Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
10# Nikah


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Raline dan Fandy. Pernikahan mereka cukup sederhana, hanya di hadiri oleh keluarga besar masing-masing kedua mempelai dan orang-orang penting relasi dari Fandy dan Daddy, serta relasi orangtua Raline saja.


Raline terlihat gugup saat waktu akad nikah semakin mendekat. Ia sudah berada di salah satu hotel yang di booking oleh Fandy untuk acara pernikahan mereka.


Tok.. Tokk.. Tokk..!


Terdengar pintu di ketuk dari luar, lalu Raline membuka kamar hotel tersebut dengan perlahan. Raline melihat Mama nya dari balik pintu kamar, lalu ia mempersilahkan Mama nya untuk masuk kedalam kamar tersebut.


Mama nya Raline menatap anak satu-satunya itu dengan tatapan takjub saat melihat penampilan Raline dengan balutan gaun pengantin.


"Ya ampunnn, anak Mama cantik sekali." Ucap nya takjub, Raline hanya tersenyum malu-malu, lalu ia memeluk Mama nya dengan erat.


"Ma.. maafkan Raline ya, Raline banyak salah sama Mama. Raline mohon, restu Mama untuk Raline." Air mata Raline mulai mengembang di pelupuk matanya.


"Kamu tidak ada salah apa-apa kok nak, Mama merestui kamu dengan ikhlas untuk dipersunting oleh Fandy. Mama juga do'akan, semoga kalian bahagia dan hanya maut yang mampu memisahkan kalian berdua.


Raline terhenyak saat mendengar doa Mama nya. Ia langsung merasa bersalah karena telah membohongi Mama nya. Raline yakin Mama nya akan merasa hancur dan kecewa bila mengetahui pernikahan ini hanya settingan Fandy dan dirinya.


"Mamaaaaa...! maafkan Raline." Raline semakin merasa bersalah dan menangis.


"Sudah, sudah, nanti make up mu rusak nak." Mama nya menghapus lembut air mata yang membasahi pipi Raline.


"Nona Raline, acara sudah mau dimulai."


Ucap seorang asisten, yang di utus oleh Fandy.


"I.. iya." Ucap Raline yang terlihat semakin gugup. Lalu Raline menatap Mama nya lekat-lekat.


"Siap lahir batin ya nak, Mama do'akan."


Ucap Mama nya, sambil mengecup lembut kening Raline.


Raline, Mama nya dan asisten Fandy, turun ke lokasi akad nikah. Di tengah taman yang indah berhiaskan bunga-bunga segar yang mengeluarkan wangi khas nya, di situlah Fandy sudah menunggu nya.


Pagi itu cuaca sangat cerah, secerah harapan kedua orangtua mempelai atas pernikahan anak-anak nya.


Raline melangkah dengan perlahan menuju meja dan kursi yang di sediakan untuk ijab kabul. Raline mencoba menyapa ramah para tamu undangan yang ia lewati. Tetapi ia tidak sekali pun menatap Fandy, calon suami Raline yang terus memandangi dirinya.


Fandy tampak terpesona dengan sosok wanita yang berjalan pelan menghampiri nya. Ia tak percaya sosok wanita itu adalah Raline wanita yang baru satu Minggu di kenal nya.


Fandy menatap senyuman manis yang Raline berikan kepada hadirin yang ikut terpesona melihat cantik nya.

__ADS_1


Fandy tidak menyangka gaun yang di pilih oleh Raline, sangat cocok di tubuh Raline yang ramping dan tinggi semampai.


"Cantik banget..!" Gumam Fandy, ia tidak bisa memungkiri kecantikan Raline pada hari ini.


Raline duduk di sebelah Fandy, wangi parfume Raline membuat Fandy semakin merasa grogi. Awalnya, ia menyangka akad nikah ini pasti sangat gampang ia lalui. Karena ia tidak punya perasaan apa-apa kepada wanita yang akan menjadi istri nya itu.


Tetapi, saat Raline muncul dihadapan nya, semua nya berubah begitu saja. Kini ia merasakan grogi yang luar biasa. seakan-akan ia akan menikahi wanita itu dengan sungguh-sungguh.


Akad nikah berlangsung dengan khidmat, walaupun lebih dari tiga kali Fandy tidak dapat berkonsentrasi mengucapkan ijab Kabul dengan benar. Namun pada akhirnya, ia bisa melalui itu semua. Setelah semua saksi mengatakan pernikahan mereka sah, Fandy langsung menghela napasnya dengan tenang.


Fandy menatap wajah cantik Raline yang menunduk malu. Dengan kikuk, Fandy mengecup kening Raline. Semua hadirin bersorak gembira dan mengabadikan momen indah tersebut.


Setelah ijab kabul, mereka pun merayakan pernikahan mereka di hotel yang sama. Hingga saat pengantin di minta untuk berdansa oleh semua tamu undangan, Raline dan Fandy pun tidak dapat menolak nya.


Dengan ragu, Raline menyambut tangan Fandy yang mengajak nya untuk berdansa. Tatapan Fandy seakan-akan dirinya memang mengharapakan untuk dapat berdansa dengan Raline.


Lagu berjudul beautiful in white, milik Westlife pun mulai melantukan melodinya.


