Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
52# Dasar ular..!


__ADS_3

"Mengapa Fandy lama sekali ya di luar Negeri"


Gumam Carolina. Ia pun mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Fandy yang ia kira masih berada di Tokyo. Berkali-kali Carolina mencoba menghubungi Fandy, tetapi lelaki itu tidak sekalipun mengangkat panggilan dari Dirinya.


Tiba-tiba saja pesan teks dari Fandy masuk. Dengan hati yang berbunga-bunga Carolina pun membuka pesan dari Fandy.


My husband Fandy


Aku akan segera mengurus perceraian kita. Jangan pernah hubungi aku lagi, berhenti mempermainkan aku Carolina. Aku sudah tidak mencintaimu lagi dan alasanku menceraikanmu karena kau sudah berselingkuh dan mengandung anak orang lain.


Carolina terbelalak saat membaca isi pesan dari Fandy. Ia pun langsung mencoba menghubungi Fandy sekali lagi. Tetapi, lagi-lagi lelaki itu tidak mengangkat panggilan dari dirinya.


Carolina pun mengetik sebuah pesan untuk ia kirimkan kepada Fandy.


"Maksudmu apa? Aku berselingkuh? Apakah kau mempunyai buktinya? Aku tidak berselingkuh dan ini adalah anak kandung mu. Aku tidak pernah bermain-main denganmu, kamu lah yang seharusnya berhenti bermain-main denganku!"


Dengan tangan gemetar, Carolina mengirim pesan text itu kepada Fandy.


Tidak lama kemudian, beberapa pesan masuk ke dalam ponsel Carolina.


Carolina terlihat sangat kacau saat membuka pesan bergambar dari Fandy.


Carolina melihat gambar dirinya yang sedang bersama Alex. Beberapa pose yang menunjukkan perselingkuhan dikirim oleh Fandy. Carolina mulai gelisah Ia pun kembali membalas pesan dari Fandy.


"Itu sahabatku, aku tidak punya hubungan apapun dengan dirinya."


Lalu Carolina mengirim pesan tersebut kepada Fandy.


Fandy tersenyum sinis saat menerima pesan yang berisi penyangkalan dari Carolina. Lalu ia mencari foto saat Carolina sedang masuk ke dalam apartemen Alex. Lalu ia mengirimkannya kepada Carolina. Fandy mendapatkan foto-foto tersebut dari orang suruhannya yang sudah satu minggu mengikuti Carolina, semenjak kepergian Fandy ke luar Negeri.


Fandy pun merasa puas, saat Carolina tidak lagi membalas pesannya. Raline yang baru saja terjaga dari tidurnya, menatap Fandy yang sedang tersenyum-senyum sendiri.


"Lagi bertukar pesan dengan siapa?"


Tanya Raline dengan wajah yang cemberut.


"Eh, istriku sudah bangun."


Ucap Fandy sambil tersenyum dan mengecup mesra kening Raline.


"Sedang bertukar pesan dengan siapa? kok senyum-senyum sendiri..! Dengan wanita lain ya?"


Ucap Raline dengan tatapan yang curiga. Fandy tersenyum menatap istrinya, lalu ia mengecup lembut bibir Raline.


"Aku tidak butuh wanita lain, selain dirimu."

__ADS_1


Ucap Fandy sambil mengedipkan sebelah matanya. Pipi Raline pun bersemu merah, masih dengan cemberut ia melirik ke layar ponsel Fandy.


"Itu senyum-senyum sendiri, kirim pesan buat siapa sih?"


Tanya Raline lagi. Fandy tersenyum menatap istrinya yang sudah mulai mempunyai rasa cemburu kepadanya. Lalu Fandy menyerahkan ponselnya kepada Raline.


"Ini cek sendiri, kamu bebas membaca semua pesan disana. Hapus semua nomor perempuan yang ada di sana juga tidak apa-apa. Pokoknya semua terserah kamu, asal kamu tetap bersamaku selamanya."


Ujar Fandy. Mendengar ucapan suaminya, Raline pun menjadi salah tingkah, lalu ia mengambil ponsel Fandy dari tangan lelaki itu. Fandy hanya tersenyum menatap istrinya yang sedang mengecek ponsel miliknya.


"Kamu mengirim pesan seperti ini kepada Carolina?"


Tanya Raline, tak percaya saat ia membaca pesan Fandy kepada Carolina. Lelaki itu hanya mengangguk lalu tersenyum.


"Coba baca yang lainnya, aku tidak pernah membalas pesan dari wanita manapun."


