
"Bagaimana bang, apa kamu sudah mendapatkan uangnya?" Tanya Maya saat Jaka baru saja sampai langsung menanyakan uang pada suaminya, Jaka yang baru saja masuk rumah menatap tajam ke arah istrinya.
"Tidak dek, tidak ada orang yang mau meminjamkan uang sebanyak itu. Lagian pernikahan adikmu kenapa kita yang harus tanggung sih," kata Jaka berjalan ke dapur mencari air minum, ia begitu haus.
"Bang, Lira adik aku sudah sewajarnya kita yang menanggung pernikahannya. Apalagi ibu tidak punya uang," kata Maya memelas.
"Kalau tidak punya uang kenapa pernikahannya harus mewah, kita aja dulu nikah di KUA. Bilang saja sama ibumu kalau uangnya tidak ada, lagian aku tidak sanggup membayarnya," kata Jaka meninggalkan Maya sendiri di dapur, ia memilih untuk ke kamar merebahkan tubuhnya begitu lelah.
Rekaman video tadi terus berputar di kepalanya, ia tidak habis pikir jika Maya tega melakukan itu padanya yang tak lain suaminya sendiri.
"Bang, kalau Lira nikah di KUA malu dong di lihat sama tetangga. Bisa di cap aku sebagai kakak pelit banget sampai adik sendiri nikah di KUA," kata Maya mengejar suaminya.
"Kalau begitu kamu saja yang membiayai pernikahan adikmu tapi bukan uang aku," kata Jaka lagi.
Maya terdiam mendengar ucapan suaminya, tak biasanya ia seperti ini.
"Sepertinya aku harus memberikan ramuan itu lagi, sebaiknya aku buatkan kopi saja seperti biasanya," Gumam Maya pelan kembali ke dapur untuk membuat kopi dan dia akan mencampurkannya ke dalam kopi sehingga Jaka tidak pernah mengetahui.
"Bang, kopinya di minum dulu," ujar Maya meletakkan kopi di atas nakas samping tempat tidurnya, Jaka mengerut kening kemudian menatap segelas cangkir kopi dan ia langsung teringat dengan peringatan adiknya.
"Sejak kapan kamu membuatkan kopi tanpa di suruh May?" Tanya Jaka mengambil handuk.
__ADS_1
"Abang kok gitu gak menghargai aku banget," kata Maya pura-pura cuek.
"Ya bukannya selama ini kamu terlalu asik dengan teman-teman mu itu sampai-sampai kamu lupa punya suami dan anak di rumah, sudah letakkan saja kopi disitu nanti aku minum jika sudah mandi," kata Jaka masuk ke kamar mandi tanpa menoleh ke arah Maya.
Selama ini Jaka akan senang jika Maya mau membuatkan kopi untuknya tapi kali ini ia bahkan enggan menatap istrinya yang begitu cantik tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu aku keluar dulu. Jangan lupa kopinya diminum," peringat Maya sekali lagi.
Bukannya menjawab, Jaka langsung menutup pintu kamar mandi dan membasahi tubuh yang panas akibat ulah istrinya, mulai sekarang ia tidak akan lagi memberikan uang pada Maya kecuali uang belanjaan.
****
Hoek...Hoek....
Suara muntahan Lili terdengar dari arah kamar mandi, Jali yang sedang mengambil baju ganti langsung berlari ke arah istrinya.
"Kamu kenapa, Dek?" Tanya Jali khawatir.
"Gak tahu bang, sepertinya aku masuk angin," kata Lili masih muntah.
"Ya sudah, kamu istirahat aja ya biar nanti Abang kerokin jika kamu bener masuk angin," kata Jali membawa istrinya ke dalam kamar setelah muntah selesai.
__ADS_1
"Kok kepala ku pusing bang, kamar kita kok muter-muter ya bang," kata Lili memejamkan matanya.
"Mana ada rumah kita muter-muter dek, ada saja kamu ini. Sekarang kamu berbaring saja biar Abang ambil minum," kata Jali merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.
"Aku kan masih puasa bang," kata Lili.
"Kan muntah dalam keadaan tidak sengaja gak batal bang, lagian waktunya tinggal sedikit lagi. Aku tidur sebentar nanti juga sehat," kata Lili.
"Ya udah, kamu istirahat saja! Nanti kalau ada apa-apa panggil Abang ya," kata Jali lagi.
Lili tidak menjawab, ia hanya diam memejamkan mata karena kepalanya pusing. Ia merasakan jika kamarnya berputar-putar layaknya gasing membuat ia tak ingin membuka mata.
Karena istrinya sudah tidur, Jaka mengambil ponsel dan berselancar di media sosial, ia tak sengaja melihat kakak iparnya sedang berpose dengan seorang lelaki.
"Siapa lelaki bersama Mbak Maya, apa Mbak Maya selama ini berselingkuh," gumam Jaka sendiri.
Tok....Tok....Tok...
"Tunggu sebentar," ujar Jali berjalan ke arah pintu kontrakannya dan langsung membuka pintu.
"Kamu..."
__ADS_1