
"Maya...!" Teriak seseorang dari jauh menghampirinya, Maya yang mengenal suara itu mencoba bangun dari tempat duduknya dan hendak masuk ke dalam tapi langkahnya kurang cepat.
"Bayar sini hutang mu, jangan cuma bisa berhutang tapi gak bisa bayar," hardik wanita tambun yang berdiri di depannya dengan berkacak pinggang.
Jaka dan Jali yang baru tiba di depan rumah mantan mertuanya hanya diam melihat apa yang terjadi, dengan tergesa-gesa Maya mengambil uang di dalam tasnya dan memberi kepada wanita tersebut.
"Nah, gini dong kan enak kalau sudah bayar hutang? Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu,"
Wanita tersebut memasukkan uangnya ke dalam tas lalu pergi meninggalkan rumah mantan mertua Jaka.
Maya yang tidak sadar dengan kedatangan mantan suaminya kaget ketika melihat suaminya berada di depannya.
"Bang Jaka kapan ke sini?" tanya Maya saat melihat Jali ikut bersama suaminya.
"Kami kesini untuk melihat ibunya Mbak, bukannya mbak bilang jika ibu mbak sedang sakit," ujar Jali menatap kearah Maya dan menjadi gelagapan, Maya baru ingat jika semalam bilang ibunya sakit tapi sekarang ibunya tidak ada di rumah.
"Iya, ibu se...dang sakit tapi ibu...,"
"Ibu mbak Maya gak ada di rumah begitu kan," ujar Jali spontan memotong ucapan Maya membuat matanya membulat.
__ADS_1
"Kenapa Mbak Maya harus berbohong meminta uang dengan bilang jika ibu mbak Maya sakit," hardik Jali tak suka dengan Maya yang akan menjadi kakak iparnya.
"Ya semua itu karena Abang kamu tidak memberikan saya uang selama ini," kata Maya sewot bahkan ia dengan berani menatap Jaka.
"Hai, kita itu akan bercerai jadi untuk apa kamu morotin adik saya dengan berdalih ibumu sakit. Benar-benar sinting kamu," hardik Jaka menggelengkan kepala.
"Semua itu balasan untuk kamu, anggap saja semua itu balasan karena selama ini aku sudah menjadi kakak ipar yang baik dan istri yang baik untukmu kamu," kata Maya tanpa rasa malu.
Jali masih diam mendengar apa yang di inginkan kakak iparnya itu.
"Jangan lupa ya bang, pembagian harta gono gininya karena saya juga berhak loh atas rumah itu," ujar Maya pongah.
"Harta mana yang kau maksud, rumah itu aku dirikan pakai uang dari warisan orang tuaku. Tidak ada pembagian harta gono-gini meski secuil pun kau tidak akan mendapatkan apapun," kata Jaka tidak menyangka jika wanita yang ia nikahi 7 tahun yang lalu meminta harta goni gini yang bukan haknya.
"Oh kamu mau minta harta gono-gini, kalau begitu suruh ibumu untuk membayar hutang yang ia pinjam dulu untuk biaya kuliah adikmu itu. Baru setelah itu aku akan membaginya dengan mu," kata Jaka menatap tajam ke arah istrinya.
"Apa-apaan kamu Jaka, mengungkit uang yang di berikan Maya pada ibu. Uang itu sudah terpakai buat kuliahnya Lira dan kamu tahu akan hal itu lalu kenapa kamu mengungkitnya," tiba-tiba saja Bu Wati datang menimpali pembicaraan mereka yang berada di teras rumah miliknya.
"Apa ibu lupa jika dulu ibu meminta uang dengan dalih berhutang bukan aku yang beri, apa ibu lupa?"
__ADS_1
Mata Bu Wati membulat saat mendengarkan penuturan Jaka, ia tidak menyangka jika menantunya akan mengungkit perihal uang yang sudah ia ambil.
"Tapi Maya sudah mengikhlaskannya untuk ibu tanpa memintanya lagi," kata Bu Wati masih kekeh agar Jaka tidak meminta kembali uangnya.
"Memangnya dia yang cari uang atau aku, seenaknya mengikhlaskan yang seratus juta begitu saja. Tidak, aku ingin uang itu di kembalikan kalau tidak aku akan memperkarakan semua ini ke jalur hukum,"
Gertak Jaka membuat wajah Bu Wati pucat begitu juga dengan Maya.
"Bang, jangan begitu dong sama ibuku! Meskipun begitu beliau juga pernah menjadi mertuamu," kata Maya tak suka.
"Mertua macam apa membiarkan anaknya berselingkuh di dalam rumahnya sendiri," ujar Jaka semakin naik pitam sedangkan Jali hanya diam melihat mereka adu mulut.
"Sudah, ayo bang kita pergi! Ingat ya mbak, kembalikan uang yang saya kirim semalam atau kita bertemu di kantor polisi," Ancam Jali memberi peringatan pada Maya.
"Kok pakek bawa polisi segala?"
"Ya semua itu karena Mbak mencoba menipu kami dengan berdalih ibu mbak sakit padahal ibu mbak baik-baik saja," ujar Jali.
"Tapi aku tidak punya uang untuk menggantikannya, uangnya sudah aku pakai buat bayar hutang," kata Maya ciut.
__ADS_1
"Saya tidak mau tahu, pokoknya uang itu harus mbak kembalikan," kata Jali kemudian pergi meninggalkan rumah Bu Wati.
Jali dan Jaka menaiki motor masingmasing kemudian pergi meninggalkan Maya bersama Bu Wati yang masih bengong di depan teras.