
"Cukup Bang...," ucap Bang Jali dengan kesabaran yang tidak bisa di tahan lagi, ia menatap bang Jaka dengan penuh amarah dan gigi beradu.
"Sebaik Abang pulang saja dulu, kita akan bicarakan hal ini lagi nanti. Bagaimana Abang berniat untuk menjual rumah sedangkan Kak tidak tahu," kata Bang Jali beralasan sehingga bisa ada kelonggaran waktu untuk menjual rumah peninggalan bapaknya.
"Baiklah, Abang akan datang lagi nanti kesini dan Abang akan tetap menjual rumah ini," kekeh Bang Jaka.
Bang Jali hanya mengangguk tanpa berkata, Jaka pun pergi meninggalkan mereka berdua. Lili menghampiri suaminya yang kini masih berdiri termenung.
"Bang, bagaimana jika Kak Sarah juga setuju rumah ini di jual," kata Lili.
"Abang yakin kak Sarah tidak akan mengizinkan rumah bapak di jual dek, Abang harus ke rumah kak Sarah menemuinya dan membicarakan hal ini, kamu hati-hati di rumah ya," kata Bang Jali mengusap rambut istrinya itu, Lili mengangguk kemudian menatap sedih ke arah suaminya.
"Abang pergi dulu ya," kata Bang Jali pamit.
Bang Jali keluar dari rumah berniat untuk ke rumah kakaknya, jarak tempuh hanya 30 menit dari rumah orang tuanya sedangkan Lili berniat ke rumah orang tuanya dan membicarakan hal ini.
****
"Assalamualaikum,"
Kini Bang Jali tiba di rumah kakaknya, ia berdiri tepat di depan pintu sedangkan suara sahutan terdengar dari dalam.
"Wa'alaikumsalam, Jali! Ayo masuk dulu," kata Kakaknya, ia heran melihat adiknya pagi-pagi kesini padahal selama ini Bang Jali cukup jarang menemuinya.
"Ada apa, Dek?" Tanya Kak Sarah sangat tahu bagaimana sifat adik bungsunya, ia tidak akan mendatangi rumah kakaknya jika tidak ada keperluan mendesak.
"Bang Jaka ingin menjual rumah yang kami tempati kak, katanya Mbak Maya meminta untuk di belikan mobil," kata bang Jali langsung membuat mata kakaknya melotot mungkin terkejut dengan perkataan bang Jali.
"Istrinya yang ingin di belikan mobil, apa urusannya dengan rumah bapak kita dek," kata Kak Sarah tidak mengerti.
__ADS_1
"Uang untuk membeli mobil tidak cukup jadi bang Jaka berniat untuk menjual rumah bapak dan uangnya semua akan di pakai bang Jaka," kata Bang Jali lagi menatap kakaknya.
"Benar-benar keterlaluan si Jaka, demi menuruti nafsu istrinya ia ingin menelantarkan kamu. Kakak tidak setuju rumah itu di jual, Almarhum bapak sudah mewanti-wanti pada kita untuk tidak menjual rumah itu," kata Kak Sarah menggebu, ia sangat kesal dengan Bang Jaka. selama ini Kak Sarah memang tidak pernah suka dengan Mbak Maya karena sikapnya seperti orang kaya padahal ia terlihat dari keluarga biasa.
"Begini saja, sebaiknya kita temui saja Jaka ke rumahnya agar masalah ini cepat selesai," kata Kak Sarah.
"Boleh kak tapi bagaimana dengan Naufal," kata Jali melihat keponakannya masih bermain di ruang Tv.
"Bang Jamal bisa menjaganya sebentar, kalau begitu kakak ganti pakaian dulu sekalian pamit sama bang Jamal. Kamu tunggu di luar saja dulu juga boleh," kata Kak Sarah masuk ke kamar kemudian membangunkan suaminya yang haru ini tidak berangkat bekerja.
Kak Sarah menikah dengan seorang pegawai bank, sehingga keadaan rumah tangganya berkembang pesat. Memiliki rumah mewah dan juga mobil.
