
"Dek bangun, udah waktunya berbuka puasa! Abang juga udah beli buah mangga muda sesuai permintaan kamu dan Abang tadi juga beliin testpack," kata Jali memberikan kantong kresek berwarna putih pada istrinya.
Mata Lili membulat saat melihat alat testpack sampai lima buah.
"Bang kok banyak banget, nanti kalau aku gak hamil kita kecewa lagi," kata Lili.
"Ya Abang gak tahu merek mana yang bagus jadi ambil saja semuanya, ayo kita berbuka sekarang," Ajak Jali membantu istrinya turun dari ranjang.
Lili berjalan pelan menuju meja makan di dapur mereka, makanan yang di beli tadi sudah di panaskan sudah terhidang di atas meja.
"Ayo, di minum dulu nanti baru makan," Jali menuangkan segelas air putih di dalam gelas kemudian memberikannya pada istrinya.
Syurr....
Lili tidak sengaja menyembur kembali air yang sudah berada di dalam mulutnya keluar.
"Kamu kenapa dek?" Tanya Jali.
"Kok rasa airnya gini bang, kayak air keratan pipa," kata Lili meletakkan kembali gelas.
"Masak sih dek, selama ini memang air ini kita minum selalu dan rasanya tidak berubah," kata Jali tidak habis dengan istrinya.
"Tapi kali ini rasanya beda bang, ganti aja airnya dengan air Le Mineral yang lagi viral itu, kalau gak aku gak mau makan," kata Lili ngambek seperti anak kecil, ia tidak mau makan karena air yang di minum seperti mengandung karatan pipa air.
"Ya sudah, nanti habis magrib Abang beliin tapi sekarang makan dulu ya," kata Jali membujuk istrinya.
"Tidak mau bang, aku gak mau minum air itu," kata Lili lagi.
"Gak apa-apa kamu gak mau minum air itu, Abang cari dulu mungkin ada air kemasan di dalam kulkas," kata Jali beranjak dari tempat duduknya.
Jali berjalan menuju kulkas yangterhubung dengan dapur, ia membukanya dan bersyukur karena air air kemasan Aqua gelas, ia sangat berharap jika Lili mau meminumnya.
"Gimana, Ada bang?" Tanya Lili.
"Alhamdulillah Ada dek, minum air ini dulu gak apa-apa ya? Nanti Abang beli galon Le mineral beserta air mineralnya khusus untuk adek," Kata Jali bercanda memberikan lima gelas aku pada istrinya.
"Ish Abang ini, aku serius tahu," kata Lili mengambil piring menyendok nasi juga lauk yang dia beli tadi.
Usai makan Lili ajak suaminya duduk di depan tv, memakan mangga muda membuat Jali bergidik ngiri sesekali hampir saja air liurnya keluar melihat istrinya makan dengan lahap tanpa rasa asam.
"Enak banget ya dek, makan mangganya sampai segitu?" Tanya Jali menatap piring mangga yang hampir kosong.
"Seger banget mangganya bang, besok beli lagi ya bang," kata Lili menghabiskan mangga tadi hingga tak tersisa.
__ADS_1
"Iya, Abang keluar sebentar mau cari air minum untuk kamu gak apa-apakan?" Tanya Jali.
"Mmm enggak boleh, Abang disini saja jangan kemana-mana. Lagian aku juga gak mau lagi, besok aja belinya," Ujar Lili membuat Jali bingung, tadi di suruh beli tapi sekarang gak mau lagi.
"Kami beneran gak mau lagi dek? Nanti kalau haus tengah malam kamu minta minum, Abang harus bagaimana?" Tanya Jali.
"Kalau begitu adek ikut kalau Abang pergi," kata Lili menaikkan kedua alis matanya.
"Ya sudah tapi gak lama ya, soalnya cuma beli air galon aja. Semoga aja tokonya pak Mahmud di buka," kata Jali bangkit begitu juga dengan Lili, kemudian mematikan tv.
*****
"Bang...," Panggil Sarah pada suaminya yang sedang bermain dengan laptop di depannya.
"Ada apa, dek?" Tanya bang Jamal menatap istrinya.
"Sibuk gak, adek mau ngomong sebentar sama Abang," kata Sarah tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang bekerja.
"Gak kok, sini duduk dekat Abang! Istri Abang mau bicara apa?" Tanya Jamal menarik tangan istrinya dan duduk di samping suami.
"Ini tentang Jaka bang," kata Sarah lagi, Jamal mengerutkan kening kemudian kembali terlihat biasa saja.
"Kenapa dengan Jaka dek, buat ulah lagi?" Tanya Jamal menatap istrinya.
"Abang gak salah dengarkan dek, tumben Jaka mau kerja di cafe dek sebenarnya apa yang terjadi dengannya dek?" Tanya Jamal lagi.
"Sepertinya ia sedang kesusahan uang bang, setiap bulan ia harus membayar setoran di bank belum lag istrinya dengan gaya sosialitanya itu membuat Jaka pusing kepala. Eh Abang tahu gak ternyata selama ini Jaka di guna-guna sama Maya, Abang lihat deh Video ini," kata Sarah mengambil ponsel, ia tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari suaminya.
