
Bugh...
Bu Wati pingsan mendengar Jaka menceraikan anaknya, Maya yang berada di situ sangat terkejut dan langsung memanggil Lira.
"Ibu kenapa kak?" Tanya Lira melihat Ibunya tergeletak di lantai.
"Sudah, kamu bantuin Mbak bawa ibu ke kamar ya," kata Maya khawatir sedangkan Jaka sudah pergi meninggalkan kediaman Bu Wati.
"Iya Mbak," kata Lira ikut mengangkat tubuh ibunya.
Sepanjang perjalanan Jaka hanya diam, sesekali memukul setir karena sakit hatinya. Ia tidak menyangka penghianatan istrinya hanya karena tidak pernah merasa puas di atas ranjang.
Hanya sebuah alasan klise yang di jadikan tameng oleh Maya agar tidak di ceraikan oleh suaminya.
Di tempat lain, Jali dan Lili sedang duduk di depan teras kontrak mereka. Menikmati secangkir teh di sore hari di temani kue di samping mereka berdua.
"Bang, menurut kamu cocok gak mbak Dila sama bang Jaka?" Tanya Lili.
"Kok kamu ngomong gitu dek, apa kamu ingin bang Jaka sama Mbak Maya berpisah?" Jali menatap Istrinya heran.
"Gak sih mas tapi aku ngerasa hubungan Mbak Maya sama bang Jaka lagi gak baik-baik saja. Contoh tadi waktu di rumah kak Sarah Mbak Maya langsung ajak pulang bang Jaka," kata Lili lagi menatap suaminya yang sedang mencomot kue di dalam piring.
Benar sih tapi sudahlah kita tidak usah bahas itu lagi! Sekarang kita cukup bahas masalah kita," kata Jali menggenggam tangan tangan istrinya.
__ADS_1
"Masalah kita, memangnya kita punya masalah bang?" Tanya Lili heran.
"Enggak, bukan itu maksud Abang! Maksud Abang itu kamu mau bangunan rumahnya seperti apa," kata Jali lagi.
"Bangun rumah, memangnya kita punya uang bang kan baru beli tanah,"
Jali menghela napas kemudian menatap manik mata wanita yang begitu ia cintai.
"Memang bukan sekarang kita bangunnya dek, tapi kita bisa merancangnya dari sekarang. Nanti kita bangun sikit-sikit," kata Jali tersenyum menatap Istrinya.
"Oh ya sudah, nanti aku cari rancangan rumah yang bagus bang." Kata Lili.
Jali hanya mengangguk."Ya sudah, sekarang kita masuk ke dalam," kata Jali bangkit mengajak istrinya ke dalam karena sebentar lagi waktunya magrib akan tiba.
Kini Jaka baru saja sampai rumah, ia turun dari mobil dengan rambut berantakan. Ia mengambil kunci rumah di dalam saku celananya dan membuka pintu rumah kemudian masuk, hatinya benar-benar lelah dengan semua yang terjadi.
Drrrt.....
Getaran ponsel mengagetkan Jaka yang sedang melamun, ia pun mengambil dari saku celananya. Ternyata penelepon adalah Maya, mantan istrinya sendiri namun panggilan tersebut di biarkan begitu saja tanpa ingin menjawab.
Namun sayangnya, ponsel itu kembali berdering membuat Jaka mau tidak mau harus mengangkatnya meski ia tak mau.
"Ada apa lagi kamu menghubungi ku?" Ketus Jaka berbicara di balik hp.
__ADS_1
"Bang, tolong aku! Ibu di rumah sakit, aku tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit ibu," kata Maya penuh Isak tangis di balik ponsel.
"Beliau ibumu, lalu kenapa kamu meminta aku untuk membayarnya," lagi-lagi Jaka menghela nafas kesal menahan amarah setiap kali berbicara dengan Maya.
"Sekali ini saja bang, aku tidak tahu harus cari uang kemana? Aku tahu ibu begini semua karena kesalahan aku tapi aku tidak punya uang kali ini, tolonglah bang!" Pinta Maya lagi meraung tidak jelas di ponsel padahal jauh disana ibunya baik-baik saja.
Sandiwara untuk mendapatkan uang dari Jaka di lakukan dengan sangat apik, ia sengaja membohonginya untuk mendapatkan uang atas perintah ibunya.
"Memangnya kau butuh berapa?" Tanya Jaka akhirnya luluh mendengar tangisan Maya.
"Tidak banyak bang, hanya lima juta saja," kata Maya girang.
"Ya sudah, tunggu sebentar," kata Jaka mematikan ponsel kemudian membuka M-banking mentransfer sejumlah uang pada Maya. Kemudian meletakkan ponsel di atas ranjang tanpa menghubungi Maya lagi.
Jauh disana Maya tersenyum girang melihat transferan dari Jaka, begitu juga dengan ibunya dan Lira.
"Bagaimana, apa mantan suami bodoh itu mengirimkan mu uang?" tanya ibu Wati.
"iya Bu, dia percaya saja kalau ibu sekarang berada di rumah sakit," kata Maya tersenyum kemudian duduk di atas ranjang.
"Suami mu itu memang bodoh, dia percaya saja dengan ucapan kamu. sekarang kamu hubungi adiknya, minta uang padanya sepeti apa yang kamu lakukan Jaka," kata Ibu Wati.
"Untuk apa, Bu?" tanya Maya heran.
__ADS_1
"Sebelum benar-benar berpisah, kamu porotin saja adiknya si Jali itu. Ibu yakin jika Jali akan memberikan uang itu," kata ibu Wati dengan penuh ambisi.
"Tapi Bu....!"