
Dua tahun berlalu.
"Dari mana saja kamu..!"
Tanya Carolina kepada Alex yang baru saja pulang setelah dua minggu tidak pulang ke rumah.
"Bukan urusan mu."
Ucap Alex dengan cuek, lalu ia masuk kedalam kamar dan merebahkan dirinya di atas ranjang.
"Kamu tahu tidak, tidak ada uang untuk belanja..! anak mu butuh susu..! aku tidak bisa bekerja bila harus membawa anak..!"
Ucap Carolina, kesal.
"Heh..aku tidak mau tahu, bagaimana caranya kamu mau kerja bawa anak kek, tidak kek, mau ada susu atau tidak, kamu usaha dong..! Kan kamu yang menginginkan anak itu..!"
Ucap Alex, kesal.
"Alex..! kamu yang membuka semua nya sehingga aku di ceraikan oleh Fandy..! kamu tahu, bila kamu tidak membuka mulut mu yang busuk itu, semua ini tidak akan terjadi..! dan anak ku akan terjamin hidup nya. Fandy konglomerat, sedangkan kamu melarat..!"
Alex menatap Carolina dengan marah. Lalu ia beranjak dari ranjang nya, dan menghampiri Carolina.
"Apa kamu bilang..?"
PLAKKKKKK...!
BUGGGGGGGG..!
Alex menampar dan memukuli Carolina.
Carolina pun terjatuh di lantai. Ia menatap Alex dengan tajam.
"Kamu melarat..! aku menyesal menikahi mu dan punya anak dari mu..!"
Ucap ucap Carolina.
"Kurang ajar kamu ya..!"
PLAKKKKK..!
DUGGGGGGGG..!
Alex memukuli Carolina lagi, hingga Carolina terbaring di lantai. Anak mereka pun menangis menyaksikan Papa nya memukuli Mama nya.
Carolina meringkuk di atas lantai. Ia menangis dan menahan rasa sakit di wajah dan perut nya.
"Bawa anak mu keluar, Aku mau tidur..!"
Ucap Alex. Dengan sekuat tenaga Carolina pun berdiri dan membawa anaknya keluar dari kamar. Carolina pun menangis, ia tidak punya siapa-siapa untuk mengadukan nasib nya. Saat ini hanya Alex dan anak mereka yang ia punya.
Setiap Alex marah, Alex selalu memukuli dirinya. Sikap Alex sangat berbeda dengan Fandy. Carolina menyesali segala perbuatannya. Kini ia terjebak dengan hubungan yang toxic.
Ia menatap anak laki-lakinya yang belum genap berusia dua tahun. Entah kemana ia harus membawa Nathan, anak nya.
Carolina kini tinggal di rumah kontrakan kecil bersama Alex dan anaknya. Saat ini, Carolina bekerja sebagai karyawan biasa. Sedangkan Alex, tidak pernah mau bekerja. Lelaki itu benar-benar parasit.
Jangankan memikirkan Carolina, istri nya. Memikirkan Nathan pun tidak. Carolina pun berpikir untuk pergi dari hidup Alex, ia sudah tidak tahan lagi. Selain tidak mau bekerja, Alex selalu meminta uang kepada Carolina. Uang yang diberikan oleh Carolina habis begitu saja untuk minum dan perempuan.
....
__ADS_1
Raline memakai toga nya, hari ini adalah hari kelulusan nya dari kuliah pascasarjana yang ia ambil di Kanada. Raline Fandy dan Rafa, berpose di depan kamera. setelah itu Raline pun berpose bersama Papa dan Mama nya.
Fandy menatap Raline dengan bangga. Lalu ia mengecup lembut kening istrinya.
"Selamat ya sayang."
Ucap Fandy kepada Raline. Raline tersenyum dengan manis, ia mengangguk lalu memeluk tubuh Fandy.
"Awas..angan peyuk peyuk, ini Papa na aku..!"
Ucap Rafa yang baru berusia dua tahun, merasa cemburu melihat Raline memeluk Fandy.
"Oh sayang, sini jagoan nya Papa."
Fandy melepaskan pelukannya dari Raline lalu mengangkat tubuh mungil Rafa. Raline cemberut melihat Rafa bersama Fandy.
"Mama gak ada yang sayang, lebih baik Mama pergi sama Oma dan opa saja."
Ucap Raline, masih dengan cemberut.
"Mama, angan malah..!"
Ucap Rafa.
"Habis nya Mama gak ada yang sayang..!"
Raline berakting seakan sedang menangis.
"Cup cup cup Mama. angan angis."
