
Kini mereka berada di depan rumah Jaka, Sarah dan adik juga ipar ya turun dari mobil. Pintu yang terbuka lebar tanpa di tutup membuat Sarah langsung masuk tanpa memberi salam.
Terdengar suara orang cekikikan di dalam rumah, bukan di ruang tamu melainkan ruang keluarga yang di batasi tembok. Dengan langkah pelan, Sarah berjalan mendekati ke arah suara.
"Bagaimana May, apa kamu sudah mendapatkan uang dari suamimu," suara seseorang perempuan berusia 50 tahun kini duduk membelakangi mereka.
"Belum Bu," kata Maya.
Ternyata yang datang itu ibunya Maya, Sarah semakin mempertajam suaranya. Tak lupa ponsel untuk merekam agar jika ada yang mencurigakan dia sudah tahu.
"Bagaimana kamu ini May, sebentar lagi adik kamu Lira akan menikah dan uangnya belum ada sama sekali," kata Ibu Maya, ibu Susi.
"Sabar dulu, Bu! Bang Jaka lagi ngeusahin buat dapat pinjaman uang buat pernikahannya Lira," kata Maya lagi.
"Kamu yakin Jaka akan mendapatkan uang lima puluh juta," kata Ibunya lagi.
"Aku yakin Bu, kemarin aku sudah menyuruh dia untuk menggadaikan sawah adiknya pada pak Anton." Kata Maya tersenyum.
__ADS_1
"Bagus May, kamu porotin semua harta warisan suamimu dan uangnya kamu simpan pada ibu, nanti kalau dia sudah miskin kamu bisa cari laki-laki yang lain," kata Ibu Susui tersenyum.
Sarah yang mendengar semua sudah geram dan hendak keluar dari persembunyiannya.
"Ibu tenang saja, semua harta warisan bang Jaka sudah aku jual semua dan kini rumah juga mobil itu atas nama ku, untung waktu itu ibu memberikan ramuan itu untuk bang Jaka sehingga ia tunduk kepadaku," kata Maya tertawa seakan ia merasa bangga sudah memiliki semuanya.
"Apa kamu masih memberikannya May?" Tanya Bu Susi pada putrinya.
"Masih dong, Bu! Kalau tidak mana mau bang Jaka nurut begitu, dia rela bertengkar dengan adiknya hanya untuk menuruti semua keinginan aku," kata Maya lagi membuat Sarah tidak sabar untuk melabrak mereka tapi sayang, langkah kakinya di tahan oleh Jali.
"Sebaiknya kita pulang saja kak, kita bertemu saja dengan bang Jaka. Kita tidak bisa membiarkan semua ini terus," kata Jali.
Mereka bertiga kembali ke mobil dan masuk meninggalkan halaman rumah Jaka yang sangat luas kembali menuju Cafe.
***
"Kenapa Maya tega melakukan semua ini?" Kini Jaka berada di Cafe Sajana dan sudah melihat video yang di rekam kakaknya berdurasi tiga puluh menit itu, ia tidak percaya jika istrinya bisa melakukan itu.
__ADS_1
"Semua itu dilakukan karena kamu memiliki harta warisan bapak dan ingin semua harta itu menjadi miliknya, pantesan dia bisa merenovasi rumah kalian," kata Sarah kesal.
"Bang Jaka sekarang harus tegas, jika Maya memberikan ramuan pada Abang jangan di minum lagi. Semua ini demi kebaikan Abang," kata Jala menimpali, Lili hanya diam dan mengangguk membenarkan perkataan suaminya.
"Kamu juga tidak usah berhutang pada orang hanya untuk membiayai pernikahan adiknya Maya, kamu cukup memberikan apa yang sanggup bukan seperti ini Jaka,"
Meskipun begitu, Sarah begitu menyayangi adiknya. Dia tidak ingin melihat adik-adiknya menderita.
"Lebih baik kamu pulang saja sekarang, anggap saja kamu tidak tahu tentang hal ini tapi kamu harus bergerak untuk menggantikan kepemilikan rumah itu menjadi atas nama mu agar anak mu nanti mendapatkan hak, dan buat istrimu itu berubah menjadi lebih baik lagi," perintah Sarah, meski perbuatan Maya sudah keterlaluan tapi ia tidak ingin menyuruh adiknya untuk bercerai.
Jika masih bisa di pertahankan, maka Sarah akan menyuruh adik iparnya untuk mempertahankan rumah tangganya. Lagian semua itu bukan salah maya semata tapi ikut campur tangan ibunya.
"Iya kak, terimakasih sudah memberitahu Jaka kalau saja aku tidak tahu mungkin aku akan terus tunduk pada kemauan dia," kata Jaka menyesal.
Sarah hanya mengangguk begitu juga dengan Jali, ia hanya gak ingin berbicara apapun ataupun menghakimi kakaknya.
"Oh ya, aku boleh bekerja tidak di cafe ini paruh waktu soalnya aku harus membayar angsuy di bank setiap bulannya," kata Jaka lagi.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pulang saja dulu nanti kita bahas itu lagi," kata Sarah, Jaka hanya mengangguk kemudian pamit untuk pulang.
Dia memang marah pada istri tapi ia juga marah pada mertuanya, kalau bukan hasutan mertuanya mungkin istrinya tidak akan begitu. Dulu Maya tidak seperti itu tapi semenjak pembagian harta warisan itu sifat maya mulai berubah.