
"Mbak Sarah... mbak Sarah" dari luar seseorang berteriak memanggil nama Sarah, siapa lagi kalau bukan Maya yang datang kediaman kakak iparnya.
Bang Jamal langsung keluar di susul oleh Sarah yang kebetulan baru saja pulang dari Cafe.
"Ada apa sih May, kok teriak-teriak?" Tanya Sarah melihat adik iparnya berdiri di depan pintu rumahnya.
"Mana motorku yang di bawa sama bang Jaka tadi mbak?" Tanya Maya dengan nafas memburu.
"Mana ku tahu, Jaka tidak membawa motor mu kesini. Lagian aku heran sama kamu, beli kereta adik mu kok morotin uang suami," kata Sarah jengkel pada adiknya, ia menatap sinis ke arah Maya.
"Mbak Sarah jangan ikut campur urusan aku ya, mau aku beli apa kek itu bukan urusan," kata Maya menatap tajam ke arah adik iparnya.
"Oh ya kalau begitu sekarang ganti uang saya tadi untuk membayar motor kamu kalau tidak saya akan menjualnya pada orang lain," kata Sarah geram.
__ADS_1
"Apa, ganti! Tidak bisa begitu dong biar bang Jaka yang menggantikannya pada mbak," kata Maya.
Dia tidak memiliki uang sepeser pun, selama ini ia hanya menerima uang dari Jaka setiap bulannya. Untuk membeli apa-apa dia menggunakan uang warisan milik Jaka tanpa sepengetahuan dari Jaka padahal semua itu di simpan untuk Hanna.
"Jaka sudah mengatakan jika ia tidak akan membayar hutang kamu sepeserpun, sebaiknya kamu pulang saja dulu dan ambil uangnya setelah itu aku baru memberitahu dimana motor mu berada." Ujar Sarah menutup pintu rumahnya meninggalkan Maya sendiri di luar.
Maya menghentakkan kakinya, ia merasa kesal karena tidak bisa mendapatkan motor tersebut. Apalagi sudah sore begini Jaka dan Hanna juga belum pulang, entah kemana Jaka pergi intinya ia tidak ingin pulang ke rumah.
***
"Bagaimana paman, apa paman sudah menemukan orang yang menyabotase sawit setiap bulannya?" Tanya Jali membuka obrolan, sedangkan Jaka hanya diam.
Sarah tidak memberitahu Jaka untuk apa dia ke rumah pamannya, Sarah hanya menyuruh Jaka untuk menemani adiknya dan akan menginap beberapa hari disana sedangkan Hanna tidak ingin tinggal dengan Mamanya.
__ADS_1
"Belum Jal, untuk mengetahui siapa dalangnya kalian harus bekerja sebagai buruh di kebun kalian sendiri karena yang mereka tahu, pemilik kebun sawit pemiliknya ada di Jakarta meski aku paman mu tapi aku tidak bisa berkata-kata," kata Pak Wawan pada Jali dan Jaka.
Jaka hanya diam sesekali mengelus pipi putrinya yang sudah tidur di atas pangkuannya.
"Baik paman, tapi tolong carikan kontrakan untuk kami agar mereka tidak curiga," kata Jali lagi.
"Baiklah Nak, kalau begitu kalian istirahat dulu nanti akan paman carikan," kata Paman Wawan.
Belum saja bangun, ponsel Jaka terus berdering ternyata panggilan dari istrinya. Jaka menghembuskan nafas dengan kasar dan membiarkan ponsel itu berdering.
"Angkat saja bang, mana tahu mbak Maya perlu," kata Jali.
"Tidak usah Jal, paling dia cuma minta uang dan menanyakan tentang Hanna," kata Jaka tidak ingin berbicara dengan istrinya, ia tidak habis pikir melihat Istrinya yang tega berselingkuh di belakangnya padahal semuanya sudah di berikan tapi Maya tidak pernah puas.
__ADS_1
Kini matahari mulai terbenam ke dasar laut, Jaka menidurkan putrinya kemudian ikut berbaring di samping anaknya.