
"kandungan istri anda memasuki 6 Minggu ya pak, janinnya sehat tapi ibu harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak gerak, takut nanti keguguran. Nanti saya tulis resep tolong di tebus ya pak,"
kata dokter mengembalikan layar monitor ke semula, Lili bangun dari atas brankar dengan senyuman merekah, meski masih belum kelihatan setidaknya ada janin di rahimnya.
Dokter tersebut kembali ke mejanya kemudian menulis resep obat yang harus di minum oleh Lili.
"Ini resepnya pak, tolong di ingat ya Bu pesan saya," kata dokter tadi mendapatkan anggukan dari Lili.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Bu," kata Jali menggandeng tangan istrinya keluar dari ruang dokter.
"Alhamdulillah ya bang," kata Lili.
"Iya dek, sekarang kita tebus obat dulu setelah itu baru pulang ya," kata Jali lagi.
Mereka pun pergi ke apotik untuk menebus obat tadi, antrian cukup panjang tapi tak membuat Jali lelah untuk menunggu.
"Adek duduk disini saja dulu ya, abang kasih resep ini dulu ke kasir," kata Jali pada Lili, istrinya hanya mengangguk kemudian Jali pun meninggalkan istrinya sebentar lalu kembali menghampiri istrinya.
Lili hanya diam, kepalanya terasa sedikit pusing. Ingin rasanya ia tidur sebentar tapi ia masih berada di rumah sakit.
"Ibu Lili Suharni," nama Lili pun di panggil, Jali langsung berjalan mengambil obat milik istrinya kemudian pulang ke rumah mereka.
"Kamu masih kuat dek?" Tanya Jali.
"Masih bang," kata Lili.
__ADS_1
"Tapi dek jarak tempuh dari rumah sakit ke rumah kita butuh waktu dua jam loh dek, Abang takut kamu nanti kenapa-kenapa," kata Jali khawatir melihat istrinya.
"Aku masih kuat kok bang kalau bersama kamu," kata Lili tersenyum, meski ia lemas tapi tidak ingin membuat suami khawatir.
"Abang serius dek," kata Jali.
"Adek juga serius bang, sudah ayo kita pulang," kata Lili menarik tangan istrinya menuju parkir.
Jali hanya diam mengikuti langkah kaki istrinya, Lili tetap kekeh ingin pulang dengan motor padahal bisa saja ia memesan taxi tapi Lili tidak mau.
Mereka sampai rumah jam 11 siang, Lili turun dari motor melangkahkan kakinya menuju teras kontrakan mereka. Namun langkah kakinya terhenti saat mendengar deru suara mobil.
"Sepertinya itu mobil kak Sarah Bang," kata Lili berdiri di depan teras.
"Sepertinya iya dek, sebaiknya kita tunggu saja disini dulu," kata Jali menunggu seseorang turun dari mobil.
"Kak Sarah ayo masuk," kata Lili, Jali sudah membuka pintu duluan membiarkan kakaknya masuk.
"iya dek, kakak kesini juga ingin bertemu dengan kamu," kata Sarah kemudian melenggang masuk ke dalam rumah kontrakan adiknya.
"Memangnya mau ngomong apa kak?" tanya Jali.
"Masalah kebun sawit yang di kelola sama paman Dek," kata Sarah.
"Memangnya kenapa kak, bukannya kebun sawit baik-baik saja selama ini," kata Jali duduk di sofa begitu juga dengan Lili.
__ADS_1
"Oh ya, ini kakak bawain parcel buah untuk kamu dan juga dari kacang hijau, saat tahu kamu hamil kakak langsung kesini," kata Kak Sarah.
"Kakak tahu dari mana?" tanya Lili.
"Dari suami lah dek," kata Sarah tersenyum.
"Begini Jali, semalam paman menghubungi kakak karena katanya ada seorang mandor yang menyabotase sawit, padahal setiap panen hampir mencapai 100 ton tapi waktu di timbang tidak segitu. Jadi kakak besok mau kesana untuk turun langsung dan kakak juga ingin kamu memantaunya sampai orang itu tertangkap," kata Sarah lagi membuat Jali terdiam.
Dia tidak ingin pergi karena melihat kondisi Lili yang baru saja hamil.
"Aku bukan gak mau sih kak tapi aku tidak mungkin meninggalkan Lili sendiri di rumah," kata Jali menatap istrinya.
"Kamu benar juga dek," kata Sarah.
"Aku bisa tinggal sama ibu bang selama kamu pergi," kata Lili.
"Kamu yakin dek?" tanya Lili.
"Iya bang, lagian aku senang tinggal sama ibu nanti kamu tinggal jemput aku kalau sudah pulang," kata Lili lagi.
"Bagaimana Jal, apa kamu mau?" tanya Sarah.
"Boleh kak," kata Jali.
"Ya sudah, kalau begitu kakak harus kembali ke Cafe dulu." pamit Sarah mengambil tasnya.
__ADS_1
"iya kak, hati-hati di jalan," kata Lili mengantar kakaknya sampai depan rumah.
lambaian tangan mengakhiri perpisahan mereka dan mobil Sarah sudah hilang dari pandangan mereka.