Kapan Nikah?

Kapan Nikah?
30# Malam ini


__ADS_3

Carolina membanting ponselnya di atas ranjang. Ia menggigit ujung kukunya lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar.


"Kemana sih dia..!!!!"


Ucapnya geram.


Sejak dari sore tadi, Fandy tidak kunjung mengangkat panggilan telepon dari Carolina. Hal itu membuat Carolina kesal, dan murka.


"Apa dia sedang bersama dengan Raline?"


Hati Carolina bertanya-tanya.


"Dasar Raline pelakor...!"


Hardik nya.


...


Hujan pun mereda, hanya menyisakan rinai halus yang menyentuh siapa saja yang berdiri beratap kan langit.


Fandy menggandeng tangan Raline untuk mengikutinya menuju parkiran mobil.


Sepanjang perjalanan pulang, mereka hanya saling diam tampa sepatah kata pun. Sesekali Fandy melirik Raline, Begitu pun Raline. Terkadang mata mereka bertemu, lalu mereka sama-sama tersenyum canggung.


Mereka pulang dalam keadaan baju yang lembab. Mamanya Raline membukakan pintu rumah saat Raline beberapa kali memencet tombol bell di samping pintu.


Mamanya Raline menatap dua insan yang sedang kasmaran itu dengan senyuman penuh arti.


"Buruan sana ganti baju"


Ucap Mamanya Raline sambil menutup pintu rumah. Raline dan Fandy hanya tersenyum malu saat melewati Mamanya Raline.


Setibanya di kamar, Raline meletakan tas nya di atas ranjang lalu mengambil tissue untuk mengelap sisa-sisa air hujan yang membasahi tas nya. Raline melirik Fandy yang hanya berdiri mematung di samping meja riasnya.


"Kenapa? kok tidak ganti baju?"


Tanya Raline sambil terus mengusap sisi luar tas nya.


"Ganti pakai apa? aku tidak membawa baju"


Ucap Fandy sambil mengangkat kedua bahunya.


"Oh iya.., mau aku pinjamkan baju Papa saja?"


Tanya Raline lagi.


"Tidak usah, aku sungkan"


Jawab Fandy sambil membuka kemeja nya yang lembab, lalu menggantung nya di gantungan pakaian yang menempel di daun pintu kamar Raline.


Raline pun mengangkat kedua alisnya,


"Celananya?" Tanya Raline.


"Pakai saja, gak usah di buka"


Jawab Fandy yang mencoba merebahkan dirinya di atas ranjang.


"E...e...e...e... itu nanti ranjang nya basah dong"

__ADS_1


Raline mencegah Fandy.


"Oh iya ya.."


Jawab Fandy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah, buka saja ah"


Ucap Fandy sambil membuka sabuknya.


"Aaaaaaaaaaaaaaa.....!!!!!"


Raline menjerit sambil menutup matanya.


"Kenapa?"


Tanya fandy dengan polos.


"Maluuuuuu... jangan buka ah.. kamu ini.."


Raline masih terus menutupi kedua matanya.


Fandy tersenyum melihat tingkah istrinya yang belum pernah sekalipun ia sentuh. Lalu ia melangkah mendekati Raline, dan berbisik di telinga Raline.


"Biar tidak malu, Ayo kita biasakan"


Raline membuka matanya dengan perlahan, lalu menatap wajah Fandy yang begitu dekat dengan wajahnya.


Wangi parfum Fandy masih tercium samar di tubuh lelaki itu, dadanya yang bidang dan perutnya yang terlihat seperti roti sobek pun membuat Raline menelan saliva nya.


"Bagaimana?"


"Kamu pakai sarung saja ya, biar aku ambilkan"


Ucap Raline, lalu gadis itu beranjak dari hadapan Fandy dengan cepat.


Fandy menahan tangan Raline, lalu menariknya hingga tubuh Raline merapat ke tubuhnya.


Fandy membelai lembut rambut Raline yang basah, jari jemari Fandy pun turun ke dahi Raline dan mengusap kedua alis Raline yang terukir rapih. Lalu, jari jemari nya terus menyusuri wajah Raline yang cantik.


Raline gemetar saat Fandy menurunkan jemarinya di sekitar leher Raline. Lalu Fandy menyentuh tengkuk Raline. Gadis itu pun menutup kedua matanya, jantung nya pun berdebar tak beraturan.


Fandy mulai mengecup bibir Raline. Tangan Raline pun kini sudah berada di pinggang Fandy. Entah mengapa kecupan lelaki itu mulai menjadi candu baginya.


