
Azan subuh berkumandang membangun setiap insan untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslim, begitu juga dengan Lili. Dia bangun dari tempat tidur dan tak sengaja melihat testpack di atas meja hiasnya.
Ia pun menghembuskan nafas dengan lemah, menatap suaminya yang masih meringkuk di bawah selimut dan beranjak ke kamar mandi untuk melakukan tes urin.
Biasanya kata orang kencing pertama setelah bangun tidur itu lebih cepat terdeteksi.
"Kalau aku hamil pasti akan membuat bang Jali kecewa," gumam Lili membatin.
Dia pun mengambil wadah kecil yang memang di sediakan di kamar mandinya dan mulai menampung urin miliknya.
Lili mulai mengeluarkan testpack yang pertama, jantungnya berdetak sangat kencang. Urinnya naik hingga pembatasan lalu minggunya sampai 15 menit.
Lili memejamkan mata takut jika ia kembali melihat garis satu di alatnya, namun saat membuka mata Lili terkejut melihat harus dua yang tidak begitu terang dan tak juga begitu sabar.
"Pasti testpack ini salah, sebaiknya aku coba merek lain aja," gumam Lili dengan tangan bergetar kembali membuka testpack yang selanjutnya sehingga lima buah testpack tersebut menunjukkan garis dua.
__ADS_1
Karena tak sanggup menahan rasa haru bahagia, akhirnya yang di nanti-nantikan tiba. Allah berikan keturunan di saat perekonomian mereka yang meningkat.
"Abang...!" Teriak Lili dari kamar mandi membuat Jali terlonjak kaget kemudian berlari ke kamar mandi.
"Kamu kenapa teriak dek, apa kamu jatuh? Mana yang sakit, kenapa kamu menangis," kata Jali khawatir meski ia merasa pusing karena bangun dalam keadaan kaget.
Sambil menangis Lili memberikan testpack yang ada di tangannya, Jali ingatannya masih belum kembali merasa bingung dengan apa yang di berikan istrinya.
"Ini apa dek?" Tanya Jali lagi, Lili tidak menjawab kemudian menunjukkan garis dua pada alat tersebut.
Jali mengucek matanya beberapa kali agar penglihatan lebih terang, takut jika ada belek yang menempel di matanya.
Tangisannya benar-benar pecah saat berada di dalam pangkuan suaminya, rasa bahagia yang tak bisa dilukiskan kini menghiasi dua si joli tersebut.
"Sudah, kamu gak usah nangis lagi! Sekarang kita wudhu setelah itu shalat. Nanti pagi ke dokter untuk memeriksa kandungan kamu," kata Jali menghapus jejak air mata istrinya meski ia ikut menangis bahagia karena tak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah.
__ADS_1
Lili mengangguk, ia tidak bisa bicara apa-apa hanya rasa bahagia yang menyelimuti hatinya.
Jali keluar membiarkan istrinya untuk berwudhu lebih dulu setelah itu baru dia, ia ingin memanjatkan doa dan rasa syukur pada sang khalik karena sudah memberikan keturunan setelah dua tahun menanti.
Kini pagi telah bersinar, kicauan burung terdengar nyaring di telinga. Lili berjalan ke dapur untuk mengambil sapu tapi suaminya lebih dulu menghalanginya.
"Mau kemana dek?" tanya Jali.
"Mau ambil sapu bang, mau nyapu," kata Lili.
"Sudah, adek mandi aja! semuanya sudah bersih kok," Ujar Jali lagi.
"Sudah bersih, memangnya siapa yang bersihin?" Lili mengerutkan kening dengan bingung pasalnya ia memang belum menyapu rumah, setelah shalat subuh ia ketiduran.
"Siapa lagi kalau bukan suamimu ini, mulai sekarang biarkan Abang kerjakan pekerjaan rumah. Adek cukup istirahat saja di kamar sama dedek bayi," kata Jali tersenyum.
__ADS_1
"ish, Abang lebay deh tapi makasih Abang udan banyu adek, kalau begitu adek mandi aja dulu," kata Lili berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Jali yang sedang bermain ponsel mengirim pesan pada kakaknya untuk izin jika Lili tidak datang ke Cafe dan juga mengatakan jika Lili positif hamil.