Kakak Ipar Serakah

Kakak Ipar Serakah
Piknik


__ADS_3

Hari weekend Jaka memilih untuk mengajak putrinya ke taman bermain anak-anak yang berjarak dua jam perjalanan, ia ingin menghabiskan waktu bersama putrinya dari pada harus bertengkar dengan Maya.


Jaka mengambil kunci mobil kemudian keluar dengan pakaian yang sudah rapi dan wangi, Maya yang melihat suaminya rapi langsung menerobos dengan pertanyaan.


"Mau kemana bang?" Tanya Maya menelisik suaminya dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Mau jemput Hanna, dan setelah itu mau mengajaknya jalan-jalan, apa kamu mau ikut?" Tanya Jaka basa-basi.


"Tidak ah bang, aku di rumah saja," kata Maya duduk di sofa.


"Kamu yakin gak mau ikut, kamu kenapa sih gak mau setiap di ajak jalan-jalan," tanya Jaka menatap istrinya.


"Bu...kan begitu bang tapi aku malas aja jalan-jalan! Lagian kamu berangkat saja sama Hanna, aku duduk di rumah aja," kata Maya beralasan padahal ia ingin bertemu dengan selingkuhannya.


"Baiklah, aku jemput Hanna dulu di rumah Jali," ujar Jaka keluar menuju Bagas rumahnya tempat dimana mobil di pakirkan.


Matahari mulai meninggi, Jaka sudah sampai di taman bermain anak-anak bersama putrinya. Hanna berlari dengan senang bermain-main ayunan.


Jaka duduk memantau putri kecilnya, raut bahagia terpancar dari mata Hanna. Dia banyak para orang tua mengajak anaknya ke tempat itu hanya untuk melepaskan penat dan weekend bersama keluar.


"Bunda, kayaknya itu Om Jaka deh," tunjuk Cahaya pada Dila yang kini juga berada di taman.


"Kamu benar nak, sepertinya Hanna juga ada disini," kata Dila memutar bola mata untuk mencari Hanna.


"Tuh Hanna sedang bermain ayunan," tunjuk Dila pada putrinya.


"Iya,Bun gimana kalau kita ajak Hanna sama Om Jaka duduk bersama-sama! Lagian gak seru kalau kita pikniknya cuma berdua," Celoteh Chaca menatap ibundanya.


"Boleh tapi kita samperin Hannanya dulu ya?" Kata Dila memegang tangan Chaca agar tidak terlepas dari genggamannya.


"Kak Hanna," panggil Chaca berlari, Jaka yang sedang bermain ponsel menoleh ke arah suara mendengar nama putrinya di panggil.


"Chaca, kamu disini juga," kata Hanna tersenyum bisa bertemu dengan Chaca.

__ADS_1


"Iya, aku sama Bunda mau piknik disini! Kamu ikut aku dan bunda piknik bareng aja biar lebih seru," kata Chaca antusias.


"Tapi aku sama ayah gak bawa apa-apa, Tante!," Kata Hanna menatap ayahnya.


"Gak papa, Tante bawa makanannya banyak kok jadi mau gak piknik bareng Chaca sama Tante," kata Lira tersenyum mengelus pipi Hanna yang Cubbi.


"Mau Tante tapi aku minta izin sama ayah dulu," kata Hanna berlari ke arah Ayahnya.


Melihat putrinya mendekat, Jaka bangkit kemudian berjongkok menyamai putrinya.


"Ayah, boleh gak kalau aku ikut kemping sama Tante Dila dan Chaca?" Tanya Hanna polos.


"Boleh tapi jangan ngerepotin Tante Dila ya, kasian nanti Tante Dilanya capek," kata Jaka pada putrinya.


"Om ikut kami aja, kalau bertiga mah gak seru!" Timpal Chaca.


"Iya Ayah, ayah ikut piknik sama kita saja," kata Hanna lagi.


"Ya sudah boleh, kita cari tempat yang cocok ya," kata Jaka mengarahkan pandangannya mencari tempat yang teduh untuk duduk santai.


"Gimana kalau kita duduk di bawah pohon saja?" Tunjuk Jaka.


"Boleh, ayo," kata Dila.


Kedua anak mereka berlari ke arah pohon besar tersebut, Jaka membantu Dila membawakan barang makanan dan tikar untuk mereka duduk.


Ia menggelar tikar di atar rerumputan pendek dan cukup bersih, Hanna dan Chaca bermain di sekitarnya saling mengejar menaiki perosotan.


Jaka dan Dila duduk tidak jauh, memantau setiap aksi kedua putri mereka agar tidak terjadi apa yang tidak di inginkan.


"Papanya Chaca kemana? Kok pikniknya cuma berdua?" Tanya Jaka membuka obrolan membuat Dila menoleh ke arah Jaka dengan datar.


Melihat perubahan raut wajah Dila membuat Jaka merasa bersalah.

__ADS_1


"Maaf kalau aku salah berbicara," kata Jaka lagi.


"Tidak apa-apa, aku dan papanya Chaca sudah bercerai dua tahun yang lalu dan Hak asuh Chaca jatuh kepadaku." Kata Dila mengingat saat masa-masa ia bersama suaminya.


"Bercerai, kenapa?" Tanya Jaka penasaran.


"Suamiku selingkuh dengan wanita lain, bukan hanya itu saja dia juga melakukan kdrt terhadap aku sehingga aku memilih bercerai karena tak kuat hidup bersamanya," kata Dila lagi dengan air mata yang mengembun.


"Maaf aku sudah membuka luka lama kamu," kata Jaka tak enak hati.


"Tidak apa-apa? Oh ya, kemana ibunya Chaca kok gak ikut?" Dila balik bertanya.


"Dia terlalu sibuk dengan dunianya, bahkan ia tidak punya waktu untuk sekedar menemani anaknya bermain," kata Jaka menatap Hanna dan Chaca tersenyum bahagia.


"Bunda, aku haus," teriak Chaca berlari ke arah Bundanya.


"Kan lagi puasa sayang, mana boleh minum," kata Dila melihat anaknya menahan haus.


"Yah, Chaca lupa tapi Chaca beneran haus bunda, boleh ya minum," kata Chaca berharap dirinya boleh minum sedangkan Hanna hanya diam duduk di samping ayahnya.


"Ayah, kok Chaca puasa? Bukannya anak kecil tidak boleh puasa ya?" Tanya Hanna menatap Ayahnya.


"Memang benar anak kecil tidak di wajibkan berpuasa tapi untuk melatih diri kan boleh sayang," kata Jaka memberi arahan pada Putrinya.


"Kalau begitu Hanna juga mau dong berpuasa," kata Hanna.


"Tahun depan aja nanti puasanya, tahun ini puasanya kan hampir habis," kata Jaka lagi.


"Iya Kak Hanna, dua hari lagi kita udah lebaran loh," kata Chaca.


"Sudah, kali ini bunda izinin Chaca minum tapi lain kali tidak di tempat terbuka seperti ini ya," Dila memperingati anaknya, banyak anak-anak yang bermain disini dan makan es krim sehingga Dila mengizinkan putrinya untuk makan di tempat ramai.


"Oke deh bunda, ini untuk kak Hanna" kata Chaha memberikan satu susu kotak kemudian Hanna pun mengambil dan meneguknya bersama Chaca.

__ADS_1


"


__ADS_2