Apapun masalah selalu ia ceritakannya, karena suaminya cinta pertamanya setelah bapaknya.
"Video apa sih dek?" Tanya Jamal menutup laptop suaminya.
"Coba bang lihat," kata Sarah sudah memutar video tersebut membuat Jamal melotot, ia tidak menyangka jika Maya bisa berbuat seperti itu.
"Setega itu Maya pada Jaka dek," kata Jamal.
"Entahlah, semua warisan sudah terjual hanya sisa satu lagi warisan untuknya yang memang sengaja di sembunyikan bapak, Jali pun tahu akan hal itu. Bapak sengaja menyembunyikan tanah itu agar tidak di minta oleh Jaka untuk di bagi waktu itu," kata Sarah.
"Lahan sawit di daerah Xxx yang di kelola oleh paman itu milik bapak, aku sengaja menyuruh paman untuk mengelolanya bang agar bisa membantu perekonomiannya," kata Sarah menatap datar ke depan.
"Jadi Jaka tidak tahu akan hal itu?" Tanya Jamal lagi, Jamal memang tahu Mertuanya banyak meninggalkan harta berupa tanah tapi ia tidak tergoda untuk memilikinya karena selama ini ia belajar dari Mertuanya hidup sederhana tapi memiliki aset yang bisa di tinggalkan untuk anak-anak ketika ia sudah tiada.
Sarah menggelengkan."Sebulan sekali aku datang kesana untuk memantau pohon sawit, ternyata pohon sawit itu berkembang pesat. Sebulan omsetnya hampir mencapai puluhan juta, setiap bulan paman selalu memberikan bagian kami masing-masing termsuk hak Jaka, tapi aku meminta paman mengirimkannya pada ku bang," Sarah kembali bersuara, kali ini Jamal benar-benar terkejut dan Sarah tidak memberitahunya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan bagian Jali?" Tanya bang Jamal.
"Dia juga mendapatkan hak yang sama tapi ia tidak pernah mengambilnya bang, ia memilih memberikan pada paman selagi ia tidak membutuhkan ia tidak mengambilnya bang," kata Sarah lagi.
Jamal hanya mengangguk.
"Kalau begitu kenapa gak di bayar saja hutang Jaka dek di bank," kata Jamal.
"Aww, sakit dek kok Abang di cubit," kata Jamal mengelus pahanya.
"Abang kalau ngomong di setel dulu, bisa saja adek bayar tapi keenakan istrinya dong, adek cerita begitu tuh mau minta izin boleh gak Jaka kerja di cafe gitu," ujar Sarah dengan wajah cemberut.
"Boleh, Cafe itu kan milik adek jadi terserah sama adek," kata Jamal menyelipkan rambut di balik telinga istrinya.
"Gak gitu juga kali bang, awal modalka lebih banyak uang Abang,"
"Husstt... Jangan katakan seperti itu! Uang yang ada di tangan adek itu milik adek dan anak-anak sedangkan Abang hanya bekerja untuk membahagiakan kalian," kata Jaka mendekatkan bibir ke pipi istrinya.
"Sekarang kita tidur ya, besok mas harus berangkat pagi-pagi ke kantor," kata Jamal.
"Iya bang, sini aku pindahin laptopnya," Sarah bangun dari tempat duduknya sedangkan anak bungsunya Naufal sudah tidur sejak tadi.
Ayok dek masuk, nanti dingin loh," kata Jali mereka baru saja sampai rumah setelah Lili memborong semua makanan yang ada di toko pak Mahmud padahal awalnya hanya ingin beli galon air saja.
"Iya bang, tunggu sebentar adek ambil ini dulu," kata Lili mengikuti jejak langkah kaki suaminya menuju dapur setelah mengunci pintu rumah.
"Bang, ternyata belanjaan adek banyak ya," kata Lili baru sadar jika ia sudah berbelanja cukup banyak malam ini.
"Iya dek, kamu hampir saja memborong semua barang disana," kata Jali tersenyum.
Ia tidak marah melihat istrinya seperti itu tapi ia memilih tersenyum, ia sangat yakin Jika istrinya itu sedang hamil. Sifatnya sangat berbeda sebelum dia hamil.
"Kok Abang natap aku begitu?" Tanya Lili memasukkan belanjaannya ke dalam kulkas.
"Gak dek, Abang senang lihat kamu mau belanja banyak, selama ini kamu terlalu berhemat," kata Jali.
"Semua itu karena aku ingin cita-cita kita cepat tercapai bang," kata Lili lagi.
"Abang tahu dek, kita ke kamar yok! Abang udah ngantuk ini pengen tidur," kata Jali.
"Iya bang tunggu sebentar lagi," kata Lili selesai menata belanjaannya.
"Ayok bang, adek juga mau tidur," kata Lili menutup pintu kulkas kemudian menggandeng tangan suaminya menuju ke kamar mereka.
__ADS_1