
"Assalamualaikum," seseorang lelaki dewasa datang ke rumah Lili, dia melihat pakaian lelaki tersebut dengan lambang PLN. Lili baru ingat jika dia belum membayar tagihan listrik sudah dua bulan.
"Permisi Mbak, saya kesini mau ngambil tagihan listrik," kata Lelaki tersebut tersenyum kaku.
"Ah iya, saya minta maaf lupa membayarnya. Memangnya berapa tagihannya bang," kata Lili.
"Cuma dua ratus ribu, Mbak," kata lelaki tersebut sesekali melirik ke arah Meli.
"Sebentar saya ambil uangnya dulu," kata Lili kembali masuk ke rumah menuju kamarnya untuk mengambil uang dua ratus ribu.
"Ini bang, Maaf ya sudah ngerepotin." Kata Lili.
"Tidak apa-apa Mbak, ini memang sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu saya pergi dulu," kata Lelaki tersebut hanya mendapatkan anggukan dari Lili.
Usai kepergian lelaki tersebut, Lili dan Meli pulang kembali ke rumah mertuanya tapi sebelumnya ia akan mampir dulu ke pasar untuk membeli bahan makanan dan menu apa saja yang akan di masak.
Sepanjang perjalanan, Meli tak sengaja melihat baju gamis di depan toko yang di pakaikan pada patung. Dia pun mampir tanpa sepengetahuan kakak iparnya.
"Kok kita berhenti disini, Mel?" Tanya Lili.
"Aku mau melihat baju gamis itu kak, kayaknya bagus kalau di pakai waktu lebaran," kata Meli turun dari motor, sedangkan Lili hanya diam.
Baju yang di bilang Meli memang bagus, simpel tapi elegan. Apalagi warnanya yang tidak mencolok, namun apalah daya Lili tidak bisa membeli baju sesuai keinginannya. Apalagi perekonomian mereka masih naik turun saat ini.
"Ayo Mbak, kita pulang," kata Meli keluar dari toko menentu dua kantong.
"Memangnya sudah beli bajunya, Mel," tanya Lili.
"Nanti kita coba di rumah bareng ibu," kata Meli tersebut yang hanya mendapatkan anggukan dari Lili.
Kini motor mereka membelah jalanan, tak peduli matahari yang sangat terik. Meli begitu senang mengendarai motor matic milik mertuanya. Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah setelah mampir di pasar, terlihat Bu Imah sedang menggendong Daffa.
"Assalamualaikum, Bu," ucap salam keduanya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Daffi udah bangun juga Bu?" Tanya Meli mengambil anaknya sedangkan Lili mengangkat belanjaan yang mereka beli tadi di pasar.
"Belum, cuma Daffa yang bangun sepertinya dia haus," kata Ibu lagi.
"Ya sudah, biar Meli susui dulu," kata Meli.
Bu Imah hanya mengangguk kemudian berjalan ke dapur membantu putrinya memasak untuk menu buka puasa.
"Mau masak apa, Li?" Tanya Bu Imah.
"Belum tahu juga Bu, tadi aku sama Meli ada beli cumi-cumi sama ikan tongkol juga sayur-sayuran," kata Lili membersihkan cumi-cumi di dapur.
"Kalau begitu kita masak cumi-cumi asam pedas aja, nanti ikannya di goreng sama buat sayur bening," kata ibu mendapatkan anggukan dari Lili.
Mereka pun bersama-sama saling membantu, tak terasa masakannya sudah selesai di masak untuk berbuka nanti. Lili melirik jam sudah menuju pukul 5 sore, ia bergegas ke kamarnya untuk mandi karena sebentar lagi suaminya akan datang.
Waktu berbuka sudah tiba, Bu Imah berbuka bersama bersama anak dan menantunya membuat ia bahagia, canda tawa terdengar nyaring di antara mereka.
Usai meneguk segelas air, Bang Jali lebih memilih untuk shalat dulu setelah ibu baru makan karena waktu magrib tidak panjang. Mereka pun shalat berjamaah kecuali Meli yang sedang berhalangan dan memilih untuk menjaga Kedua putranya.
