Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
bab 43


__ADS_3

"Tapi, Bu,"


"Tidak ada tapi-tapian, kamu harus bisa mengambil uang dari adiknya setidak-tidaknya kamu punya pegangan karena ibu yakin kalau adiknya tidak tahu jika suami kamu sudah menceraikan kamu." Bu Wati kembali mendesak.


"Bagaimana jika Jali tidak memberikannya, Bu?"


"Kamu kan bisa mencari alasan agar mereka memberikan uang, enak saja si Jaka main cerai anak orang! kamu sih kok bisa ketahuan sama si Jaka," omel Bu Wati pada putrinya.


"Iya kak, Kak Maya nangis-nangis aja bilang kalau ibu sakit gitu pasti tuh si Jali dan Lili itu simpati sama kak Maya sebelum mereka tahu kalau kak Maya sudah di ceraikan sama bang Jaka," timpal Lira yang dari tadi hanya menjadi pendengar saja kini ikut berkomentar.


"Kamu telepon mereka sekarang, ayo cepat," pinta Bu Wati.


Maya menelan Salivanya kemudian menekan tombol menghubungi nomor Lili, beberapa kali tidak juga di angkat membuat Maya frustasi.


"Gak di angkat, Bu," ujar Maya terus coba menghubungi Jali.

__ADS_1


"Kamu chat saja kalau tidak, pasti nanti mereka akan baca," kata Bu Wati lagi, Maya hanya mengangguk kemudian mengirim pesan pada Lili dan Jaka.


****


"Mas lihat deh pesan Mbak Maya," ujar Lili memberikan ponsel pada suaminya.


"Memangnya Mbak Maya kirim pesan apa, Dek?" tanya Jali yang baru saja selesai shalat magrib.


"Mas lihat aja sendiri," kata Lili, Jali mengerutkan kening kemudian mengambil ponsel di tangan istrinya dan membuka pesan chat dari Maya.


"Kok Tumben Mbak Maya minta di kirimin uang ya, Dek! apalagi Mbak Maya bilang jika ibunya sedang sakit dan butuh biaya pengobatan," kata Jali keheranan pasalnya ia bisa menghubungi bang Jaka tanpa harus mereka.


"Jadi di bantu gak nih," tanya Jali.


"Boleh, kirim aja 5 juta nanti kita bilang sama bang Jaka kalau kita udah transfer uangnya sama mbak Maya," kata Lili kembali bersuara.

__ADS_1


Jali hanya mengangguk kemudian mentransfer uang sebanyak 5 juta pada kakak iparnya, Maya yang melihat M-banking dari Jali tersenyum bahagia dan merasa senang karena sudah menipu adik iparnya.


Kini ia berjalan ke kamarnya untuk istirahat sedangkan ibunya dan Lira sudah terlelap mungkin mengangguk karena dari tadi jalan terus bersilahturahmi dengan para tetangganya.


****


"Tok...tok..tok..., May buka pintunya," teriak ibu Wati dari luar mengetuk pintu kamarnya.


Maya yang masih terlelap akhirnya bangun karena suara ibunya yang cempreng membuat paginya berantakan, perlahan ia berjalan membuka kenop pintu menyembur kepalanya dari dalam.


"Ada apa sih, Bu! kok pagi-pagi udah teriak aja?" tanya Maya masih mengantuk.


"ibu minta uang, mau belanja sekalian mau beli sarapan," kata Bu Wati menengadahkan tangan di hadapan putrinya.


"Tunggu sebentar, Bu," kata Maua menutup pintu kamar kemudian membuka tas mengambil dompet mengambil uang ratusan 5 lembar.

__ADS_1


"Nih Bu, cukup kan! ibu beli makanan yang enak, aku mau tidur lagi ngantuk," kata Maya memberikan uang pada ibunya, dengan mata binar Bu Wati mengambil uang tersebut kemudian meninggalkan putrinya tanpa berucap terimakasih.


Memang sudah sifatnya seperti itu sehingga membuat Maya tak ambil pusing, ia juga tahu jika ibunya gila akan kekayaan tapi sayangnya mereka hidup sederhana sehingga untuk memenuhi keinginan ibunya ia harus bekerja dulu sebelum menikah dengan Jaka.


__ADS_2