Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Surprise


__ADS_3

"Bang Jali," suara seseorang membuat Jali menoleh ke asal suara, ia pun kaget melihat sosok seorang perempuan yang pernah membuat hatinya terluka.


"Salma,' ucap Jali.


"Abang ngapain ada disini?" Tanya Salma basa-basi.


"Enggak, Abang mau beli hadiah buat istri Abang," ujar Jali kemudian kembali mengalihkan pandangan pada pegawai toko.


"Mbak, saya mau cincin berlian yang simpel tapi terlihat elegan jika di pakai," ujar Jali membuat bola mata Salma membesar, berulang kali Salma menatap ke arah lelaki yang pernah ia tolak lamarannya itu.


"Loh Salma kok bengong?" Tanya Jali lagi.


"Coba di lihat dulu pak, mungkin bapak ingin seperti ini," ujar seorang pegawai pada Jali memperlihatkan cincin berukuran kecil namun cukup cantik di pandang mata.


Selama menikah, ia belum pernah membelikan hadiah untuk istrinya tapi kali ini ia ingin memberikan surprise untuk istrinya.


"Saya ingin yang ini ya mbak, tolong di bungkus secantik mungkin untuk istri saya," ujar Jali menyodorkan cincin yang akan di beli pada pegawai tersebut.


"Ah enggak kok bang, aku cuma kaget saja Abang beli berlian buat istri Abang. Dulu kan waktu sama Salma tidak begitu," ujar Salma mengenang kenangan lama di antara mereka membuat Jali kembali mengerutkan keningnya.


"Semua ini berkat kesabaran dari istriku, Sal! Dia menerima aku yang tidak punya apa-apa ini," kata Jali lagi sambil menunggu pelanggan tadi.


"Mau bayar pakai apa pak, cash atau melalui ATM?" Tanya pegawai tersebut.


"Pakai ini saja pak, kebetulan saya tidak bawa uang cash. Berapa mbak?" Tanya Jali mengeluarkan ATM miliknya.


"Tiga puluh lima juta, Pak," ujar Pegawai tersebut, Jali menyodorkan ATM pada pegawai tersebut untuk membayar cincin yang di beli.


Lagi-lagi membuat perempuan yang berada di samping jali itu tercengang.


"Suami kamu dimana? Kok dari tadi saya lihat kamu sendiri?" Tanya Jali lagi.


"Saya sudah berpisah dengan suami saya bang, ternyata dia tidak jauh lebih baik dari Abang. Beberapa kali saya mendapatkan kdrt darinya sehingga memilih untuk bercerai,"


Ujar Salma mulai meluncurkan aksinya agar mendapatkan simpati dari Jali, mantan pacarnya dulu.

__ADS_1


"Semoga saja nanti mendapatkan suami yang baik untuk kamu, kalau begitu saya pergi dulu," ujar Jali tersenyum, meski merasa kasihan mendengar cerita Salma tapi ia sadar, ada istri yang kini sedang mencarinya di rumah dan ia tidak ingin masa lalunya akan membuat ruang tangganya hancur.


"Iya bang, hati-hati," ujar Salma kemudian mengalihkan pandangan pada mbak pelayan toko. Ia mengeluarkan sejumlah perhiasan kemudian menjual untuk kehidupannya ke depan.


Melihat Jali yang sudah berubah membuat Salma ingin mendekati kembali mantan pacarnya tersebut karena ia tidak biasa hidup dalam kemiskinan. Apalagi ia baru saja melihat Jali membelikan Cincin untuk istrinya.


***


"Kok jam segini baru pulang bang?" Tanya Lili pada suaminya yang baru saja sampai rumah. Jali yang baru saja sampai hanya menatap istrinya dengan datar seakan ia tak suka dengan pertanyaan-pertanyaan istrinya agar bisa membuat istrinya marah.


"Memangnya kenapa dek? kok kamu cerewet sekali akhir-akhir ini. Lagian tadi Abang terlambat pulang karena ketemu sama Salma," ujar Jali terbesit ide untuk membuat istrinya cemburu.


"Salma, Salma siapa bang?" Tanya Lili dengan raut kebingungan.


