Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Bab 44


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jali sudah siap hendak ke sawah untuk melihat sawahnya sudah bisa di tanam padi atau belum, sedangkan pundi-pundi rupiah dari hasil perikanan terus masuk ke rekening Lili. Begitu juga dengan hasil panen miliknya dan Lili, ia kumpulkan bersama untuk mencapai tujuan mereka mendirikan rumah.


"Mau kemana bang?" Tanya Lili.


"Abang mau ke sawah sebentar dek, memangnya Kenapa?" Tanya Jali menatap istrinya.


"Gak apa sih, kok adek lihat Abang tapi begini kayaknya bukan mau ke sawah deh," kata Lili menatap suaminya dari ujung kaki sampai rambut, ia juga mencium bau parfum di baju suaminya.


"Ya gak papa, sesekali rapi ke sawah kan," kata Jaka lagi.


Kali ini Jali bersikap cuek terhadap istrinya karena rencana ia akan memberi kejutan untuk hari Anniversary mereka yang ke tiga tahun di Cafe kakaknya.


Hanya acara makan malam keluarga nantinya yang akan di undang dan sebelumnya ia akan memberi tahu yang lain agar tidak memberi tahu Lili.


"Kamu kenapa sih bang kok cuek gitu?" Tanya Lili heran.


"Gak apa-apa? Ya sudah Abang pergi dulu kamu hati-hati di rumah sama jagain kandungan kamu," kata Jali cuek tanpa menatap istrinya penuh cinta, Kali ini benar-benar di buat bingung oleh suaminya sendiri.


Tidak pernah Jali datar seperti itu meski dulu mereka hidup penuh kekurangan tapi sekarang Jali bersikap cuek untuk memberi kejutan pada isterinya.

__ADS_1


Lili yang melihat tingkah suaminya bingung sendiri, biasanya sebelum berangkat Jali akan menciumnya tapi pagi ini Jali pergi keluar rumah tanpa pamit membuat Lili semakin penasaran.


"Kenapa ya sama bang Jali, biasanya gak kek gini?" Gumam Lili sendiri saat Jali sudah pergi ke sawahnya.


****


"Bang Jaka mau kemana?" Tanya Jali menghentikan laju motornya saat melihat Jaka yang hendak pergi berlawanan arah dengannya.


"Abang mau ke Cafe kak Sarah, Abang kan belum masuk kantor jadi Abang kesana aja bantu kak Sarah kalau kamu mau kemana Jal?" Tanya Jaka balik.


"Aku mau ke sawah bang, mau lihat apa sudah selesai di bajak atau belum biar bisa nanam padi lagi. Oh ya bang, aku juga mau membicarakan sesuatu sama Abang," kata Jali menatap abangnya dengan serius.


"Enggak usah bang, aku cuma bilang kalau semalam aku sudah tranfers uang untuk berobat mertua Abang," kata Jali membuat Jaka mengerutkan kening.


"Maksud kamu apa ya Jal, kok Abang gak merngerti maksud kamu ini apa?" Kata Jaka masih bingung.


"Begini loh bang, semalam Mbak Maya chat minta transfer uang karena ibunya sakit sedangkan Abang katanya gak punya uang jadi semalam aku menstranfer uang pada mbak Maya,"


"Apa? Kamu tranfers uang pada Maya, kok kamu gak kasih tahu Abang dulu sih. Memang kamu kirim berapa dek?" Tanya Jaka dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Gak banyak kok bang cuma 5 juta saja," kata Jali kembali membuat Jaka tenganga.


"Apa, 5 juta! Ia merotin kalian, benar-benar gak bisa di biarkan ini. Sudah di ceraikan tapi dia masih menyusahkan," kata Jaka geram kemudian hendak menghidupkan motornya.


"Tunggu, apa Abang bilang? Abang menceraikan Mbak Maya, memangnya kenapa?" Tanya Jali terkejut sekaligus penasaran.


"Abang lupa bilang sama kamu kalau Abang sudah menceraikan Maya karena ia ketahuan berselingkuh dengan lelaki lain," kata Jaka menggebu-gebu.


"Abang yakin jika Mbak Maya selingkuh, mungkin saja...,"


"Abang langsung memergoki dia sedang main kuda-kudaan di kamar kami di rumah ibunya," Jaka langsung memotong ucapan adiknya.


"Astagfirullah... Kalau begitu kita ke cafe kak Sarah saja untuk membicarakan hal ini," kata Jali.


"Iya, kamu benar dek tapi sebelumnya Abang mau ketemu Maya dulu dan menanyakan tentang uang yang di minta sama kamu," kata Jaka mendapatkan anggukan dari Jali.


****


Maya duduk di depan rumah ibunya, asik berselancar di dunia maya sedangkan ibunya sudah pergi bersama Lira untuk berbelanja. Dia asik tertawa dengan ponsel yang ada di tangannya sehingga tidak sadar dengan kedatangan seseorang yang membuat jantungnya akan copot.

__ADS_1


"Maya...!"


__ADS_2