Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
42# Iya, itu anak ku


__ADS_3

"Fandy mana?"


Tanya Mommy kepada asisten Fandy saat dirinya dan menantu kesayangan nya tiba di rumah.


"Ada nyonya di ruangan kerja nya"


Ucap asisten Fandy sambil membungkuk kan badan nya memberi hormat kepada nyonya besar.


"Masih saja mabuk-mabukan? dasar anak tidak mau di atur. Panggil dia..! aku ingin memberikannya kabar baik..!"


Perintah Mommy kepada asisten Fandy.


"Baik nyonya"


Asisten Fandy pun beranjak dari hadapan Mommy menuju ke ruang kerja Fandy.


Tok..tok..tok..!


"Tuan, ini saya"


Ucap asisten nya dari balik pintu ruang kerjanya Fandy. Dengan malas Fandy beranjak dari sofa lalu dengan sempoyongan ia membuka pintu ruang kerjanya. Fandy meringis saat kaki nya menginjak pecahan botol minuman yang tadi ia lempar ke arah pintu ruangan itu.


Darah pun mengalir dari telapak kakinya. Dengan menahan sakit ia mencabut pecahan kaca itu dari telapak kakinya, dan menyuruh asisten nya untuk masuk.


"Tuan, anda tidak apa-apa?"


Tanya asisten nya dengan khawatir saat melihat kaki Fandy mengeluarkan darah yang lumayan banyak. Dengan sigap asisten Fandy mengambil kotak P3K untuk menghentikan pendarahan di telapak kaki Fandy.


"Ada apa?"


Tanya Fandy dengan mata mabuk nya.


"Nyonya memanggil anda tuan"


Ucap asisten nya sambil memberikan pertolongan pertama kepada Fandy.


"Kenapa mencari saya?"


Ucap nya lagi sambil meringis saat asisten nya melumuri alkohol di sekitar lukanya.


"Kata nyonya ia mau menyampaikan kabar baik"


Asisten itu melumuri obat lalu memberikan perban di kaki Fandy.


"Kabar baik? apakah setelah semuanya terjadi ada kabar baik untuk ku?"


Tanya Fandy dengan lidah yang terseret karena mabuk nya. Asisten Fandy hanya terdiam sambil merekatkan perban.


"Tuan mau menemui atau tidak?"


Ucap Asisten itu kepada Fandy, sambil membereskan peralatan yang baru saja ia gunakan untuk merawat luka Fandy.


"Hmmm kabar gembira? apakah Raline pulang? aku suka kabar gembira"


Ucap nya, lalu dengan perlahan ia beranjak dari duduk nya dan keluar dari ruang kerjanya menuju ruang keluarga.


"Kaki mu kenapa?"


Tanya Mommy dengan khawatir, saat Fandy baru saja muncul di ruang keluarga.

__ADS_1


"Bukan urusan Mommy"


Ucap nya sambil tersenyum, dengan mata sayu nya. Mommy hanya menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana anak ini akan menjadi seorang Ayah bila sikap nya terus begini..!"


Ucap Mommy dengan kesal.


"Ayah? aku tidak akan menjadi Ayah"


Ucap Fandy sambil tertawa terbahak-bahak.


"Diam kamu..! istri mu sedang hamil anak mu..!"


Mommy membentak Fandy. Fandy pun terdiam, kesadaran nya kembali kepadanya saat mendengar Carolina hamil anak nya.


"Hah..?"


Fandy menatap Mommy dan Carolina dengan seksama. Lalu ia kembali tertawa terbahak-bahak.


"Hamil? tidak mungkin..!"


Ucap nya, sambil terus tertawa.


"Tidak mungkin?"


Tanya Mommy sambil menatap Carolina dengan tatapan bertanya-tanya.


"Honey...! kita berhubungan beberapa kali saat kamu mabuk kan?"


Ucap Carolina, dengan salah tingkah.


"Berhubungan?"


"Iya, kita melakukan nya sayang..! kamu ingat kan? jangan bilang kamu tidak mengakui darah daging mu sendiri..!"


Ucap Carolina dengan panik.


Fandy terdiam. Ia memang pernah tidur dengan Carolina, tetapi itu pun hanya sekali saja saat ia membayangkan Raline. Tetapi mengapa Carolina mengatakan berkali-kali? apakah ia terlaku mabuk sehingga ia tidak mengingat bahwa ia telah menggauli Carolina berkali-kali.