"Tidak usah dek, biar Abang ambil sendiri saja! Kamu duduk saja disini," kata bang jali menepuk kursi di sampingnya sedangkan mertuanya hanya tersenyum.
Lili hanya tersenyum malu-malu kemudian duduk di samping suaminya, semua makan dengan khidmat kecuali ibu yang makan lebih dulu setelah berbuka dan Kini sedang menyuapi si kembar yang sudah berusia 8 bulan.
"Bu, tadi aku belikan baju untuk ibu sama kak Lili juga," kata Meli membawa kantong kresek di hadapan Lili dan mertuanya.
Meli mengeluarkan baju yang tadi di beli bersama kakak iparnya kemudian memberikan pada mereka berdua.
"Kok kamu beli juga untuk kakak Dek," kata Lili.
"Memangnya kenapa? Aku udah anggap kakak itu seperti kakak aku sendiri jadi kakak gak usah merasa tidak enak padaku, benarkan Bu," kata Mela memeluk mertuanya.
"Benar apa kata adik iparmu Li, terima saja pemberian darinya. Oh ya, kemarin kamu udah bilangkan sama suami kamu tentang baju yang tempo hari,"
__ADS_1
"Sudah, Bu. Nanti waktu pulang aku ambil ya," kata Lili, Bu Imah hanya mengangguk kemudian kembali menggendong cucunya.
***
"Mas, kok pintu rumah kita ke buka ya," kata Lili saat mereka sampai di rumah dan terlihat pintu rumah mereka terbuka.
"Masak sih dek, coba Abang lihat," kata bang Jali mendorong pintu rumahnya.
"Kamu benar dek, rumah kita kemalingan. Ayo kita masuk, kita lihat di kamar," kata Bang Jali langsung menerobos masuk ke dalam rumah, ia sangat takut jika surat berharga itu akan hilang di ambil pencuri.
Mereka tercengang melihat kamar yang berantakan, belum lagi lemari yang di otak Atik.
"Dek coba kamu lihat surat yang kita simpan selama ini, apa ada yang hilang termasuk surat rumah ini," kata bang Jali.
"Iya bang," kata Lili mengambil kunci kecil di sela bajunya kemudian menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan ranjang miliknya, kemudian menyibak sedikit tirai kasur yang menutupi seperti laci kecil.
Lili memasukkan kunci tersebut dengan tangan bergetar, ia takut jika surat-surat itu akan hilang. Pelan-pelan laci tersebut di tarik keluar dan Lili langsung mengeluarkan semua surat-surat berharga kemudian memberikannya pada suaminya.
"Coba Abang lihat, apa ada yang hilang," Lili memberikan dokumen tersebut, satu persatu Bang jali memeriksanya termasuk dokumen rumah yang mereka tempati.
"Jika dokumen ini tidak ada yang hilang, lalu apa yang di cari pencuri itu disini," batin bang Jali berkata.
"Dek, coba lihat tabungan kita," kata Bang Jali baru teringat dengan uang yang selama ini di simpan.
Buru-buru Lili berjalan ke arah lemari kemudian mencari celengan mereka ternyata tidak ada, Lili pun lemas melihat tabungan mereka yang raib.
"Bang, uang kita raib di bawa maling bang," kata Lili menangis, mendengar hal itu membuat bang Jali terkejut. Dia memeluk istrinya yang sudah menangis tergugu.
"Siapa yang melakukan semua ini pada kita, bang," kembali Lili bersuara.
"Sudah dek, kita yang sabar mungkin ini ujian," kata Bang Jali mencoba menguatkan istrinya.
"Bertahun-tahun kita menabungnya bang, setiap hari pula aku menghitungnya. Uang itu hampir dua puluh juta dan semua itu aku simpan tanpa membeli apapun bang," kata Lili kembali menangis, cobaan begitu menghampiri rumah tangganya.
__ADS_1
"Bangun dek, jangan seperti ini?" Kata Bang Jali mencoba membangunkan istrinya. Namun Lili melihat sesuatu di bawah ranjangnya.
"Apa ini bang?"