
Raline terbangun dari tidurnya, ia menggeliat lalu mengusap kedua matanya. Lalu ia bangun dan duduk di atas ranjang. Sesekali ia menguap karena dirinya masih merasa mengantuk. Ia melirik jam di dinding kamarnya.
"Huffff.. sudah jam tiga pagi ternyata.
Batinnya, lalu ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari ranjang. Sebenarnya ingin sekali melanjutkan tidurnya, tetapi karena haus, ia terpaksa harus turun ke bawah.
Raline menuruni satu persatu anak tangga, dan langsung menuju ke dapur.
Saat dirinya hendak menuju dapur, sekilas ia melihat bayangan seseorang di depan ruang keluarga.
Saat itu lampu ruangan keluarga dimatikan, hingga Raline tidak bisa melihat dengan jelas siapa sosok yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Itu maling bukan sih?"
Gumamnya.
Raline meraih pajangan yang terbuat dari kayu dari meja di dekat tangga, untuk berjaga-jaga apa bila sosok tersebut adalah maling. Dengan mengendap-endap ia mendekati sosok tersebut.
"Heh... maling kamu ya... ciaaaaattttttt.....!!!!!!"
Tukkkkk....!!
"Aduhhhh.....!"
klikkkkkk....!
Raline langsung memencet tombol lampu yang persis di dekat Fandy.
"Kamuuu.....!!!!! ngapain disini....!!!!!"
Raline terbelalak saat mengetahui orang yang sudah ia pukul kepalanya adalah Fandy.
"Sakit tau....!"
Fandy mengusap-usap kepalanya dengan ekpresi menahan sakit.
"Ma...maaf"
Raline meminta maaf sambil menahan tawanya.
"Sumpah... sakit ini... lagian main pukul aja sih..! kalau ternyata orangtua kamu gimana..!?"
Ujar Fandy dengan kesal.
"Ya gak mungkin sih, soalnya mereka gak mungkin masih bangun"
Raline mengalihkan pandangannya, sebenarnya ia sangat ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekpresi wajah Fandy.
Fandy mengencangkan bibirnya lalu kembali mengusap bekas pukulan Raline di kepalanya.
"Lagian masa gak tahu kalo ini aku.. gimana sih..!"
"Mana aku tahu, biasanya gak ada orang lain di rumah ini selain Mama, Papa dan Bibik"
Ujar Raline membela diri.
"Bisa aja ngelesnya.."
Ucap Fandy lalu ia duduk kembali di atas sofa.
__ADS_1
"Kamu ngapain malam-malam disini? gak tidur? aku kira kamu pulang"
Ucap Raline lalu duduk di sebelah Fandy lalu menaruh pajangan kayu yang di tangannya ke atas meja.
"Kan aku sudah bilang, aku tuh ikut menginap..!"
Fandy menatap Raline, kesal.
"Kok aku sudah ada di kamar sih? kamu gendong ya..? ughhhh so sweet..!"
Raline menyipitkan matanya dan memonyongkan bibirnya.
"Gak.. tadi kamu mengigau, terus jalan sendiri ke kamar..!"
Sahut Fandy kesal. Raline pun kembali menyipitkan matanya sambil tersenyum menatap Fandy.
"Apaan sih..?"
Tanya Fandy masih dengan wajah kesalnya.
"So sweet deh kamu... oh iya, aku tuh mau ngambil minum tadi, sampai lupa"
Raline mencubit pipi Fandy dengan kedua tangannya lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur.
"Tolong ambil es sekalian.. aku mau mengompres kepala ku..!"
"Iya..iya.."
Sahut Raline sambil tertawa geli.
Tidak lama kemudian Raline kembali dengan membawa sekantung es batu.
Ucap Raline sambil menyodorkan sekantung es batu itu di hadapan Fandy. Lelaki itu hanya menatap sekantung es batu itu saja, tanpa mau mengambilnya.
"Ini... gak mau?"
Tanya Raline dan kembali menyodorkan sekantung es batu di depan wajah Fandy. Dengan malas Fandy mengambil es batu itu dari tangan Raline sambil mengomel.
"Udah berbuat bukannya tanggung jawab, korban malah disuruh mengompres sendiri. Kompresin kek... apa kek.. perhatian kek.. ini malah di perlakukan seperti ini"
Raline menahan tawanya saat melihat ekspresi Fandy yang sedang mengomel.