"Honey, aku hamil dan ini anak kita. Aku mohon demi anak kita, berubahlah jangan seperti ini terus"


Ucap Carolina dengan tatapan memohon kepada Fandy.


"Apakah benar kamu menghamili Carolina Fandy?"


Tanya Mommy dengan tak sabar.


Fandy menatap Carolina. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, nyatanya ia pernah meniduri Carolina saat dirinya sedang mabuk berat.


"Honey, ini anak kita"


Carolina menyerahkan hasil USG nya kepada Fandy. Fandy menatap hasil USG itu dengan tatapan kosong. Fandy masih belum percaya dirinya menghamili Carolina. Tetapi, nyatanya hasil USG itu mengatakan bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang Ayah dari anak yang sedang dikandung oleh Carolina.


"Fandy..., apakah benar ini anak mu?"


Mommy terus mendesak Fandy untuk berbicara. Carolina semakin tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari bibir Mommy.


"Mom, Apakah Mommy meragukan aku?"

__ADS_1


Tanya Carolina dengan tatapan yang tidak suka kepada Mommy.


Mommy pun terdiam, ia sadar pertanyaannya tentang anak yang dikandung oleh Carolina telah melukai hati wanita itu.


"Bila Mommy dan kamu, Fandy. Tidak percaya, tidak apa-apa. Biar aku keluar dari rumah ini membawa anak yang aku kandung"


Ancam Carolina.


"Carolina, bukan begitu maksud Mommy"


Mommy langsung menahan tangan Carolina yang sudah beranjak dari duduknya.


"Iya, terus maksud Mommy apa dengan meragukan anak yang aku kandung!"


Bentak Carolina dengan penuh emosi.


"Maafkan Mommy ya Carolina, Mommy hanya terpaku dengan kata-kata kalian tidak pernah berhubungan saat menjadi suami istri. Maafkan Mommy"


Mommy mulai menangis sambil menahan tangan Carolina. Carolina pun tersenyum kecut, lalu ia duduk kembali dan menatap Fandy dengan seksama.


"Bila Mommy meragukan, terus anak siapa yang aku kandung? apakah kalian mengatakan aku berselingkuh sehingga aku hamil? rendah sekali pemikiran Mommy kepada ku"


Ucap Carolina dengan emosi.


"Bila Mommy tidak percaya, mommy bisa bertanya langsung dengan Fandy, ia meniduri ku karena aku istri nya..!"


Ucap Carolina dengan angkuh nya.


"Itu anak ku Mom"


Ucap Fandy, Mommy pun menatap wajah Fandy dengan mata yang berbinar-binar.


"Jadi kalian... Alhamdulillah..! aku akan segera menjadi Oma..!"


Mommy menangis bahagia. Ia pun memeluk Fandy dengan erat.


"Terimakasih ya Nak, sekarang berubah lah lebih baik, kamu akan segera menjadi seorang Ayah. Jangan seperti ini lagi ya Nak..!"


Mommy meraih pipi Fandy agar anak satu-satunya itu menatap wajah nya.


Fandy menatap wajah Mommy dengan genangan air mata di pelupuk matany,


lalu ia pun mengangguk dengan ragu.


"Fandy janji, Fandy akan berubah lebih baik demi anak itu"


Ucap Fandy dengan tulus. Mommy pun tersenyum bahagia. Mereka saling berpelukan, sedangkan Carolina tersenyum penuh kemenangan saat mendengar Fandy berjanji akan berubah demi anak yang sedang ia kandung itu.


"Akhirnya.."


Ucap Carolina di dalam hatinya.


Carolina pun menghampiri Fandy, lalu ia meraih tangan Fandy dan meletakkan nya di perut nya yang masih rata.


"Say hello untuk Fandy junior"


Ucap Carolina sambil tersenyum manis menatap Fandy. Fandy menatap Carolina sejenak, lalu ia mengusap perut Carolina dengan tidak ikhlas.


"Hi"

__ADS_1


Ucap nya, lalu ia melepaskan tangan nya dari pegangan tangan Carolina. Fandy kembali nenatap Mommy yang masih menangis bahagia. Ia melihat kebahagiaan yang tiada tara, terukir jelas di mata wanita yang telah melahirkan dirinya itu.


Fandy mulai merasa bersalah dengan sikap nya. Ia pun bertekad untuk berubah, untuk dirinya dan anak yang sudah terlanjur tumbuh di rahim Carolina.


__ADS_2