Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Bab 12


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian itu, kini rumah yang di tempati Jali dan istrinya laku terjual dan mereka mendapatkan hak sebesar 50 juta masing-masing, Jali memilih menabung di bank agar kejadian tempo hari tidak terulang lagi. Sedangkan Sarah di gunakan untuk membangun bisnis sementara untuk Jaka, mereka tidak mau tahu.


"Bang kok melamun, ada apa?" Tanya Lili istrinya.


Kini mereka menempati rumah bude Lili karena rumah itu tidak bada yang menyewanya dan tidak jauh dari tempat ia dulu tinggal sehingga bisa melihat sawah mereka.


"Gak kok dek, Abang cuma lagi mikir cocoknya beli tanah dimana ya," tanya Bang Jali pada istrinya.


"Memangnya Abang mau beli tanah, apa uangnya sudah cukup bang?" Tanya Lili lagi.


"Cukup sih belum dek tapi kemarin kan kita panen padi dan hasilnya mencapai 10 juta, belum lagi uang dari penjualan rumah bapak itu dek," kata Bang Jali lagi.


"Kita tunggu sampai uangnya cukup dulu ya bang, soalnya aku mau beli tanah yang di pinggir jalan," kata Lili lagi.


Hari ini Bang Jali tidak ke sawah, ia hanya beristirahat di rumah bersama istrinya. Kadang sore hari ia hanya pergi ke kebun.


"Di pinggir jalan, tanah yang mana dek?" Tanya Bang Jali.


"Itu bang, Tanah kosong di jalan Mayang Sari," kata Lili.


"Oh tanah itu, semoga saja tanah itu belum di jual ya dek," kata Bang Jali yang hanya mendapatkan anggukan dari istrinya.


Selama tinggal di rumah kontrakan membuat Bang Jali dan istrinya merasa nyaman, meski rumah itu milik bude Lili tapi Bang Jali tetap membayar sewa seperti penyewa yang lain. Ia tidak ingin dikasihani oleh orang lain.


"Bang, apa kabar ya bang Jaka?" Tanya Lili penasaran dengan Abang iparnya yang dulu sangat kekeh menjual rumah bapak mereka.


"Entahlah dek, Abang gak tahu juga! Mungkin saja mereka sudah membeli mobil seperti keinginan mbak Maya," kata Bang Jali menghela nafas.

__ADS_1


Lili yang sedang bermain ponsel, tak sengaja melihat status Mbak Maya dengan Caption.


'Begini enaknya punya mobil baru'


tak lupa mbak Maya berpose berdiri di samping mobil.


"Bang lihat deh ternyata benar Mbak Maya beli mobil baru," kata Lili memperlihatkan status Mbak Maya.


"Jangan terlalu kepo dengan kehidupannya dek, mana tahu semua itu tidak sesuai kenyataan," kata Bang Jali membuat istrinya mengerutkan kening, ia meringis karena suami hanya biasa saja.


"Ah, bang Jali gak asik," kata Lili dengan wajah cemberut.


"Sudah, jangan cemberut gitu nanti puasanya batal loh. Nanti mas beliin kamu mobil kalau sudah punya uang," bang Jali tertawa mencubit hidung istrinya yang tidak mancung itu.


"Ih, Abang! Bukan begitu, oh ya aku mau bilang sesuatu sama Abang," kata Lili.


"Mau bilang apa dek?" Tanya Jali penasaran.


"Loh, kenapa labanya di berikan sama kamu dek! Seharusnya kan sama ibu," kata Bang Jali bingung.


"Begini loh bang, setiap bapak panen sawit selalu menyisihkan uang untuk adek tapi adek tidak mengambilnya selama ini sedangkan bagian Zaki, ia ambil setiap panennya," kata Lili menjelaskan pada suaminya.


"Jadi uang bagian adek di simpan sama ibu dan Abang tahu gak berapa yang dia pinjam," kata Lili.


"Memangnya berapa dek?" Tanya Zaki.


"Lima puluh juta, bang," kata Li.

__ADS_1


"Apa, lima puluh juta! Sebanyak itu dek," kata Jali kaget, selama ini ia memang tidak pernah mengurusi hak istrinya sekalipun ia tahu jika istrinya juga memiliki warisan.


"Iya bang, adek aja gak nyangka, sebentar aku ambilkan uangnya dek," kata Lili beranjak dari ranjang kemudian turun menuju lemari mereka, Lili mengeluarkan sesuatu dengan amplop coklat di tangannya.


"Memangnya berapa di kasih sama Zaki, dek?" Tanya Jali menegakkan tubuhnya.


"Gak tahu bang soalnya aku belum ngitung uangnya, kita hitung sama-sama ya bang," kata Lili duduk di dekat suaminya.


Lili membuka amplop tersebut kemudian menghitung uang di depan suaminya.


"Berapa sama kamu dek," tanya Jali.


"Lima juta bang, kalau sama Abang berapa?" Tanya Lili.


"Lima juta juga dek, uang ini milik adek jadi gunakan apa yang ingin adek beli," kata Bang Jali.


"Uangnya aku beli emas ya bang," kata Lili.


"Boleh, terserah sama adek," kata Jali.


"Tapi besok temenin ya bang tapi sekarang Abang temenin aku ke pasar dulu," kata Lili.


"Ya sudah, Abang siap-siap dulu dan setelah itu baru kita pergi belanja," kata bang Jali.


"Eh, tapi kayaknya aku malas masak bang, gimana kalau pesan aja sekali-kali ya bang," kata Lili, entah kenapa? Akhir-akhir ini ia malas masak karena bumbu-bumbu dapur membuat kepalanya terasa pusing.


"Terserah sama adek aja, uang belanjakan sama Adek," kata Jali.

__ADS_1


Tok...tok... Suara ketukan pintu mengagetkan Jali dan Lili.


"Siapa bang yang datang siang-siang begini?"


__ADS_2