Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
47# Mencari Raline


__ADS_3

Dua hari sudah Fandy berada di Tokyo. Hari ini ia mengambil penerbangan pertama menuju Kanada. Sejak dirinya berada di dalam pesawat jantungnya terus berdegup kencang. Rasa tidak sabar akan bertemu dengan Raline menguasai hati dan pikirannya.


Fandy sangat yakin, bila anak yang sedang Raline kandung adalah buah cintanya dengan Raline. Tetapi ia masih tidak mengerti mengapa Raline menyembunyikan kehamilan kepada dirinya.


"Ah...Raline, kamu membuatku semakin menggila..!"


Gumam Fandy. Pesawat mulai terbang meninggalkan langit Tokyo. Butuh waktu yang panjang menuju Kanada, Fandy harus bersabar berada di pesawat itu.


Fandy tidak sekali pun dapat memejamkan matanya. Rasa gundah dan rindu memuncak di benak nya. Hal itu membuat dirinya menjadi tampak sangat gelisah.


Sejak pagi, Fandy junior terasa lebih aktif dari biasanya. Raline yang sedang berada di kampusnya, tersenyum saat bayi nya terus bergerak dan menendang perut nya dari dalam.


"Junior tenang ya sebentar lagi kita pulang"


Ucap Raline, kepada perut buncitnya. Tetapi bayi yang sedang ia kandung itu tampak begitu bersemangat hari ini. Raline hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum lalu ia mengusap perutnya dengan lembut.


"Hei.. sayang, kamu kenapa?"


Raline kembali berbicara kepada calon bayinya.


"Kenapa?"


Tanya Welas teman kampus Raline yang juga berasal dari Indonesia.


"Anak ku, dia tidak mau diam"


Ucap Raline dengan mata yang berbinar.


"Anak mu anak yang pintar itu, kapan HPL nya?"


Tanya Welas lagi.


"Bulan depan"


Jawab Raline dengan bersemangat.


"Gue gak sabar deh, ingin segera menjadi Aunty"


Ucap Welas sambil mengusap lembut perut Raline. Raline tersenyum menatap Welas.


Sore itu Raline pulang ke apartemen dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Mamanya Raline menatap Raline dengan khawatir.


"Line, apa tidak sebaiknya kamu cuti terlebih dahulu sambil menunggu anak mu lahir?"


Ucap Mamanya yang sedang membuat teh untuk Raline.


"Tidak Ma, Raline baik-baik saja"


Ucap Raline sambil tersenyum.


"Tetapi kesehatan mu dan bayi mu lebih penting Line"


"Sudahlah Ma, Raline ingin segera lulus dan kembali ke Indonesia. Jadi Raline tidak boleh mengulur-ulur waktu Ma"


Raline yang keras kepala mencoba memberikan pengertian kepada Mamanya.

__ADS_1


"Ya sudah, yang penting kamu yakin saja"


Ucap Mamanya kepada Raline. Malam itu mereka pun makan malam bersama di rumah. Raline menghabiskan dua piring nasi dan sup ayam buatan Mamanya. Mama dan papanya Raline tersenyum melihat anak mereka yang begitu lahap menyantap hidangan makan malam hari itu.


Setelah makan malam, Raline pun tertidur lelap di dalam kamarnya. Mamanya Raline menatap anaknya yang sedang tertidur pulas.


"Mama tahu kamu masih mencintai Fandy, dan andaikata Fandy mengetahui kehamilan mu. Pasti Fandy akan bahagia dan akan menemanimu saat masa-masa sulit seperti ini"


Gumam Mamanya Raline sambil membelai lembut rambut Raline.


"Mama berdoa semoga segala kebaikan mengiringi mu nak"


Gumam Mamanya Raline lagi. Lalu ia mengecup lembut dahi Raline lalu membenahi selimut putri nya. Mamanya Raline pun beranjak dari kamar Raline dan mematikan lampu agar Raline tidur lebih nyenyak lagi.


Pesawat Fandy tiba di Bandar Udara Internasional Jean Lesage Quebec. Fandy tergesa-gesa keluar dari bandar udara tersebut. Ia langsung menuju hotel yang sudah dibooking oleh sekretaris nya.


Setelah tiba di hotel, Fandy segera mandi dan beristirahat sejenak sambil mencari informasi universitas di Quebec. Setelah makan siang di hotel, Fandy tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. Ia pun meminta kepada sopir yang telah Ia sewa untuk mengantarnya ke universitas-universitas untuk mencari Raline.


Sudah tiga universitas ia sambangi, tetapi hasilnya nihil. Tidak seorangpun yang mengenal Raline. Tetapi, Fandy tidak putus asa. Ia terus mencari Raline dari universitas ke universitas lainnya.