"Ughhhh.. cayangg... utukk utukkk cini biar aku yang kompresin ya... jangan gambek ya..."
Raline memonyongkan bibirnya seperti sedang berbicara kepada bayi. Lalu ia duduk di sebelah Fandy. Sedangkan Fandy hanya mencebikkan bibirnya melihat Raline yang berbicara seperti itu kepadanya.
"Mana sini es nya, biar dokter Raline yang kompres"
Raline merebut kantung es dari tangan Fandy. Dan mulai mengompres puncak kepala Fandy yang terlihat sedikit membengkak.
"Ih benjollll hahahhahahahhaha"
Ledek Raline, Fandy hanya bisa membuang napas kesal.
Dengan hati-hati Raline mengompres kepala Fandy. Wajahnya mendekat hanya lima belas senti dari wajah Fandy.
"Sakit ya..? maaf ya..."
Ucap Raline. Fandy menatap gadis di depannya. Ia melihat mata indah Raline, lalu turun ke hidung Raline yang tidak mancung, tidak juga pesek, sedang-sedang saja. Lalu ia mengakhiri jelajah matanya di bibir Raline, dan terpaku disana.
__ADS_1
Fandy menelan air liurnya sendiri. Saat memperhatikan bentuk bibir Raline yang sempurna. Ingin sekali rasanya ia menyentuh dan mengecup bibir indah itu, tetapi ia takut sekali bila Raline kembali mengungkit isi perjanjian nikah mereka.
"Kenapa?"
Pertanyaan Raline membuat Fandy mengalihkan pandangannya dari bibir indah Raline.
"Enggak, tidak apa-apa" Sahutnya.
"Tidur yuk, udah mendingan kan?"
Tanya Raline, Fandy pun hanya mengangguk. Lalu mereka pun naik ke lantai atas menuju kamar Raline.
Fandy merebahkan tubuhnya disamping Raline yang langsung memunggunginya.
Ia menatap punggung gadis itu, ingin sekali ia mengatakan "aku jatuh cinta kepadamu" dan memeluk gadis itu dari belakang. tetapi apa daya, perjanjian itu ia sendiri yang membuatnya dan ia pun belum tahu perasaan Raline kepada dirinya.
"Arghhhhh... perjanjian yang menyusahkan gue sendiri kalau begini jadinya. Lagian ini cewek kok bisa-bisanya bikin gue jatuh cinta sih....!!!!"
Batinnya, menyesali isi dari surat perjanjian itu.
Lalu ia berusaha untuk tidur dengan memunggungi Raline.
...
"Good morning sayang...."
Sapa Fandy kepada Raline, Raline membuka matanya dengan perlahan samar ia melihat sosok lelaki yang sedang tersenyum menatap dirinya.b
"Nih aku bawakan sarapan"
Fandy menaruh Baki yang berisi sepiring nasi goreng dan segelas susu di atas meja. Lalu ia membantu Raline untuk duduk di ranjang.
"Sepertinya aku pernah bermimpi seperti ini.. apa dejavu ya?"
Gumam Raline sambil menatap Fandy yang terlihat lebih tampan pagi itu.
"Tumben panggil sayang dan bawa-bawa sarapan segala"
Raline mengeryitkan dahinya menatap Fandy.
"Aku lagi caper sama mertua, makanya sok-sok perhatian biar gak di usir"
Sahut Fandy dengan ketus.
"Ih.. mending kita tinggal disini aja ya.. biar kamu caper terus sama orangtuaku. Lumayan kan kamu jadi nganterin sarapan terus buat aku"
Ucap Raline sambil tersenyum jahil. Fandy memutar matanya dengan malas. Lalu keluar dari kamar.
Raline berhenti tersenyum saat Fandy sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Lalu ia menatap sarapan yang sudah Fandy bawakan untuknya.
"Fan... andaikan pernikahan kita bukan karena perjanjian, mungkin kita pasti akan bahagia ya Fan..."
Raline tertunduk sedih lalu menyendok nasi gorengnya dengan malas.
"Andaikan kamu belum punya kekasih, mungkin aku mau menjalankan rumah tangga kita dengan normal. Tetapi kamu sudah ada Carolina, dan bisa saja dalam waktu dekat aku tersingkirkan"
Batinnya lagi.
"Papa mertua, semoga Papa panjang umur ya.. biar Fandy bisa lama di samping aku"
__ADS_1
Do'a Raline di awal pagi itu.