
"Jaka... buka pintunya!" Teriak Kak Sarah menggedor pintu rumah Jaka di pagi hari, berulangkali mengetuk pintu akhirnya terbuka juga. Wajah Sarah pagi ini sangat tidak bersahabat, entah kenapa? Ia merasa amarahnya kali ini tidak bisa lagi di tahan.
"Apaan sih kak, pagi-pagi kesini teriak-teriak? Gak ada kerjaan lain ya," hardik Maya membuka pintu rumahnya.
Plak...Plak...
Tamparan mendarat di pipi kiri dan kanan Maya, sakit dan perih tentu saja di rasakan olehnya.
"Kak Sarah, kok datang-datang main nampar istri aku aja," tiba-tiba Jaka datang berdiri di samping istrinya.
Bukannya menjawab Sarah kembali melayangkan tamparan pada adiknya.
Plak..plak...plak...
Kali ini Sarah cukup keras menampar adiknya, tangannya ikut terasa perih.
"Kakak apa-apaan sih, nampar aku dan istriku, salah kami berdua apa?" Kata Jaka menatap tajam ke arah kakaknya.
"Tamparan itu buat kamu yang tega pada saudara sendiri, kenapa kamu tega ingin mencuri sertifikat rumah bapak Hah?" Tanya Sarah dengan nafasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang sudah memuncak.
Tadi pagi ia melihat video yang di kirimkan adiknya Jali dan semua itu membuat amarahnya menggebu-gebu sehingga pagi sekali ia mendatangi rumah Jaka adiknya.
__ADS_1
Mata Mita dan Jaka melotot, ia tidak menyangka kakaknya tahu.
"Kak Sarah jangan ngomong sembarangan ya, apalagi menuduh kami tanpa bukti seperti itu," kata Jaka mencoba biasa saja padahal hatinya sudah kacau.
"Oh kalian mau buktinya, sebentar saya perlihatkan dan setelah ini akan aku bawa kalian ke kantor polisi," kata Sarah merogoh ponsel di dalam saku gamisnya, Maya dan Jaka saling melirik denah wajah panik.
"Apa bukti ini belum cukup Hah," kata Sarah memperlihatkan rekaman mereka semalam, hampir saja mata Jaka melompat keluar begitu juga dengan Maya.
"Da...ri mana Kak Sarah mendapatkan video itu?" Tanya Jaka gelagapan begitu juga dengan Maya yang sudah tertangkap basah.
"Kamu tidak perlu dari mana aku mendapatkan video ini, yang saya ingin tahu kenapa kamu lakukan semua ini??" Tanya Sarah dengan kilat arah di matanya.
"Ya semua itu aku lakukan karena Kakak, kakak tidak mau menjual rumah bapak," kata Jaka dengan takut, takut jika tamparan Sarah kembali mendarat di wajahnya.
Kemudian pergi meninggalkan rumah mewah milik adiknya tanpa berbicara seperti itu lagi.
"Huh, untungnya kakak mu itu tidak mencebloskan kita ke dalam penjara, bang," kata Maya duduk di sofa, ia merebahkan tubuhnya ke belakang menyandarkan kepalanya.
Bukannya menjawab, Jaka hanya diam setelah kepergian kakaknya. Ia masih ingat gimana perkataan kakak yang kecewa terhadap dirinya tapi mau kemana lagi, ia harus melakukan hal itu hanya untuk memenuhi hasrat istrinya yang ingin di anggap ada oleh tetangganya.
Sarah pulang dengan membawa sejuta luka karena adiknya, ia mampir ke rumah Jali untuk melihat keadaan mereka dan ingin mengatakan jika rumah itu akan di jual tapi sebelum itu dia akan mencari kontrakan untuk adik dan istrinya.
__ADS_1
Kini ia tiba di depan rumah peninggalan orang tuanya, begitu banyak kenangan mereka sejak kecil.
"Kak Sarah, ayo masuk dulu," kata Lili melihat kakak iparnya turun dari mobil.
"Iya Li, Jali mana?" Tanya Kak Sarah.
Sarah duduk lesehan di atas tikar, ia melihat rumah peninggalan orang tuanya. Tidak ada yang berubah masih sama seperti dulu.
"Eh kak Sarah, Ada apa kak?" Tanya Jali duduk di dekat kakaknya.
"Kakak mau bicara sesuatu sama kamu," sambung Kak Sarah lagi.
"Memangnya mau ngomong apa, Kak?" Tanya Jali penasaran.
"Jadi begini Jal, kakak tidak mau kalau Jaka mengganggu kamu lagi jadi kakak setuju jika rumah ini di jual. Besok kakak akan memasang iklan agar rumah ini cepat terjual," kata Sarah berat hati.
Mendengar hal itu merasa Jali terkejut kemudian menatap mata kakaknya.
"Kalau begitu besok aku sudah mulai mencari kontrakan kak tapi setidaknya tidak terlalu cepat," kata Jali.
"Iya dek, kakak harap hasil pembagiannya nanti kamu gunakan sebaik-baiknya untuk masa depan kamu dan Lili," kata Sarah.
__ADS_1
Jali hanya mengangguk kemudian menatap ke depan sedangkan Lili hanya berdiam diri di kamar.