ingin istirahat saja di rumah tanpa harus memantau keadaan perkebunan. Katanya paman beliau ingin menghabiskan masa tau di rumah saja," Ujar Jali lagi.
"Kalau paman tidak lagi memantau terus pada siapa lagi kita mempercayakan perkebunan itu," ujar Jaka.
"Sebaiknya kita temui saja paman besok untuk membahas masalah ini dan mencari orang yang jujur untuk mengelola perkebunan kita," ujar Sarah mendapatkan anggukan dari kedua adiknya.
"Memangnya kamu mau beli apa untuk istrimu, Jal?" Tanya Sarah.
"Entahlah Kak, aku juga bingung mau kasih apa? Ada saran dari kakak gak, nanti aku juga mau minta bantu sama kakak untuk beli kue ulang tahun unniversary kami," kata Jali lagi.
"Apa ya? Gimana kalau kamu beli perhiasan saja buat Lili, kan baru dapat hasil panen dari paman." Ujar Kak Sarah.
"Bener juga kata Kak Sarah, ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya kak. jangan lupa nanti malam bang Jaka harus datang." Ujar Jali pamit Kemudian tersenyum meninggalkan cafe milik kakaknya.
Saat pulang, Jali mampir di toko perhiasaan untuk membeli kalung istrinya sebagai hadiah Unniversary yang ke 3 tahun. Selama ini Jali tidak pernah merayakann karena tidak punya uang tapi kalo ini ia benar-benar ingin membuat kejutan buat Lili.
kini Jali pun berhenti di toko perhiasan, memakirkan motornya kemudian masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ibu beneran mau jual perhiasan ini?" tanya seseorang membuat langkah Jali terhenti dan menoleh ke asal suara, Jali mengerutkan kening melihat siapa.
"Lira dan ibunya ngapain kesini? sebaiknya aku rekam saja mana tahu ada manfaatnya," ujar Jali mengambil ponsel di dalam saku celananya.
"Bagaimana lagi, Jaka meminta kembali uang yang sudah kita ambil kalau tidak kita yang akan masuk penjara, memangnya kamu mau masuk penjara," Ujar Bu Wati.
'Gak mau sih, Bu! kalau kita jual perhiasan ini maka bagaimana dengan pernikahan aku Bu," seru Lira.
"Kamu tenang saja dek, yang yang kita dapat dari kakak mu selama ini bukan hanya ini tapi masih banyak yang lain jadi kamu tidak perlu khawatir,"
Kembali ucapan Bu Wati sontak membuat Jali terkejut, merasa sudah cukup Jali mematikan rekamannya dan menyimpannya kemudian beralih ke toko perhiasan yang lain.
"Ada yang bisa yang kami bantu, Bang?" tanya karyawan tersebut.
"Saya mau cari kalung untuk istri saya," kata Jali lagi.
"Bapak bisa lihat dulu di dalam etalase, atau mau perhiasan berlian kami juga menyediakannya," ujar Pegawai tersebut tersenyum ramah.
"Boleh saya lihat berliannya?" tanya Jaka lagi.
"Oh tentu saja pak, ini" pegawai tersebut mengeluarkan perhiasan dari dalam etalase dan memberikannya pada Jali.
Namun seseorang menepuk bahu Jali dari belakang membuat Jali terkejut.
"Bang Jali...!"
__ADS_1