
"ini untuk kalian berdua biar nanti waktu sahur gak repot lagi buat masak, tinggal di panasin aja," kata Sarah memberikan dua bingkisan pada kedua adik iparnya.
"Terimakasih ya kak, udah di ajak makan disini Eh tiba-tiba di kasih bingkisan waktu pulang," kata Lili tersenyum sambil menerima bingkisan tersebut.
"Ya wajar dong kalau di kasih, kan sudah di undang kan malu kalau pulang-pulang gak di kasih bingkisan. Oh Ya Lili, kamu sengaja ya datang kesini pakek perhiasan biar kamu tidak tersaring sama aku," akhirnya uneg-uneg yang ada di hati Mata keluar juga.
Dia memang tidak suka jika ada iparnya yang melibihi dirinya, apalagi Maya merasa iri dengan perhiasan yang di pakai Lili.
"Astaghfirullah, tidak Mbak! Saya tidak berniat seperti itu, mana mungkin saya bisa menandingi Mbak! Wong mbak punya segalanya," kata Lili lagi.
"Iya May, kenapa sih kamu gak suka banget kalau Lili pakek perhiasan. Kamu iri ya?" Tanya Kak Sarah menyunggingkan senyum.
"Mana mungkin aku iri sama dia kak, ada-ada saja! Ya sudah, saya temui bang Jaka dulu," kata Maya pergi meninggalkan kakak dan adik iparnya sedangkan keduanya hanya menggelengkan kepala.
"Ya sudah mbak, kalau begitu Lili sama bang Jali pulang duluan ya," kata Lili pamit kemudian berjalan menemui suaminya yang kini sudah berada di atas motor.
"Iya, kalian hati -hati ya,"
__ADS_1
Usai kepergian bang Jali dan Lili, Sarah kembali masuk ke cafe miliknya dan melihat adiknya masih bercengkrama dengan suaminya.
"Gimana, mau pulang sekarang?" Tanya Bang Jamal suaminya Sarah.
"Boleh bang, lagian Cafe nanti bisa di tangani sama Chika dan aku juga capek mau istirahat," kata Sarah duduk di samping suaminya.
"Ya sudah kalau itu mau kamu, kita pulang sekarang," kata Bang Jamal bangkit dari tempat duduknya.
"Jaka, Maya, kalian belum pulang?" Tanya Sarah.
"Iya bang," kata Maya.
Mereka pun berjalan sama-sama keluar dari cafe menuju tempat parkir dan menarik mobil masing-masing, hanya Jali yang belum punya segalanya termasuk tempat tinggal yang layak untuk istri.
****
"Bang, aku pengen beli perhiasan," Ujar Maya pada suaminya saat mereka sampai di rumah.
__ADS_1
"Apa, beli perhiasan! kan baru saja beli mobil May, mana ada uang lagi bukannya tadi pagi kamu juga ke toko perhiasan," kata Jaka heran pada istrinya yang terlalu dalam berbelanja, selama ia masuk geng sosialita membuat Maya meminta sesuatu di luar kemampuan suaminya.
"Iya tapi tidak sebagus milik Lili, aku ingin seperti itu bang," kata Maya melempar tas di atas ranjang milik mereka.
"Aku tidak punya uang lagi May, belum lagi kita harus membayar uang cicilan di bank karena keinginan kamu membeli mobil itu," ujar Jaka ketus membuka baju yang di pakai kemudian menggantikannya dengan baju piyama.
"Kok Abang ngomongnya gitu, jadi Abang menyesal beliin mobil untuk aku," kata Maya menatap suaminya tak percaya.
"Bukan menyesal May tapi aku gak sanggup jika harus memenuhi keinginan kamu, lihatlah kak Sarah uang dari jual rumah bapak dia gunakan untuk membuka cafe sedangkan aku membeli mobil untuk mu dan harganya sangat mahal," ujar Jaka dengan ketus kemudian menaiki ranjang milik mereka.
"Wajar dong bang, aku ini tanggung jawab mu," kata Maya mengeraskan suaranya.
"Tanggung jawab bagaimana lagi yang harus aku penuhi May, semuanya aku berikan bahkan aku menjual sebagian harta warisanku untuk memenuhi gaya mu itu," kata Jaka menatap tajam istrinya, Maya meneguk ludah.
Tak biasanya Jaka marah seperti itu, selama ini apapun yang dia inginkan selalu di penuhi meski harus menjual warisan tapi kali ini ia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Maya memilih ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya kemudian Menganti baju dengan piyama agar ia cepat menyusul suaminya yang sudah terlelap.
__ADS_1