"Bang, tolong jaga Naufal sebentar ya," kata Kak Sarah.
"Memangnya kamu mau kemana, Dek?" Tanya Bang Jamal yang sudah sudah menikahi Sarah 10 tahun yang lalu.
"Ya sudah, kamu hati-hati perginya," kata Bang Jamal yang hanya mendapatkan anggukan dari istrinya.
Kini Sarah keluar dengan gamis berwarna bata dengan hijab yang senang, Bang Jali sudah berdiri di samping motornya kemudian beralih menatap kakaknya.
"Kak Sarah yakin mau naik motor?" Tanya Bang Jali melihat penampilan kakaknya.
"Yakinlah, ayo jalan! Jangan menatap kakak seperti itu meski aku sudah menikah dengan seorang pegawai bukan berarti aku berubah. Ayo berangkat, naik motor lebih mengasyikan dari pada naik mobil," kata Kak Sarah sudah duduk di belakangnya, Bang Jali hanya tersenyum.
"Ayo, Kak," kata bang Jali memstater motornya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Sedangkan Sarah merasa senang bisa naik motor bersama saudaranya. Dia teringat waktu kecil mereka dulu naik sepeda berdua, membayangkan itu semua membuat mata Sarah mengembun.
Tak butuh waktu lama, kini mereka berada di depan rumah Jaka. Sarah membulatkan mata melihat rumah mewa milik Jaka, adiknya. Pasalnya dua bulan yang lalu rumah Jaka hanya sederhana bukan seperti yang di lihat orang.
__ADS_1
"Kak, sepertinya Bang Jaka baru renovasi rumah," kata Bang Jali turun dari motornya.
"Sepertinya begitu dek, berarti Jaka banyak uang. Sebaiknya kita masuk saja," kata Kak Sarah langsung menerobos masuk setelah memberi salam tidak ada sahutan.
Mereka berjalan masuk tapi tidak orang di ruang tamu, kemudian melangkah semakin ke depan. Namun langkah Sarah terhenti saat mendengar seseorang berbicara.
"Kapan kamu menjual rumah bapak mu, bang?" Suara perempuan itu tak lain adalah suara Maya istrinya Jaka.
Sarah berjalan pelan ke depan lalu bersembunyi di balik tembok agar tidak terlihat oleh mereka berdua.
"Belum tahu, Dek! Jali tetap tidak ingin rumah itu di jual, lagian jika rumah bapak di jual Jali mau tinggal dimana," kata Jaka pusing memikirkannya.
"Dia kan bisa tinggal di kontrakan dan Jika rumah itu di jual kita bisa beli mobil, untuk apa rumah mewah tapi tidak ada isinya," ngomel Maya pada suaminya.
Sarah dan Jali masih saja mendengarkan pembicaraan suami istri tersebut.
"Kamu kan bisa beli pakek tabungan kita dari hasil penjualan warisan dua bulan yang lalu," kata Jaka membuat Maya melotot ke arah suaminya.
"Mas, uang itu buat masa depan anak kita. Jika kamu masih bisa menjual rumah bapak mu, kenapa harus memakai tabungan kita bang," protes Maya terhadap suaminya.
"Tapi rumah itu bukan punya ku, rumah itu juga punya hak Kak Sarah dan Jali. Jika rumah itu pun di jual Kak Sarah dan Jali tetap mendapat bagian," kata Jaka frustasi dengan sikap istrinya.
"Kasih saja mereka 20 juta saja dan lebihnya buat kita, lagian adikmu itu kan tidak punya anak. Jadi uangnya buat kita saja sedangkan Kak Sarah dia sudah memiliki segalanya jadi aku rasa kasih saja 20 juta," kata Maya dengan entengnya.
Sarah yang mendengarnya merasa geram terhadap adik iparnya, ia pun langsung keluar di balik tembok rumah bang Jaka.
"Jaka...,"
"Kak Sa...rah,"
__ADS_1