Bibir Fandy mulai menyusuri leher jenjang Raline, Raline pun bernapas tersengal saat sentuhan bibir Fandy berada di lehernya.


Fandy kembali menatap wajah cantik Raline, seakan ia meminta izin untuk menyentuh istrinya lebih jauh lagi.


Raline hanya tersenyum malu. Dan tanpa basa-basi lagi, Fandy menggendong tubuh Raline dan meletakkan nya di ranjang.


Fandy semakin liar, ia melucuti samua yang menempel di tubuh Raline. Ia pun mulai menjelajahi tubuh istrinya, lalu melepaskan hasrat nya kepada wanita yang sudah membuat nya jatuh cinta itu.


Malam itu, malam pertama bagi mereka melakukan nya, setelah menikah lebih dari tiga bulan lamanya.


Fandy menjatuhkan tubuh nya di samping Raline, setelah ia dan Raline berhasil mencapai puncak nya. Peluh membasahi sekujur tubuh Fandy, sedangkan Raline terlihat sedang menahan nyeri di sekitar bawah perut nya.


"Kamu, baru pertama kali?"


Tanya Fandy. Sebenarnya Fandy pasti sudah mengetahui bedanya, tetapi ia hanya ingin memastikan apa yang ia rasa dengan apa jawaban Raline.

__ADS_1


Raline hanya mengangguk pelan dan berusaha untuk turun dari ranjang.


Sekilas Fandy melihat ceceran darah di ranjang, ia pun tertegun.


Raline yang melihat ceceran darah itu pun menjadi pusing lalu tubuhnya terbanting di atas ranjang.


"Line...Line..." Fandy menepuk lembut pipi istri nya.


Tetapi Raline sudah tak sadarkan diri.


..


Satu jam berlalu, Fandy menatap wajah Raline yang belum sadarkan diri. Ia membelai lembut rambut dan mengecup kening Raline. Lalu Fandy pun mulai tersenyum tipis, ia tidak menyangka sama sekali bila istrinya itu seorang perawan.


Mengingat pertemuan pertamanya dengan Raline di club malam, kesan itu sangat jauh dari Raline. Tetapi Fandy salah, dan ia pun mulai merasa sangat beruntung menjadi yang pertama bagi Raline.


..


Raline membuka matanya, dan mencoba menentang sinar matahari yang menyeruak masuk kedalam kamarnya dari jendela yang sudah di buka oleh Fandy sejak pagi-pagi sekali.


Raline beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi. Setelah ia mandi, ia pun turun ke bawah menuju ruang makan. Di sana ia melihat Fandy yang sedang asik berbincang dengan Papanya Raline, ia pun tersenyum saat melihat menantu dan ayah mertua itu tertawa dalam perbincangan mereka.


"Gimana sih kamu Line..! suami mu loh sudah terlebih dahulu bangun nya dari pada kamu"


Mamanya Raline mulai mengomel seperti layak nya orangtua pada umum nya.


"Ma, biar saja. Raline lelah"


Ucap Fandy, Mamanya Raline pun langsung menghentikan omelan nya.


Fandy tersenyum menatap Raline yang terlihat salah tingkah pada pagi itu.


Hari ini adalah hari minggu, Fandy dan Raline kembali ke kamar mereka setelah makan bersama bersama orangtua Raline.


"Aku mau pindah kesini aja ya"


Ucap Fandy saat dirinya baru saja menutup pintu kamar Raline.


"Kenapa?"


Tanya Raline penasaran.


"Di sini sangat terasa kekeluargaan nya, sedangkan disana walaupun rumah nya besar tetapi terasa kosong"


Jawab Fandy, Lalu ia duduk di tepi ranjang.


"Apa Carolina masih disana?"


Tanya Raline dengan suara yang bergetar.


Fandy hanya mengangguk, sebenarnya selain ia rindu kepada Raline, ia juga sedang menghindari Carolina. makanya dari itu ia tidak ingin pulang ke rumah nya.


Ting...Ting...Ting...!


Ponsel Fandy berdering, lalu dengan malas ia mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.


"Ya..?"


"Mommy ingin kamu segera menikah dengan Carolina, dan bercerai dengan Raline. Mommy tidak akan akan pernah lagi mau kau bohongi. Maka dari itu, nikahi kekasih mu minggu depan. Semua sudah Mommy persiapkan untuk pernikahan kalian. No penolakan apa pun alasan mu, ingat kesehatan Daddy..!"

__ADS_1


Fandy hanya bisa tertegun setelah mendengar ucapan Mommy dari ujung sana.


__ADS_2