
Ting...
Pesan masuk pada gawai Lili yang terletak di atas nakas, Jaka yang sedang duduk di sofa mengambilnya dan melihat ternyata pesan dari kakak iparnya membuat matanya melotot.
[ Li, Mbak pinjam perhiasan kamu boleh ya! Soalnya Mbak mau ke arisan, malu dong kalau pakai perhiasan itu-itu aja ]
Jaka tidak menyangka jika kakak iparnya tanpa malu ingin meminjam perhiasan istrinya.
Lili yang baru datang dari dapur mengerutkan kening melihat raut wajah suaminya.
"Abang kenapa? Kok mukanya begitu, memangnya Abang lihat apa di ponsel," kata Lili mengambil ponsel di tangan suaminya kemudian ikut membaca pesan dari kakak iparnya.
"Astaghfirullah, mbak Maya ini benar-benar ya! Biar aku balas Bang, dia tidak bisa terus seperti ini.
[ Maaf Mbak, aku tidak bisa meminjamkannya sama Mbak soalnya perhiasan itu bukan untuk ajang pamer yang bukan milik Mbak ]
Lili membalas pesan pada kakak iparnya, ia juga tidak suka kalau begini terus. Bisa-bisa dia akan datang kesini.
[ Kamu ini pelit banget padahal kamu beli perhiasan itu pakek uang mertua aja bangga ]
Lili kembali membaca pesan dari kakak iparnya kemudian menghapus karena ia tidak mau meladeni kakak iparnya, ia memilih meletakkan kembali ponsel di atas nakas.
"Bang, jadi kita bekerja sama dengan Kak Sarah?" Tanya Lili lagi.
"Jadi dek, ini Abang mau ketemu langsung sama kak Sarah biar lebih jelas gimana? Kan kerja sama itu butuh kontrak juga meski Saudara dek," kata Bang Jali tersenyum.
__ADS_1
"Boleh ikut gak bang," kata Lili.
"Boleh, sekarang kamu siap-siap ya? Nanti masalah uangnya kita kirim melalu M- Banking saja," kata Bang Jali lagi.
Lili hanya mengangguk kemudian berjalan ke kamar untuk menganti pakaiannya.
Tak butuh waktu lama mereka sampai ke Cafe karena Sarah menyuruh mereka untuk ke Cafe saja biar bicaranya lebih nyaman.
"Kita keruangan kakak saja," Ajak Sarah, Bang Jali dan Lili hanya mengikuti langkah kakaknya.
"Ayo duduk Jal, Li," kata Sarah.
"Iya kak, ternyata ada ruangan khusus di belakang Cafe ya kak," Lili tersenyum takjub.
"Kamu ini dek bisa saja, kakak sengaja membeli cafe seperti ini agar bisa istirahat saat tidak ada pelanggan." Kata Kak Sarah.
"Bagaimana, apa kalian setuju?" Kata Sarah setelah menjelaskan secara detail.
"Paham kak, aku dan Lili setuju, jadi uangnya aku transfer sekarang juga ya," kata Jali.
"Boleh, ini rekeningnya Dek," kata Sarah memberikan nomor rekening pada adiknya.
"Sudah di transfer ya kak, ini buktinya," kata Jali lagi.
"Ah iya dek, mulai Minggu depan Lili sudah bisa ikut mengelola Cafe ini juga biar Cafe ini bisa berkembang pesat," kata Kak Sarah.
__ADS_1
"Kak Sarah yakin jika aku ikut mengelola Cafe ini, memangnya Kak Sarah udah bilang sama bang Jamal," kata Lili ragu.
"Semalam kakak sudah berbicara sama Abang kalian, jadi kamu tidak perlu sungkan. Wong kita bekerja sama kok," kata Kak Sarah tersenyum.
"Oh ya kak, ini berkasnya di tanda tangani biar kalian tidak meragukan kakak mu ini." Kata Jali menandatangani berkas di depan yang sebelumnya sudah di baca dulu.
***
Saat di Cafe, Lili tak sengaja menabrak Maya di pintu masuk Cafe bersama teman-temannya, Maya memalingkan muka seakan tidak ingin melihat adik iparnya itu.
"Eh kalian tahu gak, Cafe ini milik kakak ipar aku loh?" Kata Maya memamerkan Cafe Kakak iparnya.
"Wah, bagus dong! Nanti kamu bisa minta diskon makanannya sama kakak iparmu," ujar salah satu dari teman Maya.
"Iya May, Kamu kan gak pernah traktir kami! Sekali-kali kamu traktir kita mumpung kita makan di Cafe kakak ipar kamu," kata wanita satu lagi dengan dress panjang selutut.
"Beres, kalian makan aja sepuasnya biarkan aku yang bayar," kata Maya pongah ingin memperlihatkan pada mereka jika dia punya banyak uang padahal ia merasa takut jika tidak sanggup membayarnya nanti.
"Nah, itu baru teman kita," Mereka duduk sambil tertawa bersama-sama di meja paling pojok.
"Ayo dek kita pulang," Ajak bang Jali menarik tangan istrinya.
"Iya bang, sepertinya Mbak Maya marah sama kita bang karena aku tidak mau meminjamkan perhiasan padanya," kata Lili.
"Biarkan saja dek, toh dia bukan urusan kita," kata Bang Jali menaiki motornya kemudian di naiki oleh istrinya di belakang.
__ADS_1
Kini mereka berniat untuk ke rumah orang tua Lili, sudah lama mereka tidak kesana. Mumpung bang Jali tidak ke sawah setelah siap panen, Lili mengajak suaminya ke rumah orangtuanya untuk bersilahturahmi.