Fandy menarik lembut tubuh Raline hingga tubuh gadis itu merapat di tubuh nya. Kedua tangan Fandy melingkar erat di pinggang Raline yang ramping. Wajah Raline mulai bersemu merah, entah mengapa ia begitu merasa salah tingkah saat tubuh nya begitu rapat dengan tubuh Fandy. Tetapi, tampaknya lelaki itu terlihat biasa-biasa saja.


"Akting mu itu benar-benar bagus." Bisik Raline tepat di kuping Fandy.


Lelaki itu hanya tersenyum kecil, lalu menatap gadis yang kini menjadi istri sah nya itu.


Raline mendadak merinding dan bergidik saat mendengar ucapan Fandy.


Raline pun langsung melepaskan tangan nya dari pundak gagah Fandy. Lalu Raline berusaha melepaskan lingkar tangan Fandy di pinggang nya.


Tetapi, lelaki itu seperti mengunci tangan nya di tubuh Raline. Hal itu membuat Raline tidak bisa pergi kemana-mana, selain pasrah untuk tetap berdansa dengan lelaki yang kini sudah menjadi suami nya itu.


Raline berusaha tersenyum saat semua mata melihat mereka. Lalu ia mencoba menikmati alunan musik dan gerakan dansa yang di kendalikan oleh Fandy.


Setelah musik berakhir, Raline melepaskan dirinya dari pelukan Fandy. Lelaki itu hanya tersenyum geli saat melihat ekpresi istri nya yang terlihat kesal kepada dirinya.


Raline duduk di dekat mertua nya, setelah menyapa sahabat-sahabat nya yang datang di hari pernikahan nya.


"Nak Raline." Mommy menyentuh lembut punggung tangan menantu kesayangan nya itu.


"Iya Tante." Sahut Raline dengan grogi.


"Kok Tante sih, panggil Mommy saja mulai sekarang ya nak." Mommy tersenyum penuh kasih sayang kepada Raline.

__ADS_1


Sedangkan Raline hanya bisa mengangguk dengan pelan, mencoba menunjukan bahwa ia setuju untuk memanggil dengan sebutan "Mommy", kepada wanita yang telah melahirkan suami nya itu.


"I...iya Mommy." Ucap Raline dengan ragu.


"Mommy mau bertanya, kamu punya cita-cita kemana gitu? luar atau dalam Negeri?"


"Hmmm, Raline ingin ke Korea ma. Tetapi, nanti bila uang nya sudah terkumpul." Jawab Raline dengan polos.


"Oh begitu, kenapa ke Korea?" Tanya Mommy lagi.


"Mungkin karena Raline terpengaruh drama-drama Korea Mom. Disana indah dan romantis kayak nya." Ucap Raline dengan bersemangat.


"Oh begitu." Mommy tersenyum menatap menantu nya itu.


"Hmmmm, memang nya kenapa Mom?"


Tanya Raline penasaran.


"Tidak apa-apa, Mommy hanya bertanya" Mommy kembali tersenyum dan mengusap lembut punggung Raline.


Akhirnya, acara pun berakhir. Setelah semua orang membubarkan diri, kini tinggal keluarga inti saja. Setelah beramah-tamah satu persatu pun pamit untuk kembali kerumah mereka masing-masing. Sedangkan Raline dan Fandy menuju ke kamar yang sudah di sediakan untuk mereka berdua di hotel tersebut.


Raline mengikuti langkah kaki Fandy yang berjalan mendahuluinya. Fandy menghentikan langkah nya, saat tiba di depan kamar yang mereka tuju. Lalu lelaki itu membuka pintu kamar tersebut.


"Masuk." Ucap Fandy kepada Raline dengan ekpresi wajah yang datar.


Raline terlihat ragu saat melangkah masuk kedalam kamar itu. Sesekali ia melirik Fandy yang terlihat sangat santai.


Setelah Raline masuk, Fandy pun menyusul lalu ia menutup pintu itu dan mengunci nya. Jantung Raline mendadak berdebar tak beraturan. Napas nya mulai terasa sesak saat melihat lelaki itu menghampiri dirinya.


"Ma... ma..mau ngapain..!" Ucap Raline sambil menyilang kan kedua tangan nya di dada.


Fandy tersenyum jahil menatap gadis yang sedang ketakutan itu mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki nya.


Fandy melangkah lebih dekat, namun Raline mencoba untuk mundur hingga tubuh nya terbentur dinding kamar itu. Dengan segera, Fandy memagari tubuh Raline dengan kedua tangan nya.


"Heh...! jangan macam-macam ya, ini tidak ada di perjanjian..!"


Raline mencoba mengingatkan lelaki itu dengan tegas. Tetapi, lelaki itu tidak peduli. Fandy mendekatkan bibir nya hingga begitu dekat dengan bibir Raline yang mulai terlihat gemetar. Lalu ia menatap mata Raline yang mulai berembun. Ia pun tersenyum lalu menurunkan kedua tangan nya.


"Aku mau tidur, capek." Ucap Fandy.

__ADS_1


Lalu lelaki itu meninggalkan Raline yang mencoba mengatur napasnya agar dirinya merasa tenang.


__ADS_2