Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Siapa?


__ADS_3

Tok....Tok...Tok...


Suara ketukan pintu membuat Sarah terkejut, kemudian menyuruh masuk.


"Maaf Mbak, ada orang di luar mencari orang atas nama Jaka," kata seorang perempuan.


"Siapa...?" Tanya Sarah.


"Saya juga gak tahu Bu" kata karyawan tersebut.


"Ya sudah kalau begitu, terimakasih ya! Ayo Jaka kita lihat orang yang menemui kamu," Ajak Sarah pada adiknya untuk melihat siapa yang datang ke Cafenya.


Terlihat dua orang lelaki berpakaian rapi sedang duduk di meja kosong.


"Permisi, apa bapak yang tadi mencari Pak Jaka," tanya Sarah tersenyum.


"Iya Mbak, kami hanya ingin menagih uang pembelian motor," kata Lelaki tersebut yang memakai baju putih.


Mata Jaka melotot saat mendengar jika mereka ingin menagih uang pembelian motor mengatakan namanya padahal ia tidak tahu jika istrinya membeli motor.


"Maaf Pak, tapi saya tidak merasa membeli motor," kata Jaka bingung.


"Bapak memang tidak membeli motor tapi istri bapak yang melakukannya Bu Maya dan dia meminta kami untuk mendatangi anda untuk meminta bayaran," kata lelaki dengan taq nama Wisnu.


"Apa, Maya? Tapi pak saya tidak mau membayarnya karena saya merasa tidak membeli motor itu, mungkin bapak bisa langsung meminta kepadanya dan jika ia tidak bisa membayar, bapak bisa menarik kembali motor itu," kata Jaka menahan geram.


"Tak bisa begitu dong pak! Semua surat sudah di urus dan kami juga mempunyai KTP bapak, jadi kami kesini untuk mengambil uang," kata lelaki tersebut ngotot.

__ADS_1


"Apa? KTP saya tapi saya ada di tangan saya pak," kata Jaka tidak pernah merasa memberikan KTP pada Maya.


"KTP bapak ada di tangan kami, ini buktinya," Lelaki tersebut mengeluarkan KTP milik Jaka, ia benar-benar geram karena tidak menyangka jika Maya akan melakukan semua itu terhadap dirinya.


"Begini saja pak, emang motor apa yang di ambil oleh istrinya adik saya," tanya Sarah tak ingin membuat suasana keruh.


"N_Mox Mbak, ini harganya," kata Lelaki tersebut.


"Biar saya saja yang bayar," ujar Sarah melihat jumlah yang tertera di depannya.


"Tidak usah Kak, biar uang...,"


"Sudah, biar Kakak yang bayar! Lagian Mbak gak mau kamu di permalukan sama mereka," kata Sarah tersenyum kemudian mentransfer sejumlah uang pada rekening yang di berikan oleh lelaki tersebut.


"Kalau begitu kami permisi dulu, Mbak, Pak," kata dua lelaki tersebut meninggalkan cafe, kemudian Sarah melangkah masuk ke dalam.


"Iya, Jak, ada apa?" Tanya Sarah.


"Aku boleh izin pulang sebentar gak kak, aku mau bertemu dengan Maya," kata Jaka.


"Boleh, selesaikan masalah kalian dengan baik-baik," ujar Sarah tersenyum kemudian kembali berjalan ke dalam untuk melihat Naufal dan Hanna.


Jaka melajukan motornya dengan kencang agar cepat sampai ke rumahnya, ia tidak bisa membiarkan Maya terus berbuat seenaknya dan akhirnya membuat ia menderita. Tak butu waktu lama, ia sampai di halaman rumahnya dan melihat motor baru teronggok santai di halaman membuat darahnya kembali mendidih.


"Mbak Maya terimakasih udah beliin motor baru untuk aku," langkah Jaka terhenti saat mendengar suara Lira, ternyata tidak hanya ada istrinya di rumah tapi juga adik iparnya.


"Iya dek, Mbak akan memberikan apapun untuk kamu," kata Maya tersenyum.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Bang Jaka tidak mau membayar motornya Mbak?" Tanya Lira khawatir.


"Tidak mungkin dek, apapun yang Mbak minta Abang iparmu itu selalu memberikannya," kata Maya tersenyum tidak sadar jika suaminya kini sudah berada di dekatnya.


"Bang Jaka, kapan pulang? Tadi aku beliin motor baru untuk kamu loh bang, bagus gak," ujar Maya tersenyum tanpa jeda.


Plak...plakk....


Tamparan keras kali ini mendarat di pipi mulus Maya, perih tentu saja membuat Lira membulatkan mata.


"Abang kok datenng- dateng main nampar saja, memangnya salah aku apa?" Teriak Maya.


"Kamu masih nanyak salah kamu apa? Untuk apa kamu membeli motor mengataskan namaku hah, kau pikir aku punya uang untuk membeli motornya.


"Sekarang kemasi barang-barang kamu, cepat," bentak Jaka.


"Apa-apaan sih bang, gitu aja marah! aku beli motor itu untuk Lira supaya dia punya motor,"


Kata Maya tanpa merasa bersalah.


"Kamu mau beli motor untuk adikmu itu terserah tapi jangan pernah menyuruh membayarnya padaku," kata Jaka lagi, ia melihat kunci motor terletak di atas meja sofa dan langsung menyambarnya.


"Apa-apaan kamu bang, kembalikan kunci motor itu," pinta Maya.


"Tidak, Motor ini milik Kak Sarah! dia yang sudah membayar pembelian motor mu itu dan kini mobil itu menjadi miliknya," kata Jaka keluar dari rumah kemudian menghampiri motor N-Mox tersebut.


Maya terus berteriak menyuruh suaminya berhenti tapi Jaka tidak peduli, ia terus mengendarai motor sedangkan Lira menangis histeris karena motor keinginannya di bawa Abang iparnya.

__ADS_1


__ADS_2