
"Kak Sa...rah," Bang Jaka melompat dari kursi tempat yang ia duduki karena melihat Sarah ada di depannya bersama Jali, begitu juga dengan Mbak Maya.
"Kenapa? Apa kamu takut jika aku datang kesini?" Kata Kak Sarah berapi-api, dia dari tadi memang sudah tersulut emosi mendengar obrolan adik bersama istrinya.
"Bu...kan begitu kak, sebaiknya kita duduk dulu kak," kata Jaka takut, dia bagaikan sedang berhadapan dengan harimau saat bertemu dengan kakaknya, sedangkan Maya hanya diam sesekali melihat ke arah suaminya.
"Tidak perlu, kita bicara saja disini? Lagian aku sudah mendengar semua tentang obrolan kalian dari tadi," kata Kak Sarah menatap nyalang ke arah Jaka.
"Baguslah kalau kak Sarah sudah mendengarkannya jadi kami tidak perlu lagi menutupnya dari kak Sarah," timpal Maya yang kini tepat berada di samping Kak Sarah.
"Ayo, katakan Mas jika kamu ingin rumah itu di jual," paksa Maya sedangkan Jaka sudah ketakutan, ia melirik ke kiri ke kanan menunduk.
"Rumah itu tidak akan di jual meski ada yang beli lebih mahal sekalipun," kata Kak Sarah membuat mata Maya melotot.
"Tidak bisa begitu dong, Mbak. Bang Jaka juga punya atas rumah itu bukan hanya Jali saja," kata Maya tidak setuju dengan ucapan Sarah.
"Tahu apa kamu tentang rumah orang tua saya, disini saya sedang berbicara dengan adik saya jadi jangan ikut campur," kata Sarah dengan amarah yang sudah menggebu.
__ADS_1
"Mas katakan sama kakak kamu ini kalau kamu akan...,"
"Membeli mobil dan mengusir Jali dari rumah orang tua kami begitu," kata Kak Sarah membuat Jaka semakin ketakutan.
"Kamu punya hati gak sih Jaka, tega-teganya kamu ingin menjual rumah peninggalan bapak padahal masih ada Jali yang tinggal disana," kata Kak Sarah menatap tajam ke arah Jaka.
"Semua itu karena aku sedang butuh uang kak, lagian rumah bapak kan tidak termasuk warisan karena Jali yang menempatinya. Memang semua harta bapak sudah di bagi rata tapi tidak dengan rumah yang di tempati Jali, jadi rumah itu milik kita bertiga," kata Jaka menatap balik ke arah kakaknya, sedangkan Maya tersenyum senang karena suaminya membela dirinya.
Bukannya menjawab, Sarah malah duduk di sofa di ruang keluarga ruang itu. Dari tadi berdiri membuat kakinya pegal.
"Ya, caranya hanya satu kamu harus membeli rumah itu. Jika tidak rumah itu akan Abang Jual pada yang lain," kata Jaka tanpa memikirkan perasaan adiknya.
Kak Sarah menghembuskan nafas dengan pelan, ia menatap adiknya yang terlalu patuh terhadap istrinya sehingga tega membuat adiknya sengsara.
"Bagaimana ini kak, bang Jali tetap ingin menjual rumah bapak," kata Bang Jali menatap kakaknya.
"Baiklah, jika Jaka tetap ngotot ingin menjual rumah bapak maka uangnya harus di bagi sama rata. Jika ruang itu terjual 150 juta maka kami berhak mendapatkan 50 juta masing-masing," kata Sarah menatap tajam ke arah Mbak Maya.
__ADS_1
"Oh tidak bisa begitu dong kak, kenapa Jali mendapatkan hak yang sama. Dia kan belum punya anak, jadi kebutuhannya pasti tidak banyak seperti aku yang sudah punya anak ini. Sebaiknya Jali kasih aja dua puluh juta,"
Plak.... Tamparan Sarah mendarat di pipi mulus Mbak Maya. Dia benar-benar geram dengan adik iparnya yang satu ini.
"Bang, kakak mu menampar aku," kata Mbak Maya menangis.
"Kenapa? Kamu mau marah, wajar mbak menampar istrimu yang sudah sangat kurang hajar ini. Lagian kamu mau saja patuh terhadap omongan istrimu itu, kalian ingin beli mobil tapi ingin mengambil haknya Jali. Dimana otak kalian Hah?" Bentak kak Sarah.
Lihatlah, kalian sudah punya rumah yang bagus dan mewah tapi lihat adikmu ini. Dia masih merangkak dari nol, apa akan tega mengambil haknya," sambung kak Sarah lagi.
"Kami bisa bangun rumah itu karena kerja keras kami dan dari gajinya bang Jaka selama di angkat menjadi pegawai," kata Mbak Maya tidak kapok meski sudah di tampar.
"Oh ya benarkah? Bukannya uang dari menjual harta warisan suamimu," kata kak Sarah.
"Kak Sarah jangan keterlaluan dong, harta warisan milik Jaka sama juga milik istri Jaka. Jadi mbak jangan membahas harta warisan Jaka dong, lagian Jali jika ingin tinggal di rumah sendiri dia bisa menjual harta warisan bagiannya bukan tinggal di rumah bapak.
Plak....
__ADS_1