Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Merasa Tertampar


__ADS_3

"Ayo bang, kita berangkat," teriak Lili yang kini berada di luar, gamis yang di pakai sangat cocok untuknya. Tak lupa, perhiasan yang di beli tadi ikut menghiasi tangan juga lehernya yang selipkan di belakang kerah baju agar terlihat cantik.


Jali yang baru saja keluar dari kamar tercengang melihat kecantikan istrinya, baru kali ini ia melihat cintanya kembali berdandan setelah sekian lama.


"Kok Abang menatap aku begitu?" Tanya Lili heran.


"Masya Allah, istri Abang cantik banget! Bikin pangling," Puji Jali.


"Ah Abang, bisa aja! Ayo kita berangkat nanti kita terlambat lho," kata Lili tersebut.


"Iya, Ayok, pegangan yang erat. Abang gak mau kamu jatuh," kata Jali kembali menggoda istrinya sore ini, kini bang Jali mulai melajukan motor miliknya ke arah Cafe Sajana milik kakak iparnya.


Tidak jauh, hanya butuh waktu 15 menit mereka berdua sudah sampai disana. Suasana Cafe sudah rame pengunjung di antaranya muda mudi juga beberapa keluarga tapi lebih banyak muda mudi.


Bang Jali dan Lili masuk ke dalam cafe tersebut, kemudian menghampiri Sarah yang sedang melihat pengunjung yang begitu ramai setidaknya ia tidak keteteran sama menu makan di cafenya.


"Wah, Cafenya rame ya Kak?" Kata Lili tersenyum.


"Ia dek, kamu bantu kakak ya! Nanti kamu juga akan ikut andil mengurus Cafe ini," kata Sarah menarik tangan adik iparnya.


"Loh kok gitu kak," kata Lili.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Kita akan menjalin kerja sama jadi kamu juga berhak mengurus kafe ini nanti sampai Cafe ini berkembang," kata Kak Sarah membuat Lili terdiam pasalnya ia kurang pandai dalam mengelola Cafe, selama ini dia hanya menjadi ibu rumah tangga.


"Sudah jangan bengong begitu, nanti kakak ajarin biar kamu mengerti dalam berbisnis. Sekarang bantu kakak untuk menata makanan berbuka kita," kata Kak Sarah lagi.


"Baik kak," kata Lili lagi.


Lili membantu menata menu buka puasa karena pelayan yang lain ikut menata menu di meja pengunjung yang lain. Waktu berbuka tinggal 30 menit lagi.


Pengunjung cafe terus berdatangan, duduk di meja yang sudah di pesan oleh masing-masing pengunjung. Tidak hanya di dalam tapi juga ada di luar, cafe sudah terlihat penuh tapi Jaka dan keluarganya belum datang ke Cafe kakaknya.


"Kak Sarah, bang Jaka jadi datang kesini?" Tanya Lili melihat ke depan.


"Gak tahu dek, mungkin saja gak mau datang," kata Sarah lagi duduk di meja mereka.


"Akhirnya kalian datang juga, kakak pikir kalian gak bakal datang," kata Sarah menatap ke arah Maya.


"Mana mungkin kami gak datang kak, apalagi berbuka puasa disini. Lumayan kan nanti bisa di bawa pulang," celetuk Maya tanpa rasa malu.


Sarah hanya mencibir kesal melihat tingkah adik iparnya satu ini, sedangkan Lili dan Jali hanya menggelengkan kepala.


"Eh Jal, kamu datang juga. Abang pikir kamu gak mungkin datang," kata Jaka.

__ADS_1


"Gak mungkinlah bang aku gak datang, inikan acara berbuka bersama mana mungkin kami gak ikut hadir," sahut Jali.


"Mana tahu kan," kata Bang Jaka.


Maya yang sedang bermain ponsel tak sengaja melihat cincin yang dipakai Lili. Kebetulan sekali mereka duduk berhadapan, Maya memindai setiap inci tubuh Lili dan matanya melotot saat melihat kalung yang sangat cantik meski dengan liontin kecil.


"Baru beli emas ya, Li?" Tanya Maya kepo.


"Iya mbak," kata Lili merasa canggung karena semua mata menatap dirinya.


"Wah kalungnya cantik, Cincinnya juga tuh sama gelangnya. Ah, nanti kakak juga mau beli," kata Kak Sarah tersenyum sesekali melirik ke arah Maya yang kesal melihat perhiasan yang di pakai Lili.


"Ah, biasa itu kak! Lagian kalungnya Lili kecil, jangan-jangan imitasi lagi," kata Maya membuat Lili merasa geram.


"Kamu belinya berapa, Li?" Sengaja kak Sarah menanyakan hal itu agar Maya tahu jika perhiasan yang di pakai Lili bukanlah imitasi.


"Sembilan juta lima ratus ribu kak, di toko emas gemilang," kata Lili tersenyum membuat mata Maya kembali melotot.


"Di toko emas gemilang," timpal Maya.


"Jangan-jangan kamu beli emas pakai uang penjual rumah kemarin ya, Li," kata Jaka.

__ADS_1


"Memangnya kenapa bang, Abang aja beli mobil buat mbak Maya," kata Jali.


kali ini jawaban Jali merasa tertampar di telinga Jaka, ia hanya diam sambil menunggu suara beduk. Sedangkan Maya wajahnya di tekuk karena ia merasa tersaingi oleh lili yang memakai perhiasan sedangkan ia tidak memakai apa-apa.


__ADS_2