"Itu Salma anak ibu Aminah, dia sudah pulang dari Jakarta," ujar Jali berjalan ke kamar dan Lili dengan setia mengekor di belakang.


"Jangan bilang kalau Salma mantan pacar Abang yang dulu," kata Lili menebak.


"Nah, itu adek tahu! Tadi Abang gak sengaja ketemu sama dia ternyata dia..," ujar Jali semakin membuat istrinya cemburu.


"Apa adek cemburu?" Tanya Jali.


"Apa aku tidak boleh cemburu begitu?"ujar Lili menatap suaminya yang dari tadi tidak pernah melihat ke arahnya.


"Sudah, Abang mau istirahat! Oh ya, tadi Abang beli baju untuk kamu dan nanti malam kamu pakai baju ini," ujar Jali meletakkan paperbag di atas tempat tidur mereka.


"Memangnya kita mau kemana bang?" Tanya Lili mengambil paperbag tersebut.


"Ke kondangan, sudah Abang tidur dulu! Apa capek dari tadi muter terus," ujar Jali.


"Memangnya tadi Abang kemana saja?" Tanya Lili.


"Ke toko perhiasan," ujar Jali keceplosan membuat Lili terkejut, ia pun berjalan mendekat ke arah suaminya untuk mendengar lebih jelas tapi Jali memilih untuk memejamkan mata dan tidur.


Lili menghela nafas saat melihat suaminya sudah tertidur, padahal ia ingin bertanya jelas tentang yang di dengar tadi.

__ADS_1


"Apa bang Jali menjual perhiasan kami ya?" Ujar Lili lirih, sesekali ia menatap suaminya yang berwajah teduh tersebut.


Karena Jali sudah tidur, Lili merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan beristirahat meski rasa penasaran berkecamuk didalam pikirannya. Jali yang belum tidur masih merasakan deru nafas istrinya.


****


Lili tampil cantik dengan baju yang di belikan oleh Jali tadi siang, dengan phasmina berwani pink soft dengan kulit putih bersih. Jali begitu terpesona dengan kecantikan istrinya.


"Kita mau kemana sih bang, kok pakai baju sebagus ini? Ke kondangan pun gak pernah tuh kek gini," ujar Lili memperbaik letak hijabnya.


"Nanti kamu juga tahu, ayo kita berangkat," ujar Jali menarik tangan istrinya, ia pun hanya mengangguk dan keluar menaiki sepeda motor mereka.


Sesampai di cafe, suasana sangat sepi dan lampu resto sengaja di matikan untuk memberikan Surprise untuk Lili.


"Bang, kok kita ke cafe sih! Kamu gak lihat cafe kak Sarah sepi dan tidak ada orang," ujar Lili turun dari motor.


"Memangnya Kenapa? Aku memang sengaja membuat cafe ini sepi biar gak ada orang datang kesini," ujar Jali menarik tangan istrinya.


"Loh, kok kamu jahat sekali sama kakak kamu sendiri hang," ujar Lili.


"Kok kamu bilang suami sendiri jahat," tanya Jali menarik tangan Lili.


"Bagaimana tidak, Abang ingin membuat Cafe kak Sarah bangkrut kan," ujar Lili lagi.


"Astaghfirullah, sudah kita bahas itu nanti yang terpenting kita masuk dulu," ujar Jali membantu istrinya berjalan dalam kegelapan.


"Bang, kok gelap sih? Hidupin lampunya kek," ujar Lili mulai merasa tak nyaman.


"Sudah, jalan ajak dulu nanti lampunya juga hidup," ujar Jali.


"Iya hidup tapi kapan," cerocos Lili lagi.


"Surprise....!" Lampu nyala membuat mata lili silau dan kaget melihat cafe di hiasan begitu balon, semua keluar keluar dari persatu atas undangan suaminya.


"Ada apa ini bang?" Tanya Lili bingung.

__ADS_1


"Happy unniversary yang ke tiga tahun sayang," ujar Jali menatap istrinya, Lili yang di beri kejutan hanya bisa menutup mulut terharu dan langsung memeluk suaminya.


__ADS_2