Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
22# Rasa bersalah


__ADS_3

Malam itu Fandy, Carolina dan Raline makan bersama satu meja di ruang makan. Carolina terus menerus memperhatikan Raline, walaupun sebenarnya Raline merasa risih, tetapi ia selalu berusaha untuk bersikap seperti biasanya.


Tetapi tidak bagi Fandy, lelaki itu terus merasa tidak enak pada Raline. Ia pun bersikap serba salah saat Raline duduk di depannya. Sedangkan Carolina duduk persis di samping dirinya.


Carolina selalu bersikap mesra kepada Fandy saat mereka makan bersama, bahkan sikap Carolina terkesan sangat berlebihan di mata Raline.


"Aduh Sayang hati-hati dong.."


Ucap Carolina sambil mengelap sisa makanan di bibir Fandy dengan tissue di tangannya. Fandy hanya tersenyum canggung saat Carolina memperlakukannya terlalu berlebihan.


"Sudah biar aku sendiri saja"


Ucap Fandy di saat Carolina terus mencoba untuk mengelap sisa makanan di bibirnya.


"Tidak apa-apa Biar aku saja sayang"


Ucap Carolina.


Raline buru-buru menghabiskan makan malamnya, lalu ia pun beranjak dari kursinya.


"Mau kemana kamu Raline?"


Tanya Carolina kepada orang Raline.


"Kembali ke kamar, aku mengantuk"


Jawab Raline.


"Tetapi kita belum sempat ngobrol-ngobrol loh"


Ucap Carolina sambil tersenyum kepada Raline.


"Aku besok harus ke kantor. Mungkin, sorenya kita baru bisa ngobrol-ngobrol"


Jawab Raline sambil tersenyum ramah.


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu aku tunggu besok sore. Aku lama kok di Indonesia, dan aku akan tinggal di sini selama aku di Indonesia Mungkin sekitar 2 minggu. Jadi, kita akan mempunyai banyak waktu untuk bertukar cerita"


Ujar Carolina, Raline pun hanya mengangguk lalu meninggalkan mereka berdua di ruang makan.


Raline menutup pintu kamarnya, lalu ia bersandar di daun pintu kamar tersebut.


Ia menghela napasnya lalu ia bergegas menuju ranjang dan merebahkan dirinya di atas ranjang.


Tidak terasa air matanya mengalir dan ia pun merasa bingung mengapa ia menangis.


"Mengapa aku merasa sedang dikhianati ya?"


gumamnya.


Lalu Raline berusaha memejamkan matanya. Tetapi, ia tidak bisa terlelap. Pikirannya tentang Fandi dan Carolina terus menari-nari, hingga akhirnya ia kembali beranjak dari ranjangnya. Ia hanya duduk terdiam dan terpaku.


Fandy bergegas ke kamarnya diikuti oleh Carolina, mereka sudah terbiasa tidur sekamar selayaknya suami istri. Selama mereka menjalin kasih, Mereka pun sudah terbiasa berhubungan suami istri.


Di kamar, Carolina memeluk pinggang Fandy dari belakang. Lalu menyandarkan kepalanya di punggung lelaki itu.


"Sayang, Kamu kangen nggak sama aku"


Tanya Carolina. Fandy membalikkan badannya lalu menatap Carolina.


"Ya, kangen"


Jawabnya singkat.


"Sepertinya aku melihat kamu kali ini berubah ya sayang"


"Berubah bagaimana"

__ADS_1


Tanya Fandi dengan wajah yang datar.


"Entah mengapa aku merasa kamu berubah dan sikapmu tidak seperti biasanya kepadaku"


Ucap Carolina.


"Jangan aneh-aneh lah"


Jawab Fandy lalu melepaskan tangan Carolina yang sedang melingkar di pinggangnya.


"Tuh kan kamu berubah"


Ucap Carolina sambil cemberut.


"Aku tuh enggak berubah Sayang, sudah ah... aku malas berdebat Ayo kita tidur"


Ajak Fandy, lalu ia merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Kamu tidak ingin kita melakukannya?"


Tanya Carolina sambil menatap Fandy dengan tatapan bertanya-tanya.


"Aku sedang capek, aku butuh tidur"


Jawab Fandy, lalu ia memejamkan matanya.


"Kamu berubah..! apa Karena Wanita itu makanya kamu berubah?"


Ucap Carolina sambil menatap Fandy dengan tajam.


"Jangan sembarangan menuduh. Seperti yang kamu lihat, aku dan dia tidak punya hubungan apa-apa"


"Lalu mengapa kamu berubah? Apa kamu sudah punya wanita lain?"


Tanya Carolina yang sudah mulai terlihat emosi. Fandy pun beranjak dari ranjang lalu menghampiri Carolina dan memeluk tubuh indah gadis itu.


"Aku tidak punya wanita lain"


"Buktinya apa?"


Tanya Carolina dengan sinis.


Fandy mengecup lembut bibir Carolina, lalu membopong tubuh gadis itu dan menaruhnya di atas ranjang. Pipi Carolina pun bersemu merah saat Fandy memperlakukannya begitu romantis.


Fandy pun mulai mencumbu Carolina. Ia ******* lembut bibir sexy Carolina dan mulai menjamah tubuh gadis itu. Carolina pun tersenyum manja, lalu ia membalas perlakuan Fandy terhadap dirinya.


