
Sebulan telah berlalu, kehidupan Fandy pun semakin berantakan. Ia sudah tidak mau pergi ke kantornya, bahkan terkadang ia tidak mau keluar dari ruang kerja nya. Ruang kerja nya sudah seperti kamar baginya. Ia terus mengurung dirinya di ruangan itu.
Hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk kedalam kamarnya. Yaitu asisten nya yang mengantarkan minuman keras dan makanan untuk Fandy.
Perusahaan di jalankan oleh asisten Fandy. Mommy dan Daddy pun merasa putus asa melihat kelakuan Fandy. Mommy terpaksa mengganti kan Fandy sesekali di kantor mereka. Bila di biarkan, sudah pasti usaha keluarga mereka akan bangkrut dan jatuh miskin.
Mommy di bantu oleh Carolina menjalankan perusahaan untuk sementara waktu. Siang itu Mommy dan Carolina sedang makan siang bersama di salah satu restoran mewah saat mereka break dari kantor.
"Hoek...Hoek"
Carolina menahan mual dengan menutup mulut nya lalu ia pergi ke toilet restoran itu dengan terburu-buru.
"Carolina kenapa ya?"
Gumam Mommy saat melihat Carolina pergi ke toilet dengan terburu-buru.
Carolina memuntahkan isi lambungnya kedalam closet. Keringat bercucuran di dahinya. Setelah mual nya agak reda, Carolina membersihkan bibirnya dan berdiri dengan tegak. Ia tersenyum dan membuka aplikasi pencatat masa suburnya. Ia pun terbelalak saat mengetahui dirinya terlambat haid sudah tiga hari lamanya. Ia pun langsung keluar dari toilet dan menghampiri Mommy yang menunggu nya tanpa mencicipi hidangan nya sama sekali.
"Kamu kenapa?"
Tanya Mommy dengan khawatir.
"Mom, sepertinya aku hamil"
Ucap Carolina dengan mata yang berbinar-binar.
"Hamil?"
Tanya Mommy tak percaya.
"Iya Mom..!"
Ucap Carolina, berusaha meyakinkan Mommy.
"Apakah Fandy pernah menyentuh mu?"
Pertanyaan Mommy membuat Carolina terdiam beberapa saat. Mommy pun menatap menantu nya itu dengan tatapan yang curiga.
"Mom.. apakah harus aku ceritakan bagaimana Fandy menyentuh ku?"
Ucap Carolina dengan bibir yang bergetar menahan kesal. Mommy pun terdiam dan menundukkan pandangannya.
"Maaf kan Mommy, Mommy hanya merasa surprise saja. Kalau begitu ayo kita ke dokter kandungan"
Ucap Mommy dengan bersemangat. Carolina pun tersenyum lebar. Ia mengambil tas nya dan meninggalkan hidangan yang belum mereka sentuh. Setelah membayar tagihan di restoran itu, mereka pun pergi ke dokter kandungan.
..
Fandy menatap Foto Raline yang sengaja ia cetak dengan besar lalu menggantungnya di ruang kerja nya. Ia terus tersenyum sambil meminum minuman keras nya.
__ADS_1
"Kamu apa kabar sayang?"
Ucap nya.
"Apakah kamu mengingat ku sayang?"
Fandy beranjak dari duduk nya lalu menghampiri Foto Raline yang tersangkut di dinding. Fandy memeluk Foto Raline lalu ia mencium nya.
"Aku rindu"
Ucap nya lagi.
"Aku gila karena mu Raline...!!!!!!"
Fandy melempar botol minuman nya yang sudah kosong ke arah pintu ruang kerjanya. Botol itu pun pecah dan berserakan di atas lantai.
"Kenapa kamu pergi ke luar Negeri..!!!"
Ucap nya sambil menangis tersedu-sedu.
"Kembali Raline..!!! kamu dimana..! biar aku yang kesana..! aku ingin bersamamu..!"
Fandy terus meracau.
Tok....tok...tok..!
Tanya Fatma sambil mengetuk pintu ruang kerja Fandy.
"Tinggalkan saya..!"
Fandy berteriak mengusir Fatma. Fatma hanya bisa menghela nafas dengan berat lalu ia beranjak kembali ke dapur. Ia merasa sedih, sejak kepergian Raline ia pun merasa kehilangan Raline.
