Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
56# Mengelak


__ADS_3

Malam itu juga Fandy menelepon orang tuanya untuk datang ke Jakarta. Dengan alasan ia akan menggelar acara tujuh bulan kehamilan Carolina. Mommy dan Daddy terdengar sangat antusias. Mereka pun berjanji akan datang esok hari ke acara tujuh bulan kehamilan Carolina.


Sedangkan Alex, masih ditahan di markas bodyguard Fandy. Fandi kembali ke hotel nya, sesampainya di hotel Fandy langsung menghubungi Raline lewat video call. Tidak seharipun ia lewati tanpa video call dengan Raline dan Rafa. Fandy bahagia sekali melihat Rafa yang terlihat sedang tertidur nyenyak di pangkuan Raline.


"Bagaimana urusannya sayang?"


Tanya Raline.


"Lancar, lamu tidak usah khawatir. Besok adalah final."


Ucap Fandy sambil tersenyum menatap Raline di layar ponselnya. Raline membalas senyuman Fandi.


"I miss both of you."


Ucap Fandy.


"I miss you too."


Jawab Raline.


"Ya sudah, istirahat. Di sana sudah malam kan?"


Ucap Raline. Fandy hanya mengangguk sambil memberikan kecupan jarak jauhnya.


"Bye sweet heart."


"Bye sayang."


Sahut Raline.


"Peluk cium ku untuk Rafa."


Ucap Fandy mengakhiri video call mereka.


........


Esok harinya, asisten Fandy menjemput kedu orangtua Fandy di bandara. Lalu ia langsung membawa orangtua Fandy menuju rumah.


Sedangkan Fandy sedang dalam perjalanan nya pulang ke rumah. Alex pun dibawa ke rumah Fandy dengan mobil yang berbeda.


Carolina menghampiri Fandy yang baru saja tiba di rumah. Wanita itu langsung mencerca Fandy dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Fandy semakin kesal kepada dirinya.


"Ke mana saja kamu? mengapa kamu lama sekali di luar Negeri. Apakah kamu tidak kasihan dengan aku yang sedang mengandung anak kamu?"


Tanya Carolina. Fandy menatap Carolina dengan tatapan dingin.


"Mengapa kamu mengambil kartu-kartuku? Apakah kamu tidak berpikir aku sangat membutuhkan kartu itu?"


Fandy menghela napas, kesal. Namun Ia tetap mencoba untuk santai.


"Mengapa uang belanja untuk makan ku dikurangi? Apakah kamu tidak berfikir aku membutuhkan makanan yang bergizi makanan yang enak? Aku sedang hamil loh Fandy..! Apa kamu sedang menyiksaku..?"


Fandy berlalu dari hadapan Carolina menuju kamarnya. Ia tidak menggubris semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Carolina.


"Fandyyyyy...!"

__ADS_1


Teriak Carolina saat Fandy masuk kedalam kamarnya. Carolina pun menyusul Fandy ke kamar, lalu ia membanting pintu kamar dengan kasar.


"Jawab semua pertanyaanku..!"


Ucap Carolina dengan emosi.


"Sebentar lagi Mommy dan Daddy tiba di rumah, lebih baik kamu tutup mulutmu. Jangan membuat kebisingan di rumahku."


Ucap Fandy.


"Untuk apa orangtuamu kesini? ada urusan apa mereka?"


Tanya Carolina. Fandy menatap Carolina, tak percaya dengan ucapan wanita itu. Dengan emosi Fandy mencengkram lengan Carolina kuat-kuat, hingga membuat Carolina meringis menahan sakit di lengannya.


"Mereka orang tuaku, Ini rumahku. Jadi kapanpun orang tuaku datang, kamu tidak berhak untuk bertanya atau berkata seperti itu..!"


Bentak Fandy. Carolina pun terdiam lalu menundukkan pandangannya.


"Harusnya kamu yang bersiap-siap untuk pergi dari rumah ini. Karena kamu sudah berselingkuh di belakangku, dan bayi yang kamu kandung itu bukan anakku..!"


Ucap Fandy lagi.


"Aku sudah bilang aku tidak berselingkuh..! ini adalah anak kandung mu Fandy. Lelaki yang di dalam foto tersebut, itu adalah sahabat ku."


Ucap Carolina mencoba untuk meyakinkan Fandy. Fandy tersenyum dengan sinis, menatap Carolina.


"Rencanamu kurang matang Carolina, aku bukanlah orang bodoh."


Ucap Fandy, lalu ia melepaskan cengkramannya dari lengan Carolina. Fandy berlalu dari hadapan Carolina menuju lemari pakaiannya. Ia membuka kemejanya dan mengganti kemejanya dengan kemeja yang bersih.


