
Fandy berdiri dari duduknya, lalu ia menghampiri Raline dan memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
"Raline, Ya Allah..! Raline..Raline aku sangat merindukanmu Raline"
Ucap Fandy sambil menangis haru. Raline masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia hanya terdiam mematung saat tubuhnya dipeluk dengan erat oleh Fandy.
"Fa.. Fandy?"
Ucap Raline masih tak percaya. Fandy melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Raline dengan telapak tangannya.
"Iya ini aku sayang, ini aku Fandy. Aku sudah lama mencarimu"
Fandy menatap manik mata milik Raline, terlihat genangan air mata di pelupuk mata Raline.
"Fandy"
Ucap Raline, lalu ia memeluk Fandy dengan erat. Raline menangis di pelukan Fandy, ia tidak tahu lagi bagaimana cara melukiskan rasa rindunya kepada lelaki itu. Raline memeluk Fandy tanpa ingin melepaskan tubuh lelaki itu dari pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu Raline..!"
"Aku juga rindu Fandy"
Ucap Raline, sambil menangis tersedu-sedu.
Tiba-tiba saja, Junior menendang perut Mamanya hingga Fandy pun dapat merasakan tendangan anak nya saat ia mendekap Raline.
"Hei.."
Fandy tersenyum menatap perut buncit Raline. Fandy bertekuk lutut lalu meraba perut Raline yang bundar.
"Papa datang nak"
Bisiknya. Raline pun terdiam mendengar ucapan Fandy.
"Fa.. Fan, ini bukan anak mu"
Ucap nya dengan suara yang tercekat.
Sontak saja Fandy menatap Raline dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Maksud mu?"
Ucap Fandy dengan wajah yang serius.
"I.. ini bukan anak mu Fan"
Fandy terdiam sejenak, lalu ia duduk di bangku nya dengan sesak di dadanya.
"Ti.. tidak mungkin, itu pasti anak ku Line"
Ucap Fandy dengan napas yang memburu. Welas pun meninggalkan mereka karena ia tidak ingin membuat kedua nya merasa tidak nyaman.
"Aku pergi dulu"
Ucap Raline, lalu ia berusaha mengejar Welas yang sudah keluar dari cafe tersebut. Fandy pun tidak ingin kehilangan Raline, maka ia pun berusaha mengejar Raline dan membahas masalah kehamilan mantan istrinya itu.
"Line.. Line berhenti Line..!"
__ADS_1
Fandy menahan lengan Raline dari belakang. Mau tidak mau, Raline pun menghentikan langkah kakinya lalu menoleh kebelakang dan menatap lelaki yang ia cintai itu.
"Apalagi?"
Tanya Raline kepada Fandy.
"Itu anakku, tidak mungkin bila itu Bukan anakku"
Ucap Fandy. Raline pun terdiam lalu menundukkan pandangannya.
"Itu anakku kan Raline.? Tidak mungkin bila kamu secepat itu tidur dengan lelaki lain. Aku sangat mengenalmu bahkan malam pertama kita pun aku dapat merasakannya bila akulah yang pertama. Bila kamu wanita yang nakal, mungkin aku tidak pernah merasakan menjadi yang pertama. Aku yakin itu adalah anakku..!"
Raline hanya terdiam tanpa sepatah kata pun.
"Dia anakku kan Raline, jawab Raline..!"
Desak Fandy.
"Aku sangat percaya diri bila kamu masih sangat mencintai aku Raline. Hal itulah yang menuntun ku untuk mencarimu. Benar kan Raline? Coba kamu jujur, kita masih saling mencintai kan dan itu adalah anakku kan?"
Fandy meraih kedua bahu Raline. Ia memaksa Raline untuk menjawab semua pertanyaan darinya. Namun Raline tidak mampu mengatakan sepatah kata pun. Wanita itu hanya menangis pilu, lalu menenggelamkan wajahnya di dada Fandy.
Tanpa Raline menjawab pun Fandy tahu bahwa jawaban nya adalah benar bahwa Raline masih sangat mencintainya dan anak yang sedang Raline kandung itu adalah anak darinya. Fandy membalas pelukan Raline dengan erat lalu ia mencium kening Raline dengan lembut.
"Izinkan aku berada disampingmu saat ini dan selamanya"
Ucap Fandy kepada Raline. Mereka pun kembali masuk ke dalam cafe dan memesan beberapa menu untuk makan siang. Mereka duduk berdampingan, Fandy terus-menerus menggenggam tangan Raline dan sekali-kali ia pun mengecup lembut buku-buku tangan wanita itu.
