Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Jangan-jangan hamil


__ADS_3

Tok....Tok....Tok...


"Tunggu sebentar," ujar Jali berjalan ke arah pintu kontrakannya dan langsung membuka pintu.


"Kamu, ada apa kamu kesini?" Tanya Jali pada pegawai kakaknya, ia heran kenapa dia bisa tahu tempat mereka tinggal.


"Saya ingin bertemu dengan Bu Lili Pak, sebentar saja soalnya saya sangat perlu dengan beliau," kata Wanita yang memakai payung tersebut.


"Gimana ya, istri saya lagi kurang sehat juga! Memangnya ada perlu apa kamu datang kesini?" Tanya Jali berdiri di depan pintu, bukan tidak memberinya masuk tapi ia tidak ingin timbul fitnah.


"Saya mau pinjam uang pak buat berobat ibu saya, tidak banyak hanya lima ratus ribu saja juga boleh. Saya benar-benar membutuhkannya," kata Siska menangis, hujan sangat deras.


"Sebentar, saya ambilkan dulu uangnya," kata Jali berjalan ke kamar mengambil dompetnya.


Tak lama Jali kembali' dengan uang di tangannya, ia tidak mungkin tidak memberikan uang pada Siska karena ia merasa kasihan.


"Uang ini jumlahnya satu juta, bawalah ibumu ke rumah sakit nanti saya akan mengatakan pada istri saya kalau kamu datang kesini," kata Jali menyodorkan uang sejumlah satu juta di depan Siska.


"Tapi Pak, uang ini terlalu banyak dan saya tidak tahu cara membayarnya," kata Siska lagi.

__ADS_1


"Sudah, kamu tidak perlu memikirkannya sekarang! Kamu harus segera membawa ibumu ke rumah sakit, itu yang terpenting sekarang," kata Jali dengan tegas.


"Alhamdulillah, kalau begitu saya pulang dulu pak. Secepatnya saya akan membayar uang ini Pak," kata Siska pamit dari rumah Lili, ia tinggal tidak jauh dari rumah Lili.


Siska salah satu karyawan yang bekerja di cafe Sajana, kebetulan dia belum gajian dan mendadak ibunya sakit sehingga ia terpaksa mendatangi Lili untuk meminta pinjaman.


Usai kepergian Siska, Jali kembali masuk dan mengunci pintu, ia masuk ke kamar untuk melihat sang istri tercintanya.


"Siapa yang datang bang?" Tanya Lili, kini ia sudah bisa membuka mata meski masih pusing.


"Siska, karyawan kak Sarah di Cafe Sajana," kata Bang Jali.


"Dia ingin pinjam uang, katanya ibunya sakit dan harus di bawa ke rumah sakit, jadi aku kasih pinjam uang padanya satu juta," kata bang Jali.


"Kenapa gak bangunin aku sih bang," kata Lili cemberut.


"Tadi Abang lihat kamu nyenyak sekali tidur makanya Abang gak bangunin. Oh ya, gimana masih pusing?" Tanya Bang Jali.


"Masih, bang aku pengen makan mangga muda," kata Lili lagi.

__ADS_1


"Mangga muda, bukannya mangga muda itu makanannya orang hamil ya dek," kata Jali lagi.


"Memangnya orang hamil aja bang yang boleh makan mangga muda, adek kan ke pengen," kata Lili dengan wajah cemberut.


"Dek, kamu bulan ini udah datang bulan apa belum?" Tanya Jali menatap istrinya.


"Belum bang, kan bulan ini masih bulan...," Lili terdiam dan baru ingin jika ia bulan kemarin juga tidak datang bulan dan bulan ini juga, biasanya di awal bulan ia sudah haid.


"Aku sudah telat satu bulan bang," kata Lili lagi.


"Jangan-jangan kamu hamil dek," kata Jali membuat Lili melebarkan matanya mungkin terkejut.


"Mana mungkin bang, dulu aja aku pernah kek gini dan aku pikir juga hamil kan nyata zonk," kata Lili tak terlalu berharap, jika ia hamil maka ia sangat bersyukur tapi jika tidak ia hanya bisa bersabar.


"Ya sudah, kamu tidur aja biar Abang cari mangga mudanya. Mana tahu kan istri Abang ini benar-benar hamil," kata Jali mencubit hidung istrinya yang tidak mancung.


"Jangan lama-lama ya bang," kata Lili lagi.


Jali hanya mengangguk kemudian melirik jam di tangannya, masih ada waktu untuk mencari mangga muda tapi sebelumnya ia akan mencari alat tes kehamilan untuk istrinya.

__ADS_1


Lili kembali menarik selimut dan tidur, rasanya tubuhnya tidak mempunyai tenaga sama sekali. Biasanya ia tidak pernah seperti ini, jika ia sakit hanya butuh istirahat saja sudah cukup tapi kali ini ia benar-benar lemah.


__ADS_2