Tiba-tiba saja Fandy menghentikan aktivitasnya. Dengan nafas tersengal, ia menatap Carolina yang posisinya sudah di bawah tubuhnya.


"tidak aku tidak bisa melakukannya"


Gumam Fandy.


"Honey... kok kamu berhenti? Kenapa?"


Tanya Carolina.


"Maaf, tiba-tiba aku ingat ada yang harus aku selesaikan di ruang kerjaku"


Ucap Fandy, lalu bergegas meninggalkan Carolina yang masih tak percaya dengan sikap Fandy barusan.


Fandy meninggalkan kamar, lalu ia bergegas menuju ruang kerjanya. Fandy mengunci pintu ruang kerjanya lalu ia terduduk di sofa dan termenung. Entah mengapa Fandy merasa bersalah kepada Raline, saat ia mencumbui Carolina.


Perasaannya tidak lagi seperti dulu terhadap Carolina. Dahulu ia merasa tidak ada beban apa-apa saat bermesraan dengan Carolina. Tetapi kini, ia merasa dirinya adalah seorang suami dari gadis bernama Raline. Perasaan itu begitu kuat, sehingga Ia tidak mampu melakukannya kepada Carolina.


..


Carolina masih termenung di atas ranjang, ia tidak habis pikir mengapa Fandy begitu dingin kepadanya. Ia merasa tidak terima dengan sikap Fandy yang seperti itu kepada dirinya. Lalu ia bergegas menyusul Fandy ke ruang kerja lelaki itu.

__ADS_1


Sesampainya Ia di depan pintu ruang kerja Fandy, ia berusaha untuk membuka pintu, tetapi pintu ruangan itu terkunci. Carolina pun hanya bisa terdiam menahan emosinya, lalu ia beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut.


...


Raline bergegas ke dapur untuk membuat minuman yang bisa membuatnya sedikit merasa tenang.


Saat ia melintasi ruang tamu, ia melihat Carolina yang sedang duduk sendirian dengan wajah yang kusut.


"Kok Carolina di luar ya bukannya dia sedang bermesraan dengan Fandy..?"


Batin Raline, sambil mencebikkan bibirnya saat membayangkan Fandy dan Carolina seharusnya sedang bermesraan.


Rupanya Carolina menyadari kehadiran Raline, Ia pun memanggil Raline untuk duduk bersamanya. Dengan malas Raline menghampiri gadis yang terlihat sedang murung itu.


"Kamu belum tidur?"


Tanya Carolina.


"Tiba-tiba tidak bisa tidur"


Jawab Raline, lalu duduk disamping gadis itu.


"Kamu sendiri kenapa belum tidur?"


Tanya Raline penasaran. Carolina hanya tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku mau membuat minuman kamu mau?"


Tanya Raline.


"Boleh"


Jawab Carolina sambil tersenyum simpul. Raline pun beranjak dari duduknya lalu membuatkan dua gelas minuman untuk dirinya dan Carolina. setelah itu ia pun beranjak kembali ke ruang tamu.


"Terimakasih"


Ucap Carolina sambil menyambut segelas kopi dari tangan Raline. Raline hanya mengangguk lalu kembali duduk di samping Carolina.


Ia sungguh tidak mengerti mengapa Carolina tidak menemani Fandy malam ini. Ingin bertanya pun, ia merasa segan kepada gadis itu.


"Menurutmu Fandy Seperti apa?


Tanya Carolina. Raline pun merasa bingung akan menjawab apa, ia takut sekali bila kata-katanya akan melukai perasaan Carolina.


"Aku tidak begitu akrab dengan dia, jadi aku tidak tahu"


Jawab Raline, Carolina lalu menatap mata Raline untuk mencari celah kebohongan di sana. Ia tersenyum dan meraih gelas kopinya lalu menyeruputnya dengan perlahan.


"Bagaimana dengan bulan madu kalian?"


Tanya Carolina.


"Biasa-biasa saja, tidak terjadi apa-apa dan aku sangat menikmatinya karena itu pertama kalinya aku ke Korea"


"kalian sekamar?"


Tanya Carolina lagi.


Jantung Raline mulai berdetak kencang, lalu ia mencoba tersenyum untuk mengusir rasa canggung nya.


"Kita tidur di kamar yang berbeda. Andaikan satu kamar, kita tidur terpisah aku di sofa sedangkan Fandi ada di ranjang"


Jelas Raline. Carolina pun tersenyum puas dengan jawaban Raline.


Malam itu mereka membicarakan banyak hal, Mulai dari pekerjaan sampai hidup yang mereka jalani.


Malam pun semakin larut, akhirnya Raline undur diri untuk kembali ke kamarnya, karena ia harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali.

__ADS_1


Sebenarnya Raline sangat ingin bertanya-tanya tentang Carolina dan Fandy, tetapi ia takut sekali bila Carolina menganggap dirinya lancang. Sedangkan Carolina bukanlah temannya, melainkan Carolina adalah sosok orang yang membuat Fandy menikahi dirinya.


Raline pun memejamkan matanya hingga ia tertidur dengan lelap.


__ADS_2