Raline hanya tersenyum ragu saat Fandy memperlakukannya seperti itu. Fandy Junior terus-menerus menendang perut Mamanya. Sepertinya ia sedang mencari perhatian Papanya.
Fandy tampak sangat bahagia sekali bila melihat perut Raline yang bergerak karena tendangan Junior. Rasa bahagia itu tidak pernah ia rasakan dengan anak yang sedang dikandung oleh Carolina.
"Lihat saja Carolina, cepat atau lambat semua akan terkuak."
Gumam Fandy.
"Hmmmm, bagaimana kamu dengan Carolina?"
Tanya Raline saat mereka selesai makan bersama.
"Apakah ia sudah mengandung anak mu?"
Tanya Raline lagi dengan suara tercekat. Fandy menatap Raline dengan salah tingkah, lalu ia kembali menggenggam tangan Raline dengan lembut.
"Dia memang sedang hamil, tetapi aku curiga itu bukan anakku"
Ucap Fandy.
"Bagaimana bisa? bukankah kalian melakukannya?"
Tanya Raline menahan rasa sakit di hati nya. Fandy menundukkan pandangan nya. Lalu beberapa saat kemudian ia memberanikan diri untuk kembali menatap Raline.
"Selama kami menikah, aku hanya sekali menyentuhnya. Itupun saat aku mabuk dan membayangkan dirimu Raline."
Ucap Fandy sambil menatap kedua mata Raline. Raline mencoba tersenyum menahan rasa cemburunya.
"Maafkan aku, itu semua terjadi di luar kontrol ku"
__ADS_1
Ucap Fandy lagi.
Raline menghela nafasnya dengan berat, lalu ia menatap Fandy dan ia pun berusaha tersenyum.
"Walaupun kamu tidur dengannya setiap malam, aku mau bilang apa? ia adalah istrimu"
Ucap Raline, dengan suara yang tercekat.
"Aku sedang berkata jujur Raline, setiap malam aku tidur di ruang kerjaku"
Fandy mencoba meyakinkan Raline. Raline hanya tersenyum tipis, lalu ia kembali menatap wajah Fandy.
"Mengapa kamu tidak yakin bila itu adalah anakmu? Walaupun sekali saja kalian tidur bersama, tetap saja itu adalah anakmu"
Ucap Raline sambil melepaskan tangan nya dari genggaman tangan Fandy.
"Line, aku merasa itu bukan anak kandungku. Perasaan ini sangat berbeda saat aku melihat kamu yang sedang hamil dibandingkan dengan Caroline yang sedang hamil"
"Kontak batin antara Ayah dan anak tidak akan bisa dipungkiri, walaupun anaknya masih berada di dalam kandungan"
Sambung Fandy lagi. Raline terdiam menatap Fandy dengan iba.
"Memangnya kamu pernah melihat Carolina berselingkuh?"
Tanya Raline.
Fandy mengeluarkan ponselnya, lalu ia memperlihatkan foto-foto Carolina dengan lelaki lain kepada Raline.
"Ini baru bukti awal, Orang ku sedang mengikutinya."
Ucap Fandy, lalu ia kembali mengantongi ponselnya. Raline hanya menghela napasnya lalu ia tidak lagi ingin membahas tentang Carolina.
"Kamu menginap di mana?"
Tanya Raline kepada Fandy.
"Di hotel, satu jam dari sini. Bagaimana bila orangtuamu pulang saja. Biar aku saja yang menggantikan mereka di sini"
Ucap Fandy. Raline menatap Fandy dengan tak percaya.
"Kamu kok tahu ada orang tua ku disini?"
Tanya Raline penasaran.
"Apa sih yang tidak di ketahui oleh seorang Fandy Rusdiono?"
Ucap Fandy sambil tersenyum manis kepada Raline.
"Ih, kok bisa tahu? Coba jawab dengan jujur, kamu mengikuti kedua orangtuaku ya?"
Tanya Raline lagi. Fandy hanya tersenyum lalu mendekatkan pipinya ke wajah Raline.
"Mau tahu? cium dulu."
Ucap Fandy. Raline pun tersenyum lalu mendorong pelan pipi Fandy dengan telapak tangannya.
"Modus..!"
__ADS_1
Ucap Raline, lalu merekapun tertawa bersama.