"Fan, Aku sedang tidak berbohong kepadamu. Aku tidak berselingkuh dan ini adalah anak kandung mu Fan..! Percayalah kepadaku, aku tidak mungkin menghianatimu dan tidak mungkin berbohong kepadamu."


Carolina terus mencoba meyakinkan Fandy. Fandy melepaskan tangan Carolina yang melingkar di pinggangnya yang ramping. Lalu ia membalikkan badannya dan menatap wajah Carolina dengan tajam.


"Honey, berhentilah berbohong."


Ucap Fandy sambil tersenyum sinis. Lalu ia meninggalkan Carolina menuju ruang tamu.


Mommy dan Daddy, baru saja tiba di rumah Fandy. Fandy menyambut mereka dengan pelukan hangat. Mereka pun masuk ke dalam rumah dan duduk bersama di ruang tamu.


Tidak lama kemudian Carolina bergabung bersama mereka, dan berbasa-basi kepada Mommy dan Daddy.


"Loh, kok sepi? katanya mau mengadakan acara tujuh bulanan."


Tanya Mommy dengan wajah yang bingung. Wajah Daddy pun tak kalah bingung menatap Fandy dan Carolina.


"Mommy, Daddy, aku tidak mungkin menyelenggarakan acara tujuh bulanan anak yang bukan darah dagingku sendiri."


Ucap Fandy dengan tenang.


"Fandy..! maksudmu apa berbicara seperti itu..!"


Bentak Daddy sambil menatap Fandy dengan kesal.


"Anak yang dikandung oleh Carolina itu bukanlah anakku. Carolina sudah berselingkuh dengan lelaki bernama Alex."

__ADS_1


Ucap Fandy lagi.


Mommy dan Daddy menatap Fandy tak percaya, lalu mereka menatap Carolina dengan tatapan yang membutuhkan jawaban dari bibir wanita itu.


"Kamu jangan fitnah Fandi..! Tega-teganya kamu mengatakan ini bukanlah anak kandung mu..! Aku tidak pernah berselingkuh dan ini adalah anak kandung mu..! kamu jangan asal menuduh Fandy..!"


Ucap Carolina dengan emosi.


"Aku mempunyai buktinya."


Ucap Fandy. Carolina pun tertawa.


"Fandy...Fandy.. kamu ini ternyata sangat cemburuan ya. Aku dan Alex tidak mempunyai hubungan apa-apa. Aku bertemu dengannya, hanya sekedar silaturahmi. Foto-foto itu tidak cukup menjadi bukti perselingkuhan..! Jadi kamu berhentilah menuduhku yang tidak-tidak."


Ucap Carolina membela diri.


"Cemburu? untuk apa aku cemburu denganmu? Aku tidak mempunyai perasaan cinta lagi kepadamu..!"


Ucap Fandy sambil tertawa.


"Sudah cukup hentikan..!"


Mommy menghentikan perdebatan mereka. Fandy dan Carolina pun terdiam.


"Apa kamu sudah gila Fandy? Tega-teganya kamu menuduh Carolina seperti itu"


Ucap Daddy sambil menahan sesak di dadanya.


"Aku tidak gila, dan aku sedang tidak bermain-main. Aku mempunyai bukti kuat bahwa wanita ini sudah berselingkuh di belakangku, dan hamil dengan lelaki lain."


Fandy mencoba meyakinkan kedua orangtuanya. Daddy menghela napasnya lalu menatap Fandy dan Carolina dengan seksama.


"Baiklah, apa bukti yang kamu punya?"


Tanya Daddy kepada Fandy. Fandy meraih ponselnya, lalu ia menghubungi bodyguardnya yang sudah stand by bersama Alex di halaman rumahnya.


"Bawa dia masuk."


Ucap Fandy melalui sambungan telepon. Tak lama kemudian dua bodyguard Fandy membawa Alex ke ruang tamu.


Carolina terkejut melihat kehadiran Alex di sana. Wajah Carolina memerah bibirnya dan badannya gemetar. Ia tidak menyangka Fandy membawa Alex untuk bertemu dengannya dan orang tua Fandy.


"Dia siapa?"


Tanya Daddy sambil menunjuk Alex.


"Dia adalah kekasih Carolina, Ayah dari bayi yang dikandung oleh Carolina."


Ucap Fandy. Sontak saja kedua orangtua Fandy terkejut dengan kata-kata Fandy.


Carolina menatap Alex dengan seksama, terlihat wanita itu sangat ketakutan.


"Kali ini, riwayatku benar-benar tamat..!"


Gumam Carolina.

__ADS_1


__ADS_2