Ucap Fandy lagi. Raline pun membuka pesan-pesan yang berada di ponsel Fandy. Ada banyak sekali wanita yang mengirim pesan mesra kepada Fandy. Tetapi tidak sekalipun pandi membalas pesan-pesan dari para wanita yang mencoba menggodanya.


Raline menatap Fandy dengan seksama, lalu ia mengembalikan ponsel itu kepada Fandy.


"Sudah ngeceknya?"


Tanya Fandy sambil mencubit lembut pipi chubby Raline. Raline mengangguk pelan lalu ia menatap Fandy malu-malu.


"Aku cinta sama kamu, yang ada di pikiranku hanya kamu, setiap hari, setiap detik cuma kamu. Aku tidak membutuhkan wanita lain. Aku sudah mempunyai wanita yang sempurna, yaitu kamu. Ibu dari anakku. Jadi, aku tidak perlu menanggapi wanita manapun di luar sana."


"Terimakasih sudah mencintaiku, aku juga sangat mencintaimu."


Ucap Raline. Fandy mendekap tubuh Raline, lalu mengecup pipi wanita itu dengan lembut.


"Menualah bersamaku."


Ucap Fandy.


...


Carolina membanting ponselnya di atas ranjang. Ia tidak menyangka Fandy mengetahui hubungannya dengan Alex.


"Tamatlah riwayatku."


Ucap Carolina dengan bibir yang gemetar. Carolina bingung apa yang akan ia lakukan. Saat ini dirinya cukup aman untuk tinggal di rumah itu, karena Fandy sedang berada di luar Negeri.


Carolina mulai berpikir untuk mempersiapkan dirinya untuk menyangkal tuduhan tuduhan Fandy saat lelaki itu pulang dari luar Negeri.


Lalu Carolina menghubungi Alex.

__ADS_1


"Halo Alex, sepertinya Fandy mengetahui hubungan kita. Untuk sementara waktu aku harap jangan ada pertemuan diantara kita. Ada orang suruhan pandi yang memata-matai kita. Aku akan mengirimimu sejumlah uang untuk menutup mulut mu. Bila sudah aman kita boleh bertemu lagi. Aku tidak ingin rencanaku sia-sia, Aku akan terus memberikan uang berapapun yang kamu mau."


Ucap Carolina melalui sambungan teleponnya kepada Alex. Lelaki itu terkekeh saat mendengar ucapan-ucapan Carolina.


"saat ini aku membutuhkan uang lima ratus juta. Tolong kirimkan rekeningku maka semua akan aman."


Ucap Alex. Carolina pun menghela nafas nya dengan kesal.


"Oke"


Ucap Carolina singkat, lalu ia mengakhiri panggilan teleponnya. Lalu Carolina menelpon asisten Fandy untuk mengirimkan uang sebesar lima ratus juta ke rekening dirinya. Dengan alasan ia ingin membeli peralatan bayinya.


Asisten Fandy mengernyitkan dahinya saat ia baru saja menerima telepon dari Carolina.


"Lima ratus juta? Hanya untuk keperluan bayi?"


Gumam asisten Fandy.


Asisten Fandy tidak mau gegabah, Ia pun mencoba menghubungi Fandy untuk membahas uang yang diminta oleh Carolina.


Fandy menjatuhkan tubuhnya di samping Raline, peluh membasahi tubuhnya. Ia tersenyum menatap Raline yang terbaring di samping nya. Mereka baru saja melepas rasa rindu mereka untuk yang kesekian kali nya, setelah sekian lama mereka berpisah.


Ting...Ting...Ting...!


Ponsel Fandy berdering. Dengan malas lelaki itu meraih ponselnya dari meja nakas di samping ranjang di kamar apartemen baru mereka.


"Sebentar ya."


Ucap Fandy kepada Raline, Raline pun mengangguk dan tersenyum kepada Fandy.


"Halo"


Sapa Fandy kepada asistennya.


"Boss, nyonya Carolina meminta uang sebesar lima ratus juta untuk di transfer ke rekening nya. Katanya untuk membeli keperluan bayi dan sudah dengan persetujuan Boss. Apa benar?"


Tanya asisten Fandy. Fandy hanya tertawa dengan sinis.


"Jangan berikan dia satu perak pun, tanpa persetujuan saya. Saya tidak pernah memberikan nya izin apa pun. Sekarang, kamu ke rumah saya, ambil kartu kredit yang pernah saya berikan untuk nya. Tetapi jangan usir dia, kasihan. Nanti biar saya yang mengurus dia."


Perintah Fandy.


"Siap Boss, saya laksanakan."


Ucap asisten Fandy, lalu ia mengakhiri panggilan telpon nya.

__ADS_1


"Dasar ular..!"


Ucap Fandy, dengan geram.


__ADS_2