Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Bekerja di Cafe


__ADS_3

Lili beristirahat di kamar rasa pusing kembali menderanya, ia mencoba untuk tidur agar bisa tetap berpuasa meski tubuhnya lemah.


"Dek, kamu buka aja ya? Lihat wajah kamu pucat gitu," kata Jali duduk di samping istrinya.


"Tidak bang, aku masih kuat kok! Aku hanya butuh istirahat sebentar saja," kata Lili memejamkan matanya, Jali hanya menghembuskan nafas dengan kasar.


Namun terdengar dari luar jika ada orang yang mengetuk pintu rumah, Jali bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.


"Ibu, datang kesini sama siapa?" Tanya Jali menyalami tangan mertuanya setelah melihat tidak ada siapa-siapa.


"Ibu kesini di anterin bapak kalian," kata Ibu.


"Lalu ibu kemana, Bu!" Tanya Jali.


"Bapak pulang lagi, wong cuma ngantar ibu sebentar," kata Ibu duduk di sofa.


"Lili kemana Jal?" Tanya Bu Imah tidak melihat putrinya.


"Lagi istirahat, Bu," kata Jali.


"Apa dia sakit?" Tanya Bu Imah lagi.


"Tidak Bu, Lili hamil Bu!" Kata Jali tersenyum.


"Apa, Lili Hamil! Alhamdulillah, Allah mendengar doa-doa kalian selama ini," kata Bu Imah senang mendengar anaknya hamil.


"Iya Bu, kebetulan ibu ada disini jadi aku mau bicara sama ibu," kata Jali.


"Bicara apa, Nak,"

__ADS_1


"Beberapa hari ini Lili bisa tidak tinggal dengan ibu tidak untuk sementara, soalnya aku harus berangkat ke kampung paman karena ada sedikit masalah disana,"


"Boleh dong, ibu malah senang kalau Lili tinggal disana. Sekalian kalian pindah kesana," kata ibu tersenyum.


"Terimakasih, Bu! Biar nanti aku anterin Lili sama ibu pulang ya, ibu kalau mau istirahat di kamar juga boleh soalnya Jali mau keluar sebentar," kata Jali.


"Ya udah, biar ibu nemenin Lili disini," kata Bu Imah lagi yang hanya mendapatkan anggukan dari Jali.


"Kalau begitu aku permisi dulu, Bu," kata Jali pamit.


****


Matahari sangat terik, Jaka kini bekerja di Cafe kakaknya sebagai karyawan karena hari ini weekend. Jaka memilih untuk bekerja dan membawa Hanna putrinya karena tidak ada yang menjaga di rumah sedangkan Maya asik dengan temannya.


"Tante, Naufal mana?" Tanya Hanna gadis yang masih duduk di kelas dua SD itu menghampirinya.


"Naufal lagi main di dalam, Hanna main sama Abang Naufal aja ya," seru Sarah, ia kasihan melihat keponakannya seperti tidak terurus itu.


"Naufal...!" Panggil Sarah.


"Iya Bu," Naufal menghampiri ibunya.


"Kamu main sama Hanna ya, sayang Hanna nya gak ada teman," kata Sarah.


"Iya Bu, ayo Hanna tadi aku bawa mainan banyak loh," kata Naufal menarik tangan Hanna ke tempat sofa dengan mainan yang sudah berhamburan.


"Abang Naufal sama Hanna jangan berantem ya," pesan Sarah pada putranya.


Mereka berdua saling mengangguk, kemudian berlari ke arah sofa dan bermain bersama sedangkan Sarah berniat bertemu dengan Jaka karena kini siang hari Cafe tidak terlalu ramai orang karena masih dalam keadaan berpuasa.

__ADS_1


"Jaka," panggil Sarah.


"Iya kak, ada apa?" Tanya Jaka.


"Ikut kakak sebentar, kakak mau bicara," kata Sarah.


"Baik kak, aku selesaikan ini dulu," kata Jaka sedang membersihkan meja, kebetulan ada karyawan yang bekerja disana tidak datang karena harus menjaga ibunya yang sakit.


Tak lama Jaka datang setelah meletakkan kain pel di tempatnya, terlihat Sarah sedang duduk di ruangannya dan melihat Naufal juga Hanna sedang bermain.


"Ada apa kak?" Tanya Jaka.


"Duduk saja dulu, jangan tegang gitu kek sama siapa saja," kata Sarah tersenyum.


"Gimana istrimu, mbak lihat dia asik dengan teman-temannya! Kemarin teman mbak juga lihat istrimu jalan sama seorang lelaki," kata Sarah berhasil membuat bola mata Jaka melotot sempurna mendengar cerita kakaknya.


"Tidak mungkin kak, aku tahu dia memang ingin terlihat kaya tapi tidak mungkin dia selingkuh," sanggah Jaka tak percaya.


Selama ini Jaka selalu memenuhi keinginan istrinya meski harus mencekik lehernya akibat hutangnya pada bank.


"Lalu bagaimana dengan ini Jaka, apa kamu masih tidak percaya," kata Sarah memberikan ponsel yang menunjukkan Maya sedang berjalan dengan seorang laki-laki.


Jaka yang merasa tak di hargai merasa geram dan mengepalkan tangannya melihat foto tersebut, ia mencoba menahan gemuruh dalam dada.


"Aku memberitahu kamu tentang hal ini bukan berarti menyuruh mu untuk bercerai dengan dia tapi setidaknya kamu bisa berpikir seperti apa istrimu itu dan kamu harus cepat mengganti nama surat rumah ataupun Mobil atas namamu," kata Sarah lagi membuat Jaka terdiam.


Tok....Tok...Tok...


Suara ketukan pintu membuat Sarah terkejut, kemudian menyuruh masuk.

__ADS_1


"Maaf Mbak, ada orang di luar mencari orang atas nama Jaka," kata seorang perempuan.


"Siapa...?"


__ADS_2