Hari sudah beranjak sore, tetapi Raline belum juga ia temukan. Fandy duduk di bangku sebuah taman di salah satu universitas yang baru saja ia sambangi.


Fandy mengusir lelah nya dengan meluruskan kakinya yang terasa pegal.


Seorang wanita yang terlihat berasal dari Indonesia, lewat di depan Fandy. Fandy pun menyapa wanita itu.


"Dari Indonesia?"


Tanya Fandy kepada wanita itu. Wanita itu pun mengangguk dengan ragu.


"Hai, saya Fandy Rudiono. Saya mencari seseorang yang berasal dari Indonesia juga. Dia kuliah di Quebec, tetapi saya tidak tahu persis dimana kampus nya. Apakah anda mengenal wanita di dalam foto ini?"


"Nama nya siapa?"


Tanya wanita itu kepada Fandy.


"Raline, apa anda mengenal nya?"


Tanya Fandy dengan antusias.


Wanita itu menatap Fandy dengan tatapan yang mencoba menilai lelaki di hadapannya itu.


"Kamu siapanya Raline?"


Tanya wanita itu dengan tatapan menyelidik.


"Sa... sa... saya suaminya"


Ucap Fandy dengan terbata-bata. Wanita itu menatap Fandy dengan tak percaya.


"Ka, kamu ayah dari bayi nya?"


Fandy terdiam sesaat lalu ia mengangguk dengan cepat.


"Iya, saya ayah bayinya. Apa anda tau dia tinggal dimana?"

__ADS_1


Tanya Fandy kepada wanita itu. Wanita itu terdiam, ia bingung akan mengatakan apa.


"Apa lebih baik aku bertanya dahulu kepada Raline ya?"


Gumam wanita itu.


"Hmmmm.. begini saja, bagaimana besok kamu kembali lagi ke sini dan temui orang nya langsung"


Fandy menatap wanita itu dengan seksama.


"Tetapi dia benar kuliah di kampus ini kan?"


Tanya Fandy mencoba memastikan.


"Iya"


Jawab wanita itu singkat.


"Kalau boleh tau, nama anda siapa? dan saya boleh minta nomor ponsel anda untuk saya hubungi besok, bila saya datang ke kampus ini lagi?"


"Nama saya Welas, baik anda bisa mencatat nomor ponsel saya"


Ucap Welas. Dengan antusias Fandy mencatat nomor ponsel yang di sebutkan oleh Welas.


"Terimakasih ya, besok saya akan datang lagi"


Ucap Fandy, dengan ekspresi yang begitu lega.


"Maaf, bila saya boleh tahu. Mengapa kamu tidak mendampingi Raline dalam masa sulit nya?"


Tanya Welas to the point.


"Raline cerita apa?"


Tanya Fandy dengan mengerutkan dahi nya.


"Raline tidak pernah bercerita apa-apa kepada saya, tetapi wajahnya melukiskan penderitaan nya selama ini. Sebagai sesama perempuan, aku dapat merasakan penderitaannya. Apalagi ia harus berjuang sendirian saat hamil"


Ucap welas. Fandy pun terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Bolehkah saya mentraktir segelas kopi?"


Tanya Fandy kepada Welas.


"Of course, bila kamu tidak keberatan"


Ucap Welas, Fandy pun tersenyum lalu mengajak Welas ke cafe yang tidak jauh dari kampus itu. Mereka memesan dua gelas kopi dan makanan kecil di cafe itu.


"Jadi, bagaimana ceritanya?"


Tanya Welas, membuka percakapan yang tertunda tadi.


Fandy mulai menceritakan awal mula ia bertemu dengan Raline, hingga akhir nya mereka berpisah. Welas dapat melihat kesedihan di mata Fandy. Sebenarnya apa yang Fandy rasakan sama persis dengan apa yang Raline rasakan.


Welas mencoba memahami masalah yang Raline dan Fandy hadapi. Ia tidak menyangka keegoisan pihak ketiga lah yang membuat mereka harus bercerai, dan Raline harus menderita mempertahankan kehamilan nya sendirian.

__ADS_1


Welas pun bertekad untuk membantu Fandy bertemu dengan Raline. Sebelum mereka berpisah, Welas mengucapkan janji nya kepada Fandy untuk mempertemukan dua hati yang sudah lama terpisah itu.


Hal itu Welas lakukan demi anak yang sedang Raline kandung. Welas tidak tega bila Raline harus menghadapi persalinan sendirian. welas sadar betul, bagaimana pun jauh di dalam lubuk hati Raline, wanita itu sangat membutuhkan Fandy.


__ADS_2