Raline adalah majikan yang terbaik baginya. Karena Raline memperlakukan dirinya seperti seorang sahabat. Sangat berbeda dengan Carolina yang selalu memperlakukan dirinya rendah. Majikan baru nya itu seperti tidak mempunyai perikemanusiaan. Carolina acap kali berkata-kata kasar kepada Fatma, bahkan seringkali menghina Fatma hanya seorang pembantu rendahan.
"Semoga kalian dipersatukan lagi ya tuan Fandy dan nyonya Raline"
Gumam Fatma.
...
"Bagaimana dok? apakah menantu saya hamil?"
Ucap Mommy tidak sabar.
"Dilihat dari sini, ini kantung kehamilan ya Bu. Janin memang belum terlihat, tetapi bisa di pastikan bila menantu Ibu memang sedang mengandung"
Ucap dokter kandungan sambil menaruh alat USG nya kembali. Carolina di bantu seorang perawat untuk membersihkan gel yang di gunakan untuk USG di perut nya. Carolina tersenyum bahagia menatap Mommy yang terlihat sangat bahagia.
"Jadi, Ibu Carolina harus banyak beristirahat. Makan yang banyak dan di jaga kandungannya dengan baik ya Ibu"
__ADS_1
Ucap dokter itu sambil memberikan secarik kertas bertuliskan resep vitamin untuk Carolina.
"Terimakasih dokter"
Ucap Carolina, lalu ia menyambut kertas resep dengan bersemangat.
"Mommy aku hamil...!"
Carolina memeluk Mommy dengan girang. Mommy pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Ayo kita pulang, kabar ini harus kita beritahukan segera kepada Daddy dan Fandy..!"
Ucap Mommy dengan antusias.
"Kita tebus resepnya dulu ya Mommy"
"Oh iya, Mommy hampir lupa"
Ucap mommy sambil tertawa.
Mereka pun menebus resep tersebut dan lalu pergi meninggalkan rumah sakit itu dan segera menuju rumah.
...
Raline, baru saja pulang dari kampus nya. Ia terduduk lemas di atas ranjangnya, di bawah perutnya terasa sangat sakit hingga ia meringis menahan rasa sakit itu. Akhir-akhir ini Raline memang kurang beristirahat, karena segala sesuatunya ia kerjakan sendiri termasuk mengurus kepindahannya dan kuliahnya yang baru saja ia mulai.
Raline merubahkan kan tubuhnya di atas ranjang dan meluruskan kakinya agar lebih relax. Ia pun mulai mengusap perutnya dengan lembut. perutnya sudah mulai terlihat sedikit membuncit. Lalu ia mulai menyapa Fandy junior yang sedang tertidur nyaman di dalam rahim nya.
"Hello sayang, maaf kan Mama ya.. Mama mengajak kamu capek-capek beberapa minggu belakangan ini. Bertahanlah sayang..."
Ucap Raline sambil tersenyum menatap perut nya.
"Papa mu sedang apa ya saat ini? Apakah ia merindukan Mama ya Junior?"
Raline tersenyum kecut mengingat semua yang terjadi. Lalu ia mulai menangis dan meringkuk di ranjangnya.
"Tidak mungkin Papamu masih memikirkan Mama, Junior. Mungkin juga saat ini Papa sudah mempunyai calon anak nya bersama Carolina. Mama bahagia bila memang benar adanya"
Ucap Raline. Tetapi apa yang terucap dari bibirnya, tidak lah sesuai dengan fakta. Raline menangis tersedu-sedu di atas ranjangnya. Bila saat ini wanita yang hamil sedang di manja oleh suami nya, tidak dengan Raline yang menyembunyikan kehamilan nya dari Fandy.
Raline benar-benar merasa putus asa saat ini, tetapi ia harus menerima konsekuensi atas keputusan yang ia buat. Ia rela menderita demi apa mau nya kedua orang tua Fandy.
Raline percaya bila Fandy benar-benar mencintai dirinya. Tetapi, bersama dengan lelaki itu adalah hal yang mustahil setelah apa yang ia lakukan terhadap keluarga itu.
Raline terus menangis memegang perut nya yang terasa ngilu.
"Bertahan lah nak, bertahan lah"
Bisik nya, lalu ia tertidur dalam tangisan nya di atas ranjang itu.
__ADS_1