Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
bab 29


__ADS_3

Kini Lili dan Jaka sudah sampai rumah, masalahnya sudah selesai sehingga bisa pulang menemui istrinya. Lili masuk ke rumah yang sudah seminggu ia tinggalkan selama menginap di rumah orang tuanya.


"Bang, Lili pengen makan gado-gado," kata Lili ngidam.


"Gado-gado, mana ada yang jual jam segini dek? Ini masih siang," kata Jali melirik arloji di tangannya masih pukul 02 siang.


"Tapi aku pengennya sekarang Abang!" Kata Lili dengan wajah sendiri.


Entah kenapa? Ia ingin sekali makan gado-gado siang ini, membayangkan saja sudah membuat air liurnya hampir saja keluar.


"Gimana kalau Abang bikin saja gado-gadonya ya?" Ujar Jali lagi.


"Gak mau, aku mau gado-gadonya mbak Warsih yang warung ujung sana itu," tunjuk Lili lagi.


"Ya sudah, Abang cari dulu ya? Semoga aja mbak Warsih buat gado-gadonya," kata Jali lagi mengalah, mungkin istrinya memang lagi ke pingin makan gado-gado dan itu harus di penuhi.


Lili mengangguk kemudian tersenyum membiarkan suaminya pergi dengan motornya sedangkan ia memilih masuk ke kamar untuk kembali beristirahat.


Matahari perlahan mulai turun, suara ketukan pintu membuat ia terbangun ternyata Lili tidur sudah terlalu lama melihat jam sudah menuju pukul 04 sore.


Lili bangun beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan tidak terdengar lagi ketukan suara pintu mungkin suaminya sudah membukanya.

__ADS_1


"Eh, Siska, ada apa kesini?" Tanya Lili saat keluar dari kamar dan mendapati Siska berada di rumahnya.


"Saya datang kesini untuk mengembalikan uang yang tempo hari saya pinjam Bu, karena pertolongan bapak dan ibu, ibu saya bisa selamat," kata Siska tersenyum kaku.


"Semua atas pertolongan Allah, kami hanya perantaranya saja," kata Jali tersenyum.


"Oh ya, ini uangnya Pak, Bu," kata Siska memberikan uang dalam amplop berwarna coklat.


"Terimakasih ya Sis," kata Lili.


"Kalau begitu saya pamit dulu, Bu!" Seru Siska seraya bangkit dari tempat duduknya sedangkan Lili berjalan ke dapur mencium bau gado-gado membuat ia lapar.


"Udah Abang bangunin tapi kamunya aja yang gak mau bangun," kata Jali lagi mengikuti langkah istrinya di belakang.


"Kok Abang ngikutin aku?" tanya Lili lagi berhenti kemudian menghadap suaminya.


"Memangnya kenapa? aku cuma mau menemani kamu makan dek," kata Jali.


"Gak usah Abang, lagian aku gak mau di temenin sama Abang! Abang istirahat saja ya," pinta Lili.


"Baiklah," kata Jali mengalah dengan keinginan istrinya.

__ADS_1


Jali masuk ke dalam kamar dan ingin beristirahat tapi Jali tidak bisa karena banyak sekali tumpukan pekerjaan. Belum lagi ia harus mengurus ladang mereka sendiri tanpa harus menyuruh pada orang lain.


Mentari mulai kembali ke peraduannya, kini giliran di rumah Jaka mendapatkan untuk berbuka bersama, Jali dan Lili sudah tiba di rumah Abang iparnya kecuali Sarah yang belum datang bersama keluarga.


"Eh, Kalian sudah datang," kata Maya keluar dari kamar dengan dandanan cetar membahana.


Lili dan Jali saling pandang sehingga pandangan mereka saling beradu.


"Mbak sudah masak untuk menu berbuka?" tanya Lili membuka obrolan.


"Belum, lagian kalau mau berbuka disini kita pesan aja kalau bikin sendiri itu capek. Apalagi seperti mbak ini gak punya waktu untuk berada di dapur," Kata Maya dengan memperlihatkan kukunya yang baru saja di cat.


"May,, kamu gak masak?" tanya Jaka.


"Gak bang, tadi udah aku pesan makanan di restonya mbak Sarah," kata Maya.


"Apa, kamu pesan makanan di Cafenya kak Sarah, kamu punya uang dari mana?" tanya Jaka heran pasalnya ia tidak memberikan uang pada Maya.


"Ya ngutang lah bang, nanti di potong aja gaji Abang setiap bulannya. Abang kan tahu sendiri kalau aku malas masak," kata Maya lagi.


"Astagfirullah, Maya...,"

__ADS_1


__ADS_2