
Jaka baru saja keluar dari kantor melirik jam sudah menuju pukul dua siang dan ia baru teringat jika ia harus menjemput putrinya ke sekolah, sudah dua jam anaknya pulang sekolah tapi ia belum menjemputnya.
Ia pun menghubungi Maya istrinya tapi tidak di angkat berharap Maya sudah menjemput putrinya di sekolah.
Berkali-kali menghubungi istri tak jua di angkat membuat Jaka merasa bersalah, ia pun berlari menuju parkir dan masuk ke mobil agar secepatnya sampai di sekolah Hanna.
Sesampai disana, sekolah sudah sepi tidak ada lagi anak-anak disana. Hanya ada seorang satpam yang ingin mengunci pintu pagar.
"Permisi pak, saya mau tanya apa masih ada anak-anak di dalam?" Tanya Jaka dengan raut wajah khawatir.
"Tidak ada lagi pak, semua sudah di jemput ibunya masing-masing. Bapak cari siapa?" Tanya Satpam tersebut.
"Hanna pak, putri saya! Tadi saya berjanji untuk menjemput dia tapi saya lupa pak," kata Jaka lagi.
"Oh begitu pak, tapi di dalam memang tidak ada lagi anak-anak pak. Semuanya sudah pulang termasuk putri bapak," kata Satpam itu lagi.
"Pulang, apa bapak tahu siapa yang menjemput putri saya?" Tanya Jaka lagi.
"Saya tidak tahu, maaf pak saya pulang dulu," kata Satpam tadi pergi setelah mengunci gerbang sekolah.
Jaka kembali ke mobil, tiba-tiba saja ponselnya berdering ternyata panggilan dari kakaknya.
"Hallo, ada apa kak?" Tanya Jaka menghembuskan nafas dengan pelan.
"Apa, baiklah! Kakak kirim saja alamatnya biar aku jemput Hanna kesana,"
Tut...panggilan kembali di matikan, Jaka membuka pintu mobil kemudian masuk mengendarai mobil miliknya menuju alamat yang di kirimkan untuk menjemput Hanna.
__ADS_1
"Kenapa Hanna ada di rumah dia ya?" Gumam Jaka sendiri.
Satu jam perjalanan, ia sampai di sebuah rumah sederhana minimalis dengan cat tembok berwarna abu-abu. Jaka turun dari mobil kemudian berjalan memasuki halaman rumah yang begitu asri.
Tanaman bunga membuat halaman rumah tersebut menjadi cantik, dan bersih tidak sampah berterbaran dimana-mana.
Tok...tok..tok....
Jaka mengetuk pintu tiga kali tapi tak ada yang membuka pintunya, ia hanya bisa menunggu berharap jika ia tidak ada salah alamat.
Namun saat hendak berbalik, suara seseorang membuka pintu dari dalam membuat langkah kakinya terhenti.
"Bang Jaka, ayo masuk dulu! Hanna ada di dalam," kata Dila membuka pintu tersenyum.
"Iya, aku tunggu disini saja soalnya gak enak dilihat sama tetangga," kata Jaka bersikap sopan, ia hanya tidak ingin menimbulkan fitnah dalam rumah tangga orang lain.
"Ayah, kok tadi gak jemput Hanna," kata Hanna memberondong ayahnya dengan pertanyaan.
"Maaf ya sayang, tadi Ayah lagi kerja dan baru ingat kalau putri Ayah di sekolah, maafin ayah ya," kata Jaka menyamai putrinya, ia mengelus pipi putrinya agar rasa bersalah sedikit berkurang.
"Iya Hanna maafin tapi ayah janji jangan ngulangin lagi ya! Untung tadi aku ketemu sama Tante cantik, jadi aku pulang bareng sama Chaca," kata Hanna menoleh ke arah Dila yang tersenyum lebar di temani putrinya sama Chaca.
"Iya, Ayah Janji! Sekarang kita pulang dulu ya, lain waktu main lagi sama Chaca," kata Jaka pada putrinya yang hanya mendapatkan anggukan.
"Dil, terimakasih ya udah bawa pulang anak aku sama kamu! Kalau tidak, aku tidak tahu gimana keadaannya," kata Jaka sendu.
"Tidak apa-apa kok, lagian mereka juga satu sekolah jadi sekalian aku ajak pulang Hanna karena dia sudah nunggu kamu terlalu lama di depan sekolah," kata Dila lagi.
__ADS_1
"Oh, kalau begitu kami permisi dulu, Dil," kata Jaka hanya mendapatkan anggukan dari Dila.
Jaka menggendong putrinya kemudian berjalan ke arah mobil lalu masuk, Karena ia harus pulang karena perutnya yang sudah kelaparan.
****
"Kamu kemana saja sih bang, jam segini baru pulang?" tanya Maya berdiri di depan pintu, bukannya menyambut suami ia malah membuat Jaka semakin murka.
"Apa kau tidak bisa lihat kalau aku baru pulang kantor, punya otak gak sih kamu! suami pulang bukannya di sambut ini malah di cerca dengan pertanyaan," kata Jaka dengan ketus membawa putrinya masuk yang sudah tidur dengan seragam sekolah saat di dalam mobil, ia langsung masuk meninggalkan Maya di depan pintu.
Jaka membawa masuk putrinya ke dalam kamar, melepaskan sepatu dan membiarkan anak tidur dengan seragam sekolah.
Jaka berjalan keluar dari kamar menuju kamarnya yang ada di depan, ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket karena keringat.
"Kamu kenapa bawa mobil sih bang, gara-gara kamu aku gak bisa ikut arisan," kata Maya ketus duduk di tepi ranjang.
Jaka yang hendak mengambil baju menatap tajam ke arah istrinya, setiap ia pulang tidak ada kesenangan di rumahnya.
"Kamu bisa pergi dengan motor, tidak harus dengan mobil! Mulai sekarang jangan aku akan membawa mobil ini ke kantor menjemput Hanna," kata Jaka lagi.
"Tidak bisa begitu dong bang, selama ini aku yang pakai mobil itu," kata Maya tak setuju.
"Memangnya kenapa? aku beli mobil itu agar kamu bisa jemput Hanna tapi nyatanya apa, kamu gak pernah berisiniatf untuk menjemput putri kamu," kata Jaka menatap tajam istrinya.
"Bukannya selama ini itu tugas kamu bang, kok sekarang malah mengungkit hal yang sepele sih," kata Maya terlihat santai.
"Santai kamu bilang, jika Hanna hilang kamu mau tanggung jawab," bentak Jaka pada istrinya.
__ADS_1
Ting...Tong....!