Rafa memeluk Raline dengan kedua tangan mungil nya. Raline pun tersenyum dan menjulurkan lidah nya kepada Fandy. Fandy hanya tertawa geli melihat tingkah anak dan istrinya.
Tanya Fandy saat mereka sedang berdua berjalan menuju mobil. Sedangkan Rafa dan kedua orangtua Raline berjalan di belakang mereka.
"Bulan madu? kemana?"
Tanya Raline sambil tersenyum malu.
"Korea."
Ucap Fandy. Mata Raline pun membulat, dan menatap Fandy dengan seksama.
"Serius?"
Ucap Raline dengan antusias. Fandy mengangguk kan kepalanya.
"Dulu kan namanya bukan bulan madu, tetapi pendekatan."
Bisik Fandy. Raline pun tertawa geli.
"Kamu kan pernah punya cita-cita ingin bulan madu di Korea. Kali ini ayo kita wujudkan. Sebelum Rafa punya adik."
Sambung Fandy lagi. Raline menghentikan langkah nya, lalu ia menatap Fandy dengan tatapan haru.
"Terimakasih, di belahan bumi mana pun, asal bersama mu terasa indah bagiku. Terasa sangat romantis bagi ku."
Ucap Raline.
"Yakin?"
__ADS_1
Tanya Fandy memastikan ucapan Raline.
"Iya sayang."
Ucap Raline dengan mesra.
"Ya sudah, tidak jadi ke Korea kalau begitu. Soal nya dimana-mana romantis kan bagimu?"
Ucap Fandy. Wajah Raline pun langsung berubah kesal. Lalu ia memukul lengan Fandy dengan gemas.
"Kamu ini ya..! Aku tuh jadi gagal romantis. Aku gak mau tahu, pokok nya harus bulan madu ke Korea..!"
UCAP Raline, sambil menghentakkan kaki nya di atas rumput. Fandy tertawa melihat ekspresi istrinya yang seperti anak kecil.
"Kalah deh Rafa kalau kamu sedang seperti ini."
Goda Fandy.
"Ih.. nyebelin..!"
Raline melengos dan berjalan mendahului Fandy.
"Yah ngambek kan."
Ucap Fandy, lalu ia mengejar istri nya yang sedang berjalan dengan cepat menuju mobil mereka.
"Raline..! wait...!"
Raline terus berjalan tanpa menghiraukan Fandy.
"Raline...! Maukah kau menjadi istri ku selamanya?"
Ucap Fandy. Raline pun menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang. Ia melihat Fandy yang sedang bertekuk lutut dengan sebuah cincin yang indah di tangan nya. Raline terbelalak menatap Fandy.
"Raline, aku tidak pernah melamar mu seperti di film-film romantis, tetapi kali ini aku ingin melamar mu bukan untuk menikahi mu, tetapi untuk menjadi istri ku selama nya."
Ucap Fandy. Raline menatap Fandy dengan haru. Begitupun kedua orang tua Raline dan anak mereka, Rafa. Raline tersenyum, lalu mengangguk dengan pasti.
Fandy berdiri di hadapan Raline, lalu ia memakaikan cincin yang indah itu di jari manis Raline. Raline pun tersenyum bahagia. lalu memeluk Fandy dengan erat.
"Jangan pernah pergi lagi dari ku."
Bisik Fandy. Raline pun melepaskan pelukan nya dan menatap manik mata Fandy lekat-lekat. Lalu ia mencium bibir Fandy dengan lembut. lalu ia pun kembali menatap wajah Fandy.
"Aku tidak akan pergi lagi dari mu. Aku ingin selamanya bersama mu."
Ucap nya. Fandy tersenyum sumringah, lalu ia mengeluarkan dua buah tiket dan memberikan nya kepada Raline.
"kalau begitu, selamat nyonya Fandy. Anda mendapatkan tiket bulan madu ke Korea bersama suami anda yang tampan ini."
Ucap Fandy. Raline pun berteriak kegirangan lalu ia kembali memeluk tubuh Fandy dengan erat.
"Terima jasa menitipkan anak, hubungi 081xxxxxxxxx."
Ucap Papanya Raline, sambil menyebutkan nomor ponselnya sendiri. Raline dan Fandy pun tersadar, bila ada Mama dan Papa yang melihat tingkah mereka dari tadi.
Raline dan Fandy pun saling berpandangan, lalu mereka tidak kuasa menahan tawa.
"Bersyukurlah bila kita menemukan seseorang yang tepat di dalam hidup kita."
__ADS_1
Fandy dan Raline. :)