Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Bab 35


__ADS_3

Jam sembilan malam Jaka baru sampai rumahnya, ia begitu lelah karena banyak pelanggan yang datang berbuka di cafe kakaknya sehingga ia memilih tidak menjemput putrinya yang ada di rumah Lili.


"Bang, kamu sudah pulang? Hanna mana bukannya dia tadi bersana kamu," Tanya Maya tidak melihat putrinya.


"Dia di rumah Jali, dia nginap disana," kata Jaka berlalu masuk ke rumah mereka.


"Kok kamu biarkan Hanna di rumah Jali, Bang," kata Maya mengikuti langkah kaki suaminya.


"Memangnya Kenapa kalau Hanna nginap disana, toh di sini dia juga tidak kamu pedulikan! Kalau kamu sayang sama Hanna pasti kamu tidak membiarkan ia sendiri di rumah saat aku bekerja," kata Jaka kembali tersulut emosi.


"Jadi kamu nyalahin aku begitu," kata Maya masih tidak sadar kalau ia sering mengabaikan putrinya Hanna.


"Jadi aku harus salahkan siapa kalau bukan kamu, aku pulang kerja harus menjemput Hanna ke sekolah dan aku kembali membawanya ke Cafe karena setiap hari kamu keluyuran di luar. Entah apa yang kamu lakukan di luar sana, jika kamu ketahuan selingkuh akan aku depak kamu dari rumah ku ini," Ancam Jaka memberi peringatan padanya membuat Maya menelan ludah tapi sebisa mungkin ia menetralisir degup jantungnya.


"Kamu jangan menuduh aku tanpa bukti dong bang," kata Maya.

__ADS_1


"Aku tidak menuduh hanya memperingati kamu saja," kata Jaka berlalu meninggalkan Maya masuk ke kamarnya, ia begitu lelah kemudian membersihkan diri di kamar mandi.


Tak lama Jaka kembali keluar setelah selesai dengan rutinitasnya, ia menatap Maya yang asik bermain ponsel tanpa mau menyiapkan baju tidur miliknya.


"Bang, surat-surat tanah sama rumah ini kamu taruh dimana? Kok aku cari gak ada," kata Maya bertanya dengan hati-hati.


Jaka mengerut kening menatap istrinya, tumben istrinya menanyakan perihal surat tanah itu padahal bukan miliknya.


"Surat tanah yang mana maksud kamu?" Tanya Jaka lagi.


"Ya surat tanah warisan dari orang tua kamu bang, soalnya mau aku gadaikan untuk melangsungkan pernikahan adikku Lira," kata Maya tanpa Tedeng Aling-aling.


"Bang Jaka kok ngomongnya gitu, aku juga berhak atas surat-surat itu," kata Maya lagi.


"Atas dasar apa kamu mengatakan itu?" tanya Jaka menatap istrinya, ia baru sadar jika Maya hanya menginginkan hartanya bukan dirinya ataupun anaknya.

__ADS_1


"Karena aku istrimu bang, hartamu juga hartaku! Jadi aku mempunyai hak untuk menggadaikan sertifikat rumah ini," kata Maya menaikkan suaranya satu oktaf.


"Teori dari mana harta orang tuaku milikmu, selama kita menikah belum ada harta yang kita dapatkan berdua. Semuanya habis karena memenuhi gaya mu itu sampai-sampai rumah ini aku buat atas uang warisan dari orang tuaku. Lalu apa orang tuamu yang sudah di berikan kepada mu," tuding Jaka menatap Maya, istrinya bungkam dengan seribu bahasa. Selama ini suaminya sangat tunduk kepadanya tapi akhir-akhir ini malah tidak seperti yang di harapkan.


"Jangan melewati batasan bang, aku ini istrimu! Selama ini setiap aku minta selalu kamu penuhi tapi sekarang apa? Semuanya berubah," kata Maya berteriak.


"Kamu yang telah melewati batas kesabaran aku May, kau tidak pernah lagi peduli tentang aku juga Hanna. Semuanya aku selesai kan sendiri bahkan kamu tidak mau menjemput Hanna ke sekolah." hardik Jaka mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini terpendam dalam hatinya.


"Hanna ingin kamu mau menjemput atau mengantarkannya ke sekolah tapi apa yang kamu lakukan, bahkan untuk mengurusi baju sekolah Hanna saja kamu tidak mau," kata Jaka lagi, Maya hanya diam karena apa yang di katakan suaminya benar adanya.


Dia kurang perhatian pada Hanna bahkan Hanna sering di tinggal pada ibunya jika ia mau keluar.


"Jika adik kamu mau menikah, kau bisa menjual perhiasan mu itu tapi bukan meminta harta warisan orang tuaku," kata Jaka terakhir kali kemudian menarik selimut untuk tidur membelakangi istrinya yang masih cemberut.


Hati yang masih merasa panas membuat Maya memilih untuk tidur, percuma berdebat jika ia selalu kalah. Memang semua yang dia miliki tidak lain karena bantuan harta warisan mertuanya.

__ADS_1


Dulu rumah mereka sangat sederhana tapi setelah pembagian harta warisan membuat Maya gelap mata dan ingin memiliki rumah mewah sehingga Jaka memenuhi keinginan istrinya.


Namun karena selalu di turuti membuat Maya merasa di atas awan, tak pernah ia berpikir jika suatu saat menjadi bomerang bagi dirinya